Kunjungan Gubernur NAD ke Agara Diwarnai Aksi Unjukrasa      Kutacane, 
(Analisa)   Kunjungan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Irwandi Yusuf 
dan mantan Presiden Firlandia, Martti Antasaari bersama rombongan Sabtu (3/5) 
ke Aceh Tenggara diwarnai aksi unjukrasa.   Aksi unjukrasa yang dilakukan 
puluhan masyarakat tersebut berlangsung Minggu (4/5) saat Gubernur NAD bersama 
rombongan hendak meninggalkan Kabupaten Aceh Tenggara.   Aksi damai digelar 
sekaitan dengan tuntutan terhadap pemekaran Provinsi Aceh Lauser Antara (ALA). 
Meski tidak disertai orasi, namun melalui spanduk para pendemo meminta agar 
perwujudan Provinsi ALA tidak dihalang-halanggi.   Pantauan Analisa, