Calon-calon Kepala Daerah Berlatar Belakang Militer Bertumbangan
Jakarta (SIB)
Calon-calon kepala daerah yang berlatar belakang militer bertumbangan. Sebut
saja Jenderal (Purn) TNI Agum Gumelar di Pilkada Jabar dan Mayjen TNI (Purn)
Tritamtomo di Pilkada Sumut. Figur prajurit yang ditawarkan parpol ternyata tak
laku di daerah.
Sebenarnya kekalahan itu bukan karena adanya dikotomi sipil - militer.
Orang-orang yang aktif di militer umumnya tingkat pengenalan di masyarakat
kurang, ujar Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari dalam perbincangan
dengan detikcom, Kamis (17/4).
Calon yang berlatar belakang militer cenderung kalah populer dari incumbent
yang rajin turun ke daerah. Meskipun calon yang bersangkutan adalah asli putra
daerah namun biasanya para prajurit bertugas di luar daerahnya.
Ini berbeda dengan misalnya birokrat yang ada di daerah itu. Mereka tidak
hilang dari memori publik, sambung Qodari.
Dalam Pilkada Sumut, PDIP mencalonkan sosok Tritamtomo lantaran catatan partai
berlambang banteng moncong putih itu menunjukkan, dalam 20 tahun terakhir Sumut
dipimpin oleh gubernur berlatar belakang militer. Terakhir adalah Mayjen Purn
Tengku Rizal Nurdin yang meninggal dunia dalam musibah jatuhnya pesawat Mandala
Airlines beberapa tahun yang lalu.
PDIP juga beranggapan, Sumut masih butuh figur militer karena Sumut adalah
salah satu barometer politik nasional. Namun pasangan Tritamtomo - Benny
Pasaribu malah tidak cukup mendapat banyak suara. Mereka kalah oleh figur sipil
Arifin - Gatot yang diusung PKS, PPP, dan PBB.
Pun dengan Agum Gumelar yang maju di Pilkada Jabar. Pria berpangkat terakhir
jenderal itu pun tersingkir.
Prajurit yang juga tak laku di daerah adalah Kolonel Inf DJ Nachrowi yang
merupakan pejabat di Pusat Penerangan TNI. Dia maju menjadi calon wakil bupati
Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Namun langkahnya dikandaskan tokoh sipil
yaitu pasangan Marwadi Yahya-Iskandar.
Sedangkan di Serang, Banten, seorang perwira di Bais TNI Letkol Cpt Didi
Sunardi yang maju menjadi bupati juga dipupuskan harapannya oleh pasangan sipil
Taufik Nuriman - Andi Sujadi yang diusung PKS dan Partai Demokrat.
Kusnanto Anggoro: Jenderal Susah Maju Pilpres 2009
Para calon kepala daerah berlatar jenderal dan perwira militer bertumbangan
dalam berbagai pilkada termasuk Jabar dan Sumut. Mereka juga akan sulit meraih
hati rakyat dalam Pilpres 2009.
Untuk 2009, militer nggak ada gunanya. Mereka nggak usah nyaloninlah, kata
pengamat militer Kusnanto Anggoro kepada detikcom, Kamis (17/4).
Menurut Kusnanto, para jenderal ini sudah tidak bisa lagi memanfaatkan
birokrasi untuk menggalang dukungan. Rentang generasi juga sudah mulai jauh
untuk memanfaatkan jejaring militer.
Kecil kemungkinan SBY, Wiranto dan Sutiyoso bisa memakai jejaring militer.
Paling kolonel tua yang masih kenal mereka, cetus dia.
Kusnanto menjelaskan, yang lupa diperhatikan para calon berlatar militer adalah
jejak rekam mereka di militer diingat baik-baik oleh rakyat. Baik menjadi
incumbent atau penantang baru, masyarakat melihat citra mereka semasa aktif di
militer.
Orang sudah tahu track record-nya, pungkas Kusnanto.
Militer Kembali ke Khittah Saja
Agum Gumelar, purnawirawan tentara yang sudah pernah menyandang jabatan
jenderal kalah dalam pilkada Jawa Barat. Tidak hanya itu, mantan Menteri
Perhubungan ini juga pernah kalah dalam Pilpres 2004 lalu. Ia juga kalah saat
sidang istimewa 2001 pemilihan Wakil Presiden setelah lengsernya Gus Dur dari
kursi presiden. Militer pun diusulkan kembali ke khittahnya.
Militer harus kembali ke khittahnya, ujar pengajar Fisipol UGM Arie Sudjito
kepada detikcom, Kamis (17/4).
Kembali ke khittah, menurut Arie adalah, militer harus konsisten menjaga
pertahanan dan keamanan negara. Kata lainnya, militer tidak terjun ke dunia
politik.
Kalahnya jenderal di dalam pilkada akhir-akhir ini, menurut pria kalem itu
lantaran mereka mendapatkan tekanan dari dunia internasional. Popularitas
militer dalam gerakan politik menurun karena tekanan dunia internasional, kata
dia.
Di samping itu, lanjut Arie, gerakan demokrasi di Indonesia pascareformasi
memang menghendaki para militer kembali ke barak. Tidak latah ikut-ikutan
terjun di dunia politik.
Kekalahan Agum Gumelar semakin membuktikan militer sudah tidak dilirik? Ya.
Agum imej Orde Barunya juga kuat, tandasnya. (detikcom/g)
---------------------------------
Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkoppling.
Sök och jämför hos Yahoo! Shopping.