--- In [email protected], MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Obrolan liburan
>    
>   Bermaksud mencari-cari obrolan ringan, liburan dan relax pikirku. 
Tapi tiba-tiba teringat pula yang saya rasa menarik diobrolkan, soal 
kultur dan budaya pikiran Sutan Sjahrir kiriman Carlos Patriawan. 
Pikiran-pikiran Syahrir menurut saya sangat jauh melampau zamannya, 
bahkan sekarang ini juga, 70 tahun setelah beliau tulis. Disamping 
itu terpengaruh juga suasana beliau ketika itu, semangat perlawanan 
yang sangat berapi-api, dibuang, dipenjarakan oleh pemerintah 
kolonial Belanda. Yang lainnya ialah pengaruh 'way of thinking' orang 
Minang yang sangat rasionalis. 
>   Only "rationality is powerful enough to rule this world". Pikiran 
rasionalis ini terdapat juga dalam way of thinking China. Kecepatan 
maju kedua etnis bangsa ini tidak telepas dari way of thinking 
mereka. Ah, semakin serius pula ini. Mengapa kita harus ngomong 
serius hari libur begini hehehe . . . relax. 
>    

Hehehehe, memang menarik membaca ulang sejarah kita ini. Dalan soal 
rasionalitas ternyata tidak cuman keluar dari ucapan Soetan Sjahrir 
saja.  Bahkan Tan Malakapun malah sudah membuat bukunya pada 1942 
tentang Rationalitas atau Dialektika (Madilog), keharusan menggunakan 
akal. Bung Hatta  dalam buku dan journalnya di negeri Belandapun 
menulis hal yang sama.

Menarik sebenarnya, ketiga tokoh yang dikemudian hari berada dalam 
partai yang berbeda tetapi mempunyai alam pemikiran yang sama. 
Tulisan-tulisan dari Mochtar Lubis-pun punya kecenderungan pemikiran 
yang sama, maklum beliau juga adalah mantan muridnya Pak Sjahrir 
jaman jepang dulu.


>   Dulu waktu saya masih kecil di Medan sering omongan ngejek keluar 
dari mulut, "kacang goreng . . . keok" ngejek teman-teman saya dari 
etnis Minang atau orang Padang kita bilang ketika itu. Banyak juga 
teman Tjina (Tionghoa istilah resminya, tapi saya tetap bilang Tjina, 
karena cakap Karo juga gitu, atau dibilang juga 'tokeh' terhadap 
Tjina dewasa, anak-anaknya "Tjina loleng makan babi satu kaleng". 
Pandangan stereotyp kita katakan sekarang. Mestinya istilah stereo 
ini kan baik, dari pengertian multidimensi, setidaknya dua segi atau 
duan dimensi, kiri dan kanan. Tapi sekarang ini diartikan negatif 
atau dinegatifkan atau dianggap cuma satu dimensi atau satu arah. 
>   Eh . . . omongan ini semakin ngelantur lagi kayaknya. Kayak bukan 
liburan pikirku hehehe . . . 
>    
>   Eh . . . marilah kita liburan, sambil meng "ganyang Malaysia" dan 
meneriakkan "NASAKOM" hahaha . . . , apa kalian bilang.
>    

hehehe, kalau kata bung hatta , NASAKOM ini satu bentuk 
irrasionalitas , gak mungkin katanya air dan minyak bisa nyampur. 

bener juga kata Bung Hatta 70 tahun lalu, persatoean ditjari ? :)

Carlos


Kirim email ke