Pemenang Pilgubsu: Golput!
Medan, (Analisa)
Pemenang Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) yang berlangsung Rabu
(16/4) sebenarnya adalah golput atau tidak menggunakan hak pilihnya. Hal ini
disampaikan Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA ketika
menyampaikan hasil quick count lembaganya bekerjasama dengan Jaringan Isu
Publik (JIP) di Hotel Grand Angkasa.
Menurut Denny partisipasi masyarakat Sumatera Utara dalam Pilgubsu ini sangat
rendah yakni antara 57-58 persen. Ini artinya yang tidak mempergunakan hak
pilihnya mencapai 42-43 persen.
Jumlah warga yang tidak menggunakan hak suaranya ini merupakan yang terbesar
dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) di Indonesia, ungkapnya sambil
mengatakan, rendahnya partisipasi masyarakat salah satunya disebabkan mereka
mengganggap siapapun yang menang tidak akan mengubah keadaan mereka.
Rendah
Di samping itu lanjut Denny, persentase kemenangan pasangan Syamsul
Arifin-Gatot Pudjonugroho (Syampurno) termasuk sangat kecil tidak mencapai 30
persen. Di banding daerah lainnya, persentase ini sangat kecil karena tidak
sampai meraih 30 persen sudah bisa menang, ujarnya.
Sejauh ini kata Denny pasangan yang menang selalu meraih suara di atas 30
persen. Dalam pemilihan gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) saja yang
calonnya lebih dari lima pasangan, pasangan pemenang meraih suara lebih dari 30
persen, ungkapnya.
Secara hukum kata Denny, kemenangan dengan persentase di atas 25 persen tidak
masalah sebab sesuai dengan undang-undang sudah dianggap sebagai pemenang.
Namun secara politik lanjutnya, kemenangan dengan persentase yang sangat
rendah itu sangat berat tantangannya. Dalam 100 hari masa kerjanya, pasangan
ini harus membuat program kerja yang kongkrit yang hasilnya bisa dirasakan
masyarakat, ujarnya.
Penyebab Utama
Sementara itu menurut pantauan di lapangan, penyebab utama masyarakat tidak
menggunakan hak pilihnya tidak semata-mata karena masyarakat malas datang ke
tempat pemungutan suara (TPS) atau tidak punya pilihan karena tidak percaya
pada salah satu pasangan, tapi juga karena disebabkan amburadulnya aparat
pelaksana Pilgubsu.
Sampai pada hari H pemungutan suara, masih banyak warga yang tidak punya
kartu pemilih. Sesuai dengan ketentuan, warga yang tidak punya kartu pemilih
bisa menggunakan kartu tanda penduduk (KTP) asal terdaftar di Daftar Pemilih
Tetap (DPT)
Tapi masalahnya, banyak warga yang tidak tahu dimana TPS yang bersangkutan
menggunakan hak pilihnya. Sejumlah warga yang tidak punya kartu pemilih
mengeluh karena tidak tahu harus mengecek kemana TPS-nya.
Di kawasan Marindal dan Kelurahan Binjai, Kecamatan Denai misalnya, banyak
warga yang harus mengecek ke kantor kepala desa dan kelurahan di sana untuk
mengetahui di mana TPS-nya. Anehnya ketika sampai ke TPS, kartu pemilih beserta
undangan masih di tangan petugas PPS.
Ketika hal itu ditanyakan, mereka menjawab tidak tahu alamat yang
bersangkutan. Padahal seperti yang dikeluhkan warga, bukan sekali ini saja
mereka menggunakan hak pilihnya. Sebelumnya saat pemilihan legislatif dan
presiden tidak ada masalah.
Soal banyaknya pemilih yang golput juga disampaikan Sekda Kota Medan Drs
Afifuddin Lubis saat meninjau KPU Kota Medan guna mengetahui perkembangan
pelaksanaan Pilgubsu di Medan.
Berdasarkan data yang dibacanya didinding KPU Medan, tampak penurunan
partisipasi masyarakat Kota Medan pada setiap event pilkada atau pemilu
sehingga meningkatkan angka golput (pemilih yang tidak memilih-red).
Afifuddin memaparkan pada Pilpres 2004 lalu jumlah pemilih yang menyalurkan
hak suaranya berkisar 996.079 orang. Kemudian Pilpres putaran II berkisar
938.791 orang sedangkan pada Pilkada Walikota Medan turun lagi hingga 781.813
orang.
Pada Pilgubsu 2008 kali ini, juga diperkirakan partisipasi pemilih
diperkirakan lebih rendah lagi.
Hal senada juga dibenarkan Ketua KPU Medan Ir Nelly Armayanti, di mana pada
beberapa TPS terlihat sepi diduga sebagai dampak munculnya berbagai pemasalahan
seputar pemilih sehingga sebahagian masyarakat memilih golput.
Dia berasumsi, munculnya suara golput kali ini disebabkan beberapa hal di
antaranya sikap apatis masyarakat terhadap lima kandidat pasangan cagubsu
sehingga menyebabkan dirinya malas ke TPS. Kemudian, disebabkan masih adanya
warga yang tidak terdaftar di dalam DPT.
Ditambah lagi sebahagian warga tidak menerima kartu pemilih maupun c6kwk
sehingga beberapa warga yang tidak proaktif (pasif) cenderung memilih golput.
(rrs/aru/sug)
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.