Mejuah-Juah. Kalau kita mau melihat lebih secara terbuka dan tanpa emosi serta sentiment kesukuan namun dengan rasa tanggung jawab sebagai Kuta kemulihen yg harus diselamatkan dari bencana.
Dari jauh aku coba melihat beberapa hal yg berkaitan dengan hal diatas. 1. Judi Kalau di hitung berapa banyak uang Kalak Karo yang di bawa keluar oleh BUKAN Kalak karo. Prinsip aku, kalau bandarnya Kalak KAro, silakan saja kerena biar bagaimana pun mulih kang ia ku kuta, silanglangna MATE na lah gia me mulih kukuta. 2. Soal Nias Merambah Hutan....enda engggo i Milis. 3. Bandar Perambah Hutan...Seberapa banyak Uang di hasilkan oleh Cukong dalam menjual Hutan Karo tanpa reboisasi. Sebenarnya Pada prinsipnya Hutan harus di daya Gunakan untuk kesejahteraan masyarakat Karo, Bole di tebang tapi harus di reboisasi.Ada industri yg bisa melakukan ini, persoalannya adakah Modal Kita untuk membeli Industri ini dan memasarkan hasilnya.(saya pernah utarakan di milis ini-saya bekas karyawan Pabrik pengolahan Kayu) 4. Penanaman Jagung Hybrida secara besar2an...analisa aku ..ada scenario "agar Kalak Karo tergantung kepada sesuatu " dan juga penghancuran struktur kimia tanah di Tanah Karo. Jagung adalah sebagai "PH BASA" bila PH Basa dari tanah secara terus menerus di ambil maka tanah akan menjadi "PH ASAM" kalau tanah sudah menjadi asam...sangat berbahaya bagi manusia. 5. Cengkeh....Dulu tanah karo di kenal dengan cengkeh nya...namun...sekarang????? 6. Rimo Tanah KAro...... 7. Dll. Ini beberapa yg aku lihat. Namun sebagai Suku Bangsa yg ingin maju, kita tidak bole menutup diri dengan suku bangsa lain dalam arti yg bisa membangun kecerdasan dan keselamatan suku Karo. Disisi lain para "Pemain KARO" sudah seharus nya berfusi dan berfisi untuk kesejahteraan Karo, " Dari Karo Untuk Karo " Sekalian titipan untuk moderator...apakah ada forum untuk diskusi teknologi... 75% Listrik di tanah karo bisa di hemat dari Pengelolaan sumber daya alam tanah karo dengan Middle teknologi saja...aku usul untuk dibuka diskusi ini. Sentabi adi lit bahasa2 si la pas/tenteng si kutulisken. bujur Nayan-Batam E-I Inspector/Engineer --- MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Prinsip keadilan ndai. Saling mengakui, saling > menghaormati > ras saling menhargai, enggo mekatep si ulihulihi bas > milista > Ita ngulangi ka bas soal sekali enda. Kai kin jenda > siman akun. Enda > kapken perkutaan Karo, menghormati kalak Karo si > enggo nai nari. > Menghargai kai si enggo iergai kalak Karo sedekah > enda ije. > Kalak Karo menghormati hutannya selama ini, tidak > pernah 'berani' > membabatnya apalagi menanaminya dengan nilam. Tapi > pendatang dari > Nias tak urusan, langsung babat saja dan tanam nilam > sekehendaknya, > hutan yang sangat dihormati orang Karo sejak manusia > Karo disana. > > Enda jelas lalit saling menghormati, melanggar > keadilan > elementer, dasar perang etnis dimana saja di dunia. > Jutaan korban > manusia, korban penyembelihan anak-anak dan wanita, > hanya karena > pelanggaran elementer itu. Pikirkanlah itu hai orang > Nias dan pejabat > Karo maupun pejabat mumpung di Karo! (kepolisian, > kejaksaan dan > kehakiman). > MUG > > --- In [email protected], "pelangiharum" > <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > > Saya juga ingin menyampaikan pendapat terkait > dengan pemukiman > Nias di > > Tanah Karo. Saya setuju dengan pendapat Turang > Advent bahwa kita > harus > > bersikap terbuka terhadap pendatang dengan > meningkatkan kualitas > > penduduk asli. > > > > Kalak Karo sangat terbuka dengan penduduk daerah > lain, terbukti > dengan > > beragam komunitas yang beragam bisa ditemui di > Tanah Karo. Untuk > kasus > > Nias ini ada sesuatu yang unik. Unik maksudku, > keberadaan mereka > > benar-benar sudah mengganggu kenyamanan penduduk > sekitar termasuk > > keselamatan diri mereka. > > > > Selanjutnya, salah seorang penduduk di sekitar > Deleng Cengkeh > > mengatakan, bahwa mereka tidak bisa mengusir