sumber: 
http://kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/14/0430480/pendatang.china.bikin.cemburu

Senin, 14 April 2008 | 04:30 WIB
  Laporan Hans Jaap Melissen dari Amerika Serikat

BISA  jadi namanya memang Li. Tapi ia menolak menyebutnya. Dengan hati-hati, ia 
letakkan peralatan golf di bagian bagasi mobil BMWnya. "Panggil saya Jeff 
saja," katanya dengan keringat di dahi. Baru saja ia selesai main golf, untuk 
mengusir jetlag atau tidak bisa tidur gara-gara penerbangan. "Saya punya 
perusahaan di bidang barang tidak bergerak di China. Tapi saya tinggal di sini. 
Beijing sudah sangat tercemar," katanya.

Dua pekan silam dia kembali ke Beverly Hills, wilayah pemukiman orang China di 
Los Angeles. Bilangan Al Hambra dan San Marino di wilayah timur Los Angeles 
sudah diambil alih oleh orang-orang China kaya. Tapi mereka sering kembali ke 
China. Perekonomian Amerika tengah dilanda resesi, sementara di China 
terbentang pelbagai kans baru. "Saya datang ke sini untuk mencari apa yang 
disebut impian Amerika. Tetapi 10 tahun lalu saya putuskan kembali ke China. Di 
sana banyak keuntungan yang bisa diraup," tutur Jeff.

Tak jauh dari Jeff, berkerumun sekelompok pria pensiunan. Mereka sudah seumur 
hidup tinggal di bilangan ini, dalam 20 tahun belakangan mereka saksikan 
bagaimana Beverly Hills berubah total. "Kita berada di pulau putih di tengah 
lautan orang-orang Asia," kata Louis Lopez. "Haloween, hari kemerdekaan atau 
Hari Natal, semuanya sudah tidak seperti dulu lagi. Orang-orang China ini 
sebenarnya ramah, tetapi mereka hanya berkerumun dengan kelompok sendiri." 

Lho, bukankah orang-orang China ini juga ikut main golf? "Tidak ada masalah." 
Tapi raut muka Lopez bicara lain. 

Sepertinya memang ada semacam kecemburuan. Rumah-rumah terbesar di sekitar sini 
sudah dibeli orang China. Mobil sport mereka yang mahal-mahal, melaju di 
jalan-jalan yang lebar menyala dengan pohon palma di kedua sisinya. Di halaman 
rumah mereka para tukang kebun keturunan Mexiko menyirami tanamannya yang 
terpelihara rapi.

"Saya punya sembilan kamar kecil dan kami serumah berempat. Tak pernah saya 
mimpi tinggal di rumah yang begini besar," kata Nyonya Ping, seorang pengusaha. 

Ia berdiri di jalan setapak menuju ruang tamu yang berada di depan rumah utama. 
Ping khawatir soal ekonomi Amerika. "Suami dan saya berbisnis aksesori baju 
seperti kancing dan retsleting. Omzet tahun 2007 hanya setengahnya dari tahun 
2006 dan tahun ini lebih sedikit lagi," kata perempuan itu. 

Nyonya Ping sedang pikir-pikir untuk balik saja ke China, kembali ke pabrik 
mereka.

Bagi Maggie Zhou, situasi ini benar-benar pahit. "Saya sudah ganti warga 
negara, paspor Amerika. Bahkan saya sedang lihat-lihat apakah masih bisa 
mendaftar sebagai pemilih. Jika punya hak pilih, saya akan pilih Hillary. Tapi 
saya belum tahu apakah November nanti masih tinggal di sini," kata Maggie.

Maggie juga punya bisnis pakaian. "Pelbagai merek Amerika yang diproduksi di 
China tidak terlalu laku di sini, tapi di China, merek-merek itu makin 
terkenal," katanya. 

Lopez, seorang pemain golf, oke-oke saja dengan kepergian warga China dari 
kawasan itu. "Tapi memang nilai rumah saya jadi jauh lebih tinggi dengan 
hadirnya orang-orang kaya Asia tersebut," katanya.

Untungnya, tidak semua warga China hengkang. Masih ada sejumlah orang yang 
bolak balik seperti Jeff. "Tapi mungkin sudah terlambat bagi saya untuk 
kembali. Siapa yang ingin bisnisnya sukses, harus mulai 10 tahun lalu di 
China," katanya menambahkan. 

Sambil menyeka keringat Jeff berlanjut, "Kami, orang China, bekerja keras. 
Misalnya mulai sebagai tukang cuci piring. Tapi selama itu tetap memusatkan 
perhatian dan pekerjaan pada apa yang ingin diraih. Tidak hanya 'Mimpi 
Amerika', bukan pula 'Mimpi China', tapi sesuatu yang mungkin lebih besar, 
'Mimpi Dunia'," katanya.



Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke