Mejuah-juah permilis sirulo
Enda sitik nyimpang bas soal sumpah Sultan nari, tapi menyangkut
sumpah Gajah Mada ersura-sura naluken kerajaan Karo Haru.
Dalam sumpah palapanya (1336) Gajah Mada menyatakan bahwa dia tidak akan
berhenti puasa sebelum menaklukkan Nusantara, dimana disitu termasuk kerajaan
Karo bernama Haru (kerajaan Karo dipantai timur Sumatra).
Mengenai kerajaan Haru (sekitar Hamparan Perak) ini sudah banyak yang
menulis, akan tahun permulaan pendirian kerajaan ini masih belum diketahui
secara pasti, begitu juga besarnya dan luas daerahnya. Tetapi adanya kerajaan
Haru dan adanya Karo dipantai timur Sumatra sebagai permulaan manusia beradab
di daerah ini, saya kira sudah lebih meyakinkan, karena tidak mungkin ada etnis
lain datang duluan ke daerah ini. Bangsa lain bisa, dari luar yaitu Hindia
Belakang termasuk Indochina atau India Selatan dan bahkan China selatan, dan
ini semua yang juga kemungkinan besar asal usul bangsa Karo. Kerajaan Haru
mungkin lebih besar dari yang sudah diketahui sekarang, mengingat tanda-tanda
kekaroan di Aceh sendiri. Bahwa peradaban Karo bisa terkalahkan bukan hanya
militer, tetapi bersamaan waktu juga dari kecepatan pertambahan penduduk lain
(islam yang beristeri 4) Karo dengan jiwa raganya yang alamiah, cepat
terkalahkan dan terpinggirkan dari segi kwanitatas.
Dibawah ini saya ikutkan catatan dari Wikipedia. Istilah perang tanding
saya hubungkan dengan ceritra kuno orang tua Karo dengan istilah perang
kihing yaitu perang antar kampung ketika itu ditetapkan disebuah lapangan
tertentu dimana wanita dan anak-anak ikut jadi saksi dan sambil berdoa dan
berteriak supaya semua selamat ula lit sibangger-bangger. 'Bangger' disini
maksudnya jatuh korban atau terluka kenna parang atau tombak, banyak diantarany
pakai kuda (perang). Perang ini disetujui karena jalan damai sudah tak mungkin
persoalannya diselesaikan.
MUG
Eksistensi Kerajaan Haru-Karo Kerajaan Haru-Karo mulai menjadi kerajaan
besar di Sumatera, namun tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun
demikian, Brahma Putra, dalam bukunya "Karo dari Jaman ke Jaman" mengatakan
bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya
bernama "Pa Lagan". Menilik dari nama itu merupakan bahasa yang berasal dari
suku Karo. Mungkinkah pada masa itu kerajaan haru sudah ada?, hal ini masih
membutuhkan penelitian lebih lanjut.(Darman Prinst, SH :2004)
Kerajaan Haru-Karo diketahui tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan
kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka dan Aceh. Terbukti karena kerajaan
Haru pernah berperang dengan kerajaan-kerajaan tersebut.
Kerajaan Haru identik dengan suku Karo,yaitu salah satu suku di Nusantara.
Pada masa keemasannya, kerajaan Haru-Karo mulai dari Aceh Besar hingga ke
sungai Siak di Riau. Eksistensi Haru-Karo di Aceh dapat dipastikan dengan
beberapa nama desa di sana yang berasal dari bahasa Karo. Misalnya Kuta Raja
(Sekarang Banda Aceh), Kuta Binjei di Aceh Timur, Kuta Karang, Kuta Alam, Kuta
Lubok, Kuta Laksmana Mahmud, Kuta Cane, Blang Kejeren, dan lainnya. (D.Prinst,
SH: 2004)
Terdapat suku Karo di Aceh Besar yang dalam logat Aceh disebut Karee.
Keberadaan suku Haru-Karo di Aceh ini diakui oleh H. Muhammad Said dalam
bukunya "Aceh Sepanjang Abad", (1981). Beliau menekankan bahwa penduduk asli
Aceh Besar adalah keturunan mirip Batak. Namun tidak dijelaskan keturunan dari
batak mana penduduk asli tersebut. Sementara itu, H. M. Zainuddin dalam bukunya
"Tarikh Aceh dan Nusantara" (1961) dikatakan bahwa di lembah Aceh Besar
disamping Kerajaan Islam ada kerajaan batak Karo. Selanjunya disebutkan bahwa
penduduk asli atau bumi putera dari Ke-20 Mukim bercampur dengan suku Batak
Karo ysng dalam bahasa Aceh disebut batak Karee. Brahma Putra, dalam bukunya
"Karo Sepanjang Zaman" mengatakan bahwa raja terakhir suku Karo di Aceh Besar
adalah Manang Ginting Suka.
Kelompok karo di Aceh kemudian berubah nama menjadi "Kaum Lhee Reutoih" atau
kaum tiga ratus. Penamaan demikian terkait dengan peristiwa perselisihan antara
suku Karo dengan suku Hindu di sana yang disepakati diselesaikan dengan perang
tanding. Sebanyak tiga ratus (300) orang suku Karo akan berkelahi dengan empat
ratus (400) orang suku Hindu di suatu lapangan terbuka. Perang tanding ini
dapat didamaikan dan sejak saat itu suku Karo disebut sebagai kaum tiga ratus
dan kaum Hindu disebut kaum empat ratus.
Dikemudian hari terjadi pencampuran antar suku Karo dengan suku Hindu dan
mereka disebut sebagai kaum Jasandang. Golongan lainnya adalah Kaum Imam Pewet
dan Kaum Tok Batee yang merupakan campuran suku pendatang, seperti: Kaum Hindu,
Arab, Persia, dan lainnya.
--
Kabupaten Aceh Tenggara
Taneh Karo di kabupaten Aceh Tenggara meliputi:
Kecamatan Lau Sigala-gala (Desa Lau Deski, Lau Perbunga, Lau Kinga)
Kecamatan Simpang Simadam
--
--- In [email protected], Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
Pendapat Sultan HB X
Sumpah Palapa Sudah Tak Berlaku Lagi
Bandung, 5 April 2008 07:34
Sultan Hamengku Buwono X menyatakan Sumpah Palapa yang dilontarkan Gadjah Mada
sudah tidak berlaku lagi di masa sekarang karena sumpah tersebut bukan berlatar
belakang kesatuan dan persatuan tetapi penaklukan wilayah.
"Jika dilihat dari visi kita sekarang Sumpah Palapa tersebut bertolak belakang
dengan aspirasi bangsa pluralistik, yang harus menjadi acuan kita hanyalah
Sumpah Pemuda bukan Sumpah Palapa," katanya, saat berorasi dalam "Perbincangan
Kebudayaan bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Ajip Rosidi" di Bandung,
Jum`at (4/4).
Sultan menjelaskan, apa yang dilakukan oleh Gadjah Mada di masa itu tidak
mencerminkan sikap pemersatu tetapi hanyalah keegoisan pribadi semata. "Biarkan
saja Sumpah Palapa hidup pada masanya tetapi tidak untuk masa sekarang,"
ujarnya.
Kalimat sakti yang tertuang dalam Kakawin Sutasoma yaitu Bhineka Tunggal Ika,
Tan Hana Dharma Mangrwa atau biar pun kita berbeda-beda sesungguhnya kita itu
satu, tiada kewajiban mendua, dan seharusnya menekankan pengakuan adanya
pluralitas. "Yang harus dijadikan semangat bukanlah kemanunggalan (tunggal ika)
tetapi kesediaan menghormati kemajemukan itu."
Sultan yang hadir didampingi Kanjeng Hemas itu mengatakan, mitos kesatuan juga
seringkali dimanipulasi oleh penguasa sebagai jalan untuk melanggengkan
kekuasaannya. "Dalam politik manifestasi Bhineka Tunggal Ika seringkali
diabaikan karena seharusnya esensi yang sebenarnya adalah inklusif dan
egalitarian," ujarnya.
Karena itu, lanjut Sultan, upaya yang dapat dilakukan untuk menjadikan Bhineka
Tunggal Ika sebagai sebuah strategi integrasi dengan melakukan pendekatan
geokultural. "Hal ini dimaksudkan agar setiap kelompok budaya harus saling
mengenal dan menyapa untuk saling menerima dan memberi," katanya.
Sultan berpesan, hendaknya Bhineka Tunggal Ika juga dilakukan melalui gerakan
kebudayaan seperti halnya melalui Tri Daya Eka Karsa yaitu taraf kehidupan
nabati, hewani dan insani. "Saya sangat mengharapkan dengan gerakan kebudayaan
ini maka hati dan pikiran dapat membawa tindakan segenap anak bangsa untuk
merajut persatuan dan kesatuan yang sejati," ujarnya. [EL, Ant]
sumber: http://gatra.com/artikel.php?id=113647
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net
---------------------------------
Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkoppling.
Sök och jämför hos Yahoo! Shopping.