Pemekaran Aceh Leuser dan Aceh Barat Optimis Terwujud Pasca Pemilu 
  Jakarta, (Analisa) 
  Usulan pemekaran wilayah Aceh Leuser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan 
(ABAS) menjadi masing-masing satu provinsi di Naggroe Aceh Darussalam optimis 
terwujud pasca Pemilu 2009, sebagai salah satu bentuk aspirasi warga di alam 
demokrasi. 
  "Meski Kepala Negara (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-red) telah menyatakan 
bahwa tidak ada pemekaran sebelum Pemilu 2009, namun kami yakin bahwa usulan 
pemekaran dapat diterima karena alasan yang tepat dan memang masuk akal," kata 
Ketua Komite Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Aceh(P2DTA), HM Iwan 
Gayo, kepada Antara, di Jakarta, Minggu. 
  Menurut Iwan, usulan pemekaran yang sudah mendapat restu dari DPR-RI dan 
selanjutnya diusulkan kepada Presiden, yaitu Aceh Leuser Antara meliputi 
kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Singkil, Gayo Lues, dan Aceh 
Tenggara. 
  Sedangkan ABAS mencakup kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh 
Barat Daya, Aceh Selatan dan Simeulue. 
  "Alasan dimekarkan karena pembangunan di dua daerah itu kurang diperhatikan, 
sehingga perlu perhatian yang lebih fokus mempercepat pembangunan infrastruktur 
serta rehabilitasi sosial korban akibat konflik dan bencana alam," kata Iwan. 
  Iwan Gayo sebelum diangkat menjadi Ketua P2DTA, adalah koordinator unjuk rasa 
430 kepala desa ALA ke DPR-RI dan Depdagri, di Jakarta, pada Maret 2008, yang 
menuntut memperjuangkan pemekaran. 
  "Sesuai amandemen UU No.32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah, daerah 
ini layak dimekarkan, selain agar lebih mandiri wilayah ini juga menyimpan 
kekayaan alam seperti minyak bumi, komoditi perkebunan rakyat seperti teh, 
kopi, getah damar dan tebu," katanya. 
  Meski belum mendapat lampu hijau dari Kepala Negara, namun respon pemerintah 
untuk membangun daerah tertinggal di Aceh, tercermin dari diterbitkannya SK 
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, tentang pembentukan P2DT yang diketuai Iwan Gayo. 
  P2DT sebagai tim supervisi diharapkan efektif memberikan masukan kepada 
Gubernur untuk pembangunan daerah-daerah yang menjadi kantong kemiskinan di 
Aceh. 
  "Untuk sementara pemekaran merupakan harga mati. Kami akan berjuang, dengan 
cara jawe (pisah dengan cara baik-baik, damai-red), tidak dengan cara cere 
(pisah tetapi melanjutkan luka mendalam-red)," tegas Iwan. 
  Tokoh Aceh 
  Pada kesempatan itu, Iwan juga menginformasikan bahwa Gubernur Aceh Irwandi 
Yusuf, Minggu siang, menjenguk Prof Baihagi Abdul Karim salah seorang tokoh 
Aceh, di Jakarta. 
  "Kunjungan ini merupakan sikap arif dan terpuji, sebagai upaya menjembatani 
hubungan baik antara warga Aceh Pesisir dan Aceh Pedalaman (dataran tinggi), 
yang masih sering berbeda pendapat," kata Iwan. 
  Kedatangan Gubernur Irwandi menyenguk Prof Baihaqi yang sedang sakit, 
merupakan sikap teladan seorang pemimpin sekaligus menunjukkan bahwa di 
kalangan masyarakat Aceh tidak ada perseteruan. 
  "Kunjungan kepada sesepuh Aceh itu, semacam rekonsiliasi dalam konteks 
kemanusiaan, sebagai angin sejuk bagi terciptanya perdamaian di Aceh," katanya. 
  Meski begitu, Iwan tidak berani menyebutkan materi pembicaraan antara 
Gubernur Irwandi Yusuf dan Prof Baihaqi yang merupakan salah satu tokoh yang 
gencar mengedepankan pemekaran, karena dirinya tidak ikut pada kunjungan 
tersebut. 
  Ia hanya menjelaskan, pertemuan itu juga tidak semata-mata karena usulan 
pemekaran wilayah di Aceh, yaitu pembentukan provinsi ALA dan ABAS. (Ant) 
  --
   
  KOMENTAR
   
  Iwan Gayo jadi contoh negatif atau positif
  Tadinya Iwan adalah kepala Humas pemekaran ALA, dipecat pada tgl 12 April 
2008, karena menerima tawaran ’inspiratif’ dari gub NAD jadi ’pembantunya’ 
memajukan daerah tertinggal. Dalam artikel diatas Iwan mementaskan dirinya 
berperan sebagai ’pendamai’ yang menumpang dua perahu. Sekiranya dia lebih 
’besar’ dari gub NAD (yang tegas mengatakan menentang pemekaran selama dia 
berkuasa), maka pekerjaannya bisa lebih effektif atau mungkin bisa effektif 
sebagai ’pendamai’ dan pejuang pemekaran. Tetapi dia jauh lebih ’kecil’ dari 
Irwandi Jusuf, maka pekerjaannya akan sia-sia. Dia harus bikin dan mengatakan 
apa yang kira-kira dipuji oleh sang gubernur. Perdamaian yang sejati ialah 
pemekaran, karena dengan pemekaran akan hadir keadilan yang muncul dari 
semangat saling mengakui dan saling menghormati antar etnis. Ini artinya etnis 
Aceh mengakui existensi Gayo, Alas, Singkil sebagai etnis 100% bukan sub-etnis 
Aceh, dan mengakui tapal batas daerah mereka masing-masing. Ini berarti juga
 bahwa pasal 1.1. 4.  MoU Helsingki tidak berlaku bagi mereka.  MoU adalah 
persetujuan GAM dengan Pusat. Pasal ini ’kemasukan’ di MoU karena sebab kelasik 
pengetahuan-daerah Pusat yang sangat jauh dibawah tingkat SD. 
   
  Gayo tidak ikut dalam MoU Helsingki, karena Gayo bukan GAM, Gayo dari dulu 
menentang keras GAM. Orang-orang Gayo, Alas, Singkil/Pakpak adalah etnis-etnis 
nasionalis pro Indonesia, dan sangat bersifat patriotis melawan penjajahan demi 
kemerdekaan Indonesia, bukan kemerdekaan NAD. Sifat patriotis nasionalis 
etnis-etnis ini sama dengan orang Karo. 
  MUG
   
   

 __________________________________________________
Använder du Yahoo!?
Är du trött på spam?  Yahoo! E-post har det bästa spamskyddet som finns 
http://se.mail.yahoo.com 

Kirim email ke