Mengokohkan Jati Diri dan Citra PKS
(Menyambut Mukernas Partai Keadilan Sejahtera di Bali)
Oleh: Mohamad Sohibul Iman
Ketua DPP PKS
Slogan 'Bersih dan Peduli' yang dicanangkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
menjelang Pemilu 2004 mengantarkan partai ini pada perolehan suara spektakuler.
Dari semula hanya 1,5 persen pada Pemilu 1999 melonjak lima kali lipat menjadi
7,5 persen sehingga menjadikannya sebagai partai Islam paling fenomenal.
Ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa 'Bersih dan Peduli' bukan semata
slogan, tapi kristalisasi bukti-bukti di lapangan sejak partai ini berdiri
tahun 1998 (sebelumnya Partai Keadilan). 'Bersih dan Peduli' dengan mudah
diatribusikan kepada PKS karena memang nilainilai itu dapat dilihat dan
dirasakan oleh masyarakat.
PKS akan menggelar mukernas pada 1-3 Februari 2008 di Bali. Salah satu agenda
pentingnya revitalisasi dan pengokohan citra 'Bersih dan Peduli'. Dalam dokumen
falsafah perjuangan dan platform pembangunan PKS yang diterbitkan Desember
2007, citra itu tetap menjadi positioning partai.
Bersih cermin kesalehan moral, sementara peduli cermin kesalehan sosial.
Dalam kedua dokumen ini ditegaskan bahwa untuk dapat memimpin bangsa dibutuhkan
juga kesalehan profesional. Maka, slogan PKS menjelang Pemilu 2009 adalah
'Bersih, Peduli, dan Profesional'. Pemaknaan profesional adalah dimilikinya
kompetensi inti, kecakapan manajerial, kemampuan berpikir strategis, dan sikap
terbuka (open minded).
Introspeksi
Sejak PKS menjadi bagian dari koalisi SBY-JK tahun 2004, citra 'Bersih dan
Peduli' kurang kuat menggema. Kisah-kisah heroik sebelum 2004 yang merupakan
pembuktian 'Bersih dan Peduli' di ruang publik seakan tenggelam oleh
langkah-langkah politik yang mencerminkan kegamangan antara sebagai partai
oposisi atau bagian dari pemerintahan.
Tentu ini dapat dimaknai positif sebagai proses pembelajaran dan pencarian
bentuk ideal partai dakwah. Dalam kacamata dakwah, di antara prinsipnya adalah
amar ma'ruf nahiy munkar, fastabiqul khoirot, dan maslahat umat, partai oposisi
dan partai pemerintah tidak dilihat dalam oposisi biner. Selalu ada ruang dan
posisi yang bisa diisi untuk menjembatani keduanya.
Di sisi lain, ini juga dapat dilihat secara negatif sebagai trial and error
yang dapat menggerus citra itu. Trial and error memang bagian dari proses
pembelajaran. Namun, pembelajaran yang baik tentu ada evaluasi dan kerangka
waktu yang jelas. Keduanya dibutuhkan agar proses pembelajaran selalu on the
right track dan dapat mengukur dengan jelas kemajuan pembelajaran itu sendiri.
Dengan itu pembelajaran menjadi efektif dan modal dasar 'Bersih dan Peduli'
dapat dipertahankan dan dikokohkan serta disinergikan dengan citra profesional.
Jelas bahwa lonjakan lima kali lipat perolehan suara PKS telah mengantarkan
makin banyaknya kader-kader PKS yang menduduki jabatan-jabatan publik, baik
legislatif maupun eksekutif, di pusat maupun daerah. Ini membawa konsekuensi
PKS berhadapan dengan tantangan-tantangan dan peluang-peluang kekuasaan politik
dan ekonomi yang makin besar.
