--- Begin Message ---
Aha, sebuah pencerahan biarpun kepastianya saya tidak
terlalu yakin..
Karena saya Karo (anggap aja dulu penyebutan seperti
itu untuk memposisikan 'netral'). Saya akan
menceritakan sedikit Suku Karo dari pengetahuan saya
yang sangat sedikit (dan saya suka menggunakan logika
sempit saya) :
1. Karo hanya punya 5 Merga (Merga Silima)
Karo-karo, Ginting, Sembiring, Perangin-angin dan
Tarigan.
2. Dari 5 Merga tersebut mempunyai 'anak' lagi
Katakanlah itu 'Sub-Merga' misalnya 'Sub-Merga yang
besar (dari segi jumlah).
- Karo-karo : Sitepu, Surbakti, Barus, Purba,\
Sinulingga dll
- Ginting : (mereka sangat kompak) :))
- Sembiring : Kembaren, Meliala, Brahmana dll
- Perangin-angin : Bangun, Pinem, Sebayang dll
- Tarigan : (mereka juga sangat kompak) :))
3. Asal kata Karo sendiri masih rancu apakah dari kata
'Haru' mengacu kepada Kerajaan Haru (Kerajaannya
dari Aceh, Banda Aceh sampai Siak, Riau)atau Merga
Karo-karo?
4. Saya cenderung mempercayai kata Karo berasal dari
Merga Karo-karo dan mungkin saja dari Sub-Merga
'Karo Sekali' karena yang lainnya menggunakan Karo-
karo dalam arti pengurangan makna seperti kata
merah-merah.
5. Yang jelas Karo datang dari 'Bangsa Pengembara' dan
cenderung mereka telah menghancurkan kebudayaan
asli mereka (makanya ngga ada istilah keturunan
keberapa?).
6. Benar pada abad 15 M Bangsa Tamil masuk ke Karo dan
diijinkan bergabung dengan Merga sembiring
(Brahmana, Colia(Cola?), Meliala (Malayam?), Maha
dll
7. Khususnya dengan Batak (Toba) setahu saya ada Merga
di Karo sama dengan di Toba dan itu pasti bukan
kebetulan (Munthe, Manik, Tambun dll).
8. Seperti di Karo di Toba juga beberapa ada yang
'sipit' barangkali itu mengacu ke Indochina (ya
Burma itu)
9. Peninggalan 'aneh' yang ada di Suku Karo membuat
saya teringat Kerajaan Samaria di Utara? (saya juga
Ragu..)
- Tapak Sulaimain Bulang saya bilang Star David
kata Mereka
- Sistem Mahar
- Perkawinan dengan Ipar yang suaminya meninggal
- Perkawinan Impal (Toba bilang Pariban)
- Dan keras kepalanya itu lho hahahahahahaha
Apa yang saya harapkan disini hanyalah untuk mengenal
diri 'kita' dan saya menunggu pencerahan dari
teman-teman-teman yang mengetahui :)
Shalom,
Sitepu Pande Besi
:> lomok-lomoknya ditunggu :))
--- Lomok-Lomok <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
---------------------------------
Perjalanan Panjang Menjadi Batak
(Oleh: Khairul Ikhwan)
Jika berdiri di salah satu bukit di Pulau Samosir,
yang berada di Danau Toba, di bawahnya akan terlihat
Desa Sianjur Mula-Mula. Desa ini menjadi penting
karena dalam filosofi Batak, setiap mereka merupakan
saudara karena berasal satu nenek moyang yang sama Si
Raja Batak yang tinggal Desa Sianjur Mula-Mula.
Versi sejarah menyatakan Si Raja Batak dan
rombongannya datang dari Thailand, terus ke
Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan
menghuni Sianjur Mula Mula, daerah pinggiran Danau
Toba, lebih kurang delapan kilometer arah barat
Pangururan, Kabupaten Toba Samosir.
Versi lain mengatakan, dari India melalui Barus atau
dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga bermukim di
pinggir Danau Toba. Diperkirakan Si Raja Batak hidup
sekitar tahun 1200, awal abad ke-13.
Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang
dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari
Madras, India) menjelaskan, pada tahun 1024 kerajaan
Cola dari India menyerang Sriwijaya yang menyebabkan
bermukimnya 1.500 orang Tamil di Barus. Pada tahun
1275 Mojopahit menyerang Sriwijaya, hingga menguasai
daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar tahun 1.400
kerajaan Nakur berkuasa di sebelah timur Danau Toba,
Tanah Karo dan sebagian Aceh.
Dengan memperhatikan tahun-tahun dan kejadian di atas
diperkirakan Si Raja Batak adalah seorang aktivis
kerajaan dari Timur Danau Toba (Simalungun sekarang),
dari selatan Danau Toba (Portibi) atau dari barat
Danau Toba (Barus) yang mengungsi ke pedalaman, akibat
terjadi konflik dengan orang-orang Tamil di Barus.
Sebutan raja kepada Si Raja Batak diberikan
keturunannya karena penghormatan, bukan karena rakyat
menghamba kepadanya. Demikian halnya keturunan si Raja
Batak seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja
Oloan dan sebagainya, meskipun tidak memiliki wilayah
kerajaan dan rakyat yang diperintah.
Sejarah
Suku bangsa Batak adalah Proto Malayan, seperti juga
suku bangsa Toraja. Bukannya Neo Malayan, seperti
suku-suku bangsa Jawa, Bugis, Aceh, Minangkabau,
Sunda, Madura dan sebagainya. Bahasa dan tulisan Batak
merupakan suatu ethnologi yang menarik dan menjadi
museum philologik yang selama 3.000 tahun tidak pernah
dikacaukan pengaruh Hindu, Arab atau Tiongkok.
Suku bangsa Batak semula adalah salah satu suku dari
Proto Malayan, di pegunungan perbatasan Burma (Myanmar
sekarang) dan Siam (Thailand sekarang). Selama ribuan
tahun lamanya mereka bertempat tinggal dengan suku
bangsa Proton Malayan lainnya, seperti Karen, Igorot,
Toraja, Bontoc, Ranau, Meo, Tayal dan Wajo.
Suku-suku Proto Malayan umumnya menolak segala
hubungan dengan dunia luar, terutama dari orang
seberang laut, dengan membawa agama baru. Berlainan
sekali dengan suku-suku Neo Malayan, mereka lebih suka
tinggal di tepi laut atau tanah datar terbuka.
Proto Malayan turun-temurun mengisolasi diri di
pegunungan perbatasan Burma atau Siam. Namun sialnya
gangguan datang sekitar tahun 1000 Sebelum Masehi
(SM), suku bangsa Mongol ekspansi mendesak mereka ke
selatan, sepanjang sungai-sungai Irawady, Salween,
serta Mekong. Di depan, suku-suku Mongolian turut pula
terdesak ke selatan, suku-suku bangsa Syan yang bukan
Proto Malayan, tapi Palae Mongoloid.
Dapat dimengerti, karena mereka sendiri terdesak, maka
suku-suku Palae Mongoloid mendesak pula atas
suku-suku Proto Malayan di depannya. Sebagian besar
suku-suku Proto Malayan terdesak sampai ke tepi laut
di teluk Martaban. Hilanglah sifat-sifat mengisolasi
diri yang mereka gemari.
Di tepi laut, mereka terakulturasi budaya Hindu, dan
mengambil pula istilah-istilah Hindu. Di situlah masuk
ke dalam bahasa-bahasa suku-suku Proto Malayan, antara
lain kedalam bahasa Batak, istilah-istilah seperti
debata, singa, surgo, batara dan mangaraja.
Suku-suku proto Malayan tentu tidak senang bertempat
tinggal di tepi laut. Terlalu banyak orang asing harus
diperhitungkan.Tidak ada lagi tempat terisolasi,
sebagaimana biasanya. Lalu mereka memberanikan diri
mengambil resiko, menyeberangi lautan mencari tempat
tertutup.
Suku-suku bangsa Proto Malayan yang kecil-kecil,
sangat banyak yang pergi ke Filipina. Di situ mereka
membentuk komunitas baru. Sambil menolak agama Islam
dan agama Katholik, yang dianut oleh 90 persen orang
Filipina yang suku-sukunya Neo Malayan, seperti suku
Tagalog.