orang > Nias karena > mereka > > adalah juga orang Indonesia (bayangkan, pikiran > ini ada pada > petani yang > > SMPun tidak tamat) Kai jalan keluarnya, nina ka si > deban. Mereka > sepakat > > memberikan 2 buah kampung untuk didiami mereka > dengan syarat, > turun dari > > gunung dan jangan merambah lagi. Mereka tidak mau, > karena merasa > kuat > > punya backing hebat. Sementara, hujan sedikit saja > kampung mereka > > sudah kebanjiran, apa kita mau tunggu sampai > banjir bandang baru > itu > > menjadi persoalan? > > > > Bukan orang Karo saja, di beberapa negara Eropah > sentimen seperti > ini > > juga sedang menghebat karena terkait dengan > keamanan dan > keselamatan. > > Satu hal yang terlupakan oleh birokrat > kita adalah bagaimana > > saling menghargai dan menghormati. > > > > > > salam, > > ita > > > > Nb. Kondisi Deleng Cengkeh yang gundul boleh > dilihat di Sora Sirulo > > Edisi April 2008. Foto ini adalah dokumen LIRA > sewaktu melakukan > > investigasi di Deleng Cengkeh. > > > > > > > > --- In [email protected], Advent Tambun > <atambun@> wrote: > > > > > > Mejuah-juah Kila, > > > > > > Mungkin aku berpikiran agak berbeda dengan pola > pikirenndu ( > tentu > > dari tulisan-tulisan yang kam postingkan di jambur > kita ini), > > > Saya sendiri berpendapat bahwa masa depan semua > daerah adalah > sikap > > keterbukaannya menerima setiap pengaruh kebudayaan > mana pun dengan > > memberikan ruang gerak yang nyaman bagi setiap > pendatang. Setiap > daerah > > akan tetap bertahan, bukan dengan menolak > kedatangan pendatang, > tetapi > > dengan meningkatkan kwalitasnya. Jika ada tetangga > yang datang > merantau > > ke tanah karo untuk berusaha ( memperbaiki hidup), > bukankah kita > > seharusnya memberikan kesempatan kepada mereka? > Bukan kita juga > pernah > > menjadi pendatang di negeri orang? Bukankah > sejarah dunia ini > dibentuk > > oleh orang-orang yang mengembara? > > > > > > Ini pendapat pribadi saya saja Kila. > > > > > > mejuah-juah, > > > Advent Tambun > > > > > > > > > ----- Original Message ---- > > > From: MU Ginting gintingmu@ > > > To: [email protected] > > > Sent: Friday, April 4, 2008 7:59:22 PM > > > Subject: [tanahkaro] Re: Pemukiman Nias di Kab. > Karo Membawa > Masalah > > > > > > > > > > > > Bagi kita pertama harus melihat dari segi > kepentingan Karo > > > karena soal ini termasuk dalam upaya 'ngasak dan > lenyapkan' Karo > > > mengingat dari banyak pemikiran dari pengalaman > sejak kolonial: > > > > > > 1. pejabat mumpung di Karo selalu menggunakan > persinggahannya di > > > Karo cari duit/kekayaan sebelum pindah lagi ke > tempat mumpung > > > lainnya. > > > 2. menempatkan orang Nias disana sengaja, dari > segi cari duit > > > seperti kita lihat sekarang, atau politik ngasak > daerah Karo. > > > Hal seperti ini terlihat juga di NAD dimana > transmigran di > > > tempatkan di Alas dan Gayo, supaya ALA jadi > 'mini indonesia' > > > alias penduduk asli jadi tamu didaerahnya > sendiri. Apa Karo > > > mau dibikin juga jadi 'mini indonesia' seperti > Simalungun? > > > > > > MUG > > > > > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Redaksi > SoraSirulo > > > <sorasirulo_ redaksi@ ..> wrote > > > > Apa sebenarnya yang terjadi dengan berita ini? > (lihat berita > SIB > > > di bawah). Harian-harian Medan hanya > memberitakan peristiwa- > > > peristiwanya yang naik ke permukaan. Tapi, apa > sebenarnya yang > > > terjadi tetap masih samar. Mau tahu apa > sebenarnya yang terjadi > > > dengan ini semua dan apa pula tanggapan 3 dosen/ > peneliti senior > USU > > > tentang ini? Baca liputan Ita Apulina Tarigan di > Sora Sirulo > edisi > > > April 2008 yang berjudul "Pemukiman Nias di Kab. > Karo Membawa > === message truncated === ____________________________________________________________________________________ You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total Access, No Cost. http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text5.com