Tarik menarik antara tantangan dan peluang ini tentu saja harus disikapi
dengan arif dan hati-hati agar tidak terjebak dalam pragmatisme dan perilaku
politik primitif. Pada titik ini penerjemahan dan elaborasi makna 'Bersih dan
Peduli' perlu semakin diperjelas.
Disadari bahwa dalam perjalanan 3,5 tahun sejak 2004 penerjemahan ini belum
membuahkan satu kejelasan dan standardisasi makna 'Bersih dan Peduli' versi
PKS. Yang terlihat adalah ijtihad-ijtihad pribadi para kader dalam
menerjemahkan 'Bersih dan Peduli' ketika berhadapan dengan tantangan dan
peluang.
Karenanya, pemaknaan 'Bersih dan Peduli' PKS menjadi terasa beragam. Tentu
ini tidak menguntungkan bagi penciptaan brand image) PKS, bahkan dapat
mengaburkan orisinalitasnya. Untuk itu dalam mukernas di Bali, PKS akan dengan
serius mengevaluasi masalah ini dan berupaya menerjemahkan makna 'Bersih,
Peduli, dan Profesional' dalam konteks ruang publik yang lebih luas sehingga
ada standar pemahaman tentang ketiganya.
Diharapkan ini dapat memperjelas orisinalitas dan mengokohkan citra PKS.
Nasionalis substantif Dalam mukernas di Bali juga akan digelar dialog
kebudayaan dan kebangsaan dengan menampilkan tokoh-tokoh nasional maupun
pengamat asing. Ini untuk membincangkan pemaknaan dan pencarian format
keterbukaan dan nasionalisme baru yang sesuai dengan semangat zaman (kekinian)
dan kondisi riil Indonesia yang majemuk (kedisinian).
Bagi PKS substansi keterbukaan dan nasionalisme sudah selesai. Yang
diperlukan adalah pemaknaan dan reformatisasi dalam konteks tantangan zaman
baru yang terus berubah, baik di tingkat global, kawasan, maupun dalam negeri.
Kesadaran ideologis universal, tuntutan yuridis formal, dan kenyataan empiris
masyarakat yang majemuk menjadikan masalah keterbukaan dan nasionalisme sudah
selesai di tingkat institusional semua parpol (juga ormas) yang telah disahkan
pemerintah. Yang sulit di tingkat pergaulan dan perilaku politik sehari-hari.
Di kalangan kader dan simpatisan parpol (juga ormas) masih banyak yang belum
memiliki kemampuan bergaul secara spontan (spontaneous sociability) dengan
seluruh elemen bangsa dikarenakan sekat-sekat partai (juga ormas)
masing-masing. Di kalangan elite juga masih banyak yang berpolitik dengan
mengeksploitasi sentimen-sentimen primordial untuk meraih simpati konstituen.
Jadi, persoalan keterbukaan dan nasionalisme bukan terletak pada klaim-klaim
verbal dan seberapa majemuk kepengurusan suatu partai (juga ormas) tapi lebih
pada bukti-bukti substantif-faktual. Ini terkait dengan mind set dan kejujuran
pelaku partai (juga ormas) terhadap logika sehat, nurani bersih, dan nilai
luhur.
Dalam dialog kebudayaan dan kebangsaan PKS juga akan membincangkan masalah
itu agar seluruh kader dan elite partai mendapat wawasan lebih luas dan
memiliki kemampuan bergaul secara spontan dengan seluruh elemen bangsa. PKS
meyakini reformasi dan transformasi bangsa ini hanya dapat dilakukan oleh suatu
critical mass (di dalam maupun di luar PKS) yang memiliki kesalehan moral,
kesalehan sosial, dan kesalehan profesional, serta memiliki daya rekat bangsa.
Mereka ini akan tampil menjadi sosok nasionalis substantif, bukan nasionalis
pragmatis.
Sumber: http://www.pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi&id=4333
---------------------------------
Låna pengar utan säkerhet.
Sök och jämför hos Yahoo! Shopping.