Suku bangsa Tayal pergi ke puncak-puncak gunung di
Taiwan. Sejak 3.000 tahun lalu hingga kini, tidak
ambil pusing bahwa tanah-tanah datar di tepi pantai
Taiwan, silih berganti direbut Cina, Belanda, Cina,
Jepang dan Cina lagi. Sejak 3.000 tahun di Taiwan
mereka menolak segala macam agama. Tetapi sesudah
Perang Dunia II mereka mulai mau menerima Kristen dari
pendeta-pendeta Kanada, yang membawa ilmu kesehatan
modern.
Suku bangsa Toraja mendarat di Sulawesi. Di situ
mereka selama 3.000 tahun hingga sekarang kontra
dengan suku-suku bangsa Bugis dan Makasar, yang adalah
Neo Malayan. Agama Islam sekitar 400 tahun sudah
diterima Bugis dan Makasar. Tetapi sangat gigih
ditolak suku Toraja. Sejak abad XX suku bangsa Toraja
mau menerima Protestan Calvinist dari pendeta-pendeta
Belanda.
Sementara suku Karen tetap bertahan di pegunungan
Burma. Hingga sekarang kontra dengan suku bangsa Burma
yang membentuk Republik Burma. Suku bangsa Karen tetap
menolak agama Budha, yang dianut orang-orang Burma dan
Siam. Sejak abad ke-XIX suku bangsa Karen menerima
agama Kristen/British Baptists dari pendeta-pendeta
Inggris.
Halnya suku bangsa Ranau mendarat di Sumatera Barat,
lalu selama 2.500 tahun berkurung di sekitar Danau
Ranau. Lepas dari segala pengaruh kerajaan Sriwijaya,
kerajaan Darmasraya, dan apa saja yang timbul dan
lenyap di Sumatera Selatan. Sekitar tahun 1550 suku
bangsa Ranau ditaklukkan kesultanan Banten, yang
membutuhkan sekitar Danau Ranau untuk penanaman merica
untuk ekspor. Tulisan Ranau itulah yang paling dekat
kepada tulisan Batak. Sedang bahasa Igorot (di
Filipina) itulah bahasa terdekat dengan bahasa Batak.
Suku bangsa Batak mendarat di pantai Barat pulau
Andalas. Di situ suku bangsa Batak terpecah menjadi
beberapa gelombang. Gelombang pertama berlayar terus
dan mendarat di pulau-pulau Simular, Nias, Batu,
Mentawai, Siberut sampai ke Enggano (Sumatera
Selatan).
Gelombang kedua mendarat di muara sungai Simpang,
sekarang Singkil. Mereka bergerak sepanjang sungai
Simpang Kiri dan menetap di Kutacane. Dari situ mereka
menduduki seluruh pedalaman Aceh. Itulah yang menjadi
orang-orang Gayo, dan Alas.
Sementara gelombang ketiga mendarat di muara Sungai
Sorkam, antara Barus dan Siboga. Memasuki pedalaman
daerah yang sekarang dikenal sebagai Doloksanggul dan
belakangan menetap di kaki Gunung Pusuk Buhit (2005
meter), di tepi danau Toba sebelah barat, sekarang di
seberang Pangururan. Dari situ berkembang dan akhirnya
menduduki tanah Batak yang sekarang, antara Aceh dan
Minangkabau, antara Samudera Hindia dan Selat Malaka.
Itulah mainstream dari migrasinya suku bangsa Batak.
Mitologi
Suku bangsa Batak pertama kali bermukim di tepi Danau
Toba, di kaki gunung Pusuk Buhit. Namanya Sianjur
Sagala Limbong Mulana. Benar-benar daerah terisolasi.
Di depan ada danau Toba. Di belakang ada gunung Pusuk
Buhit. Di kiri ada pulau Samosir. Di kanan ada
tebing-tebing yang sangat curam, dan tingginya 400
meter. Air untuk irigasi melimpah.
