--- In [email protected], Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> sumber:
http://kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/14/0430480/pendatang.china.bikin.cemburu
> 
> Senin, 14 April 2008 | 04:30 WIB
>   Laporan Hans Jaap Melissen dari Amerika Serikat
> 
> BISA  jadi namanya memang Li. Tapi ia menolak menyebutnya. Dengan
hati-hati, ia letakkan peralatan golf di bagian bagasi mobil BMWnya.
"Panggil saya Jeff saja," katanya dengan keringat di dahi. Baru saja
ia selesai main golf, untuk mengusir jetlag atau tidak bisa tidur
gara-gara penerbangan. "Saya punya perusahaan di bidang barang tidak
bergerak di China. Tapi saya tinggal di sini. Beijing sudah sangat
tercemar," katanya.
> 

Memang betul begitu, dilokasi di AS dimana tingkat ekonomi sosialnya
tinggi, umumnya mayoritas penduduk disitu adalah "ChinDia" alias orang
Cina/Taiwan/Hongkong/Jepang dan India.

Ya wajar saja, mereka memang lebih keras dan lebih pintar secara
general dibandingkan lokal. Masalahnya gak jauh beda dengan Indonesia
sebenarnya, kecuali di AS memang sistemnya sudah bagus dari dulu, jadi
mereka (US born citizen yang sudah beratus tahun tinggal di AS) gak
terlalu merasa banget gapnya. Di AS sudah banyak wacana (dan
Implementasi-hehehe) bagaimana mengejar ketertinggalan orang Amerika
dengan 'Chindia', terutama dalam sektor pendidikan. 

Jadi dari semua issue yang muncul disini, dari buruh macam2, kita
mesti lihat juga perspective 21st century. Nanti ujungnya balik lagi
koq, tingkatkan pendidikan katanya..dan lapangan kerja tentunya.
Di AS juga buruh banyak yang jadi pengangguran sekarang, akibat
globalisasi katanya .. sounds like in Indonesia. Katanya
terlalu banyak pekerjaan yang diover ke Kanada dan Mexico akibat NAFTA.

Memang lagi terjadi "divergence" secara global saat ini, buruh
ditindas karena rumusnya ( supply/100 > demand ).

Sedangkan di sektor hitech saat ini terjadi kebalikanya dimana
( demand > supply*100 ).

Makanya harus pinter pinter mensiasatinya (entah secara regional atau
nasional/internasional). Mesti lihat jangka jauh ke depan, seperti
misalnya 30 tahun ke depan. 

Indonesia ini tahun 1970 pernah ditawari agar menjadi 'negara Intelek'
dengan dibukanya persh R&D dan pabrik chip dari AS, tapi ditolak oleh
rejim Suharto karena tidak 'padat karya' katanya. Nach.

carlos

Kirim email ke