Raja pertama dari suku bangsa Batak di Sianjur Sagala
Limbong Mulana, bernama Sori Mangaraja Ompu Si Raja
Batak. Di mana Sori Mangaraja = Sri Maharaja, gelar
yang dibawa dari pantai Burma. Suku bangsa Batak yang
terusir dari pegunungan Burma, segera merasa betah
tinggal di daerah yang makmur dan walau terisolir.
Di dalam mitologi Batak, Tuhan yang tertinggi adalah
Debata Mulajadi Nabolon atau kadang disebut Ompu
Mulajadi Nabolon, seperti Zeus/Jupiter dalam mitologi
Yunani dan Romawi. Debata Mulajadi Nabolon menurunkan
Putri Tapidonda ke dunia, tepatnya di gunung Pusuk
Buhit supaya menjadi ibu suri suku Batak.
Suku Marga
Marga bagi orang Batak biasanya adalah identitas yang
menunjukan silsilah dari nenek moyang asalnya. Marga
bagi orang Batak diturunkan secara patrinial, menurut
garis ayah. Sebutan berdasarkan satu kakek dalam
marga/klan yang sama markahanggi (semarga). Orang
Batak semarga, merasa bersaudara kandung sekalipun
berlainan ayah-ibu. Setiap orang dari suku Batak
mempunyai silsilah dan nama marga yang menunjukkan
garis keturunannya terhadap Si Raja Batak dan anggota
masyarakat Batak lainnya.
Pada mulanya suku bangsa ini terbagi dalam dua cabang,
Toba dan Pakpak (Dairi). Toba terbagi lagi atas
beberapa ranting, yakni ranting Toba, Angkola dan
Mandailing. Sementara Pakpak (Dairi) terbagi lagi jadi
ranting Dairi dan Karo.
Dalam perkembangan berikutnya, Batak terbagi dalam
lima puak besar. (1) Batak Toba (Tapanuli) mendiami
Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli
Tengah dan mengunakan bahasa Batak Toba. (2) Batak
Simalungun mendiami Kabupaten Simalungun, sebagian
Deli Serdang dan menggunakan bahasa Batak Simalungun
(3) Batak Karo mendiami Kabupaten Karo, Deli Serdang,
Langkat dan sebagian Aceh dan menggunakan bahasa Batak
Karo. (4) Batak Mandailing mendiami Kabupaten Tapanuli
Selatan, Mandailing Natal dan Kota Padang Sidempuan
menggunakan bahasa Mandailing. (5) Batak Pakpak
mendiami Kabupaten Dairi dan Aceh Selatan dan
menggunakan bahasa Pakpak.
Jumlah marga pada masyarakat Batak Toba, atau marga
pada masyarakat Karo, sangat banyak, apalagi bila
ditambah submarganya. Setiap marga atau submarga
mempunyai nama tersendiri, misalnya Situmorang,
Siregar, Ginting, Purba, Sembiring, Harahap, Sinaga
dan lain sebagainya.
Pada masyarakat Batak Toba, nama marga itu sebenarnya
merupakan nama nenek moyang dari para anggota marganya
yang bersangkutan. Batak Toba, Mandailing, dan Angkola
boleh memperhitungkan hubungan kerabatnya sampai
generasi ke 20 ke atas, sedangkan Karo tidak sampai
sejauh itu.
Sensus Penduduk tahun 1930 menunjukkan jumlah suku
bangsa Batak lebih kurang satu juta orang. Ini berarti
suku bangsa Batak merupakan salah satu dari delapan
suku bangsa di Indonesia yang anggotanya berjumlah
satu juta lebih, selain Jawa, Sunda, Minangkabau,
Melayu dan Bugis.
Kini jumlah persisnya tidak dapat lagi diketahui,
karena sensus tidak lagi mencatat identitas menurut
suku bangsa. Yang pasti berdasarkan Pendaftaran
Pemilih dan Pendataan Penduduk Bekelanjutan (P4B)
tahun 2003, penduduk Sumut bejumlah 11.890.399 jiwa
atau 2.553.047 keluarga dan orang Batak yang terbanyak
jika menganut pada pola di atas. Belum termasuk di
belahan Nusantara lainnya, sebab suku Batak merupakan
suku perantau.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam
protection around
http://mail.yahoo.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
--- End Message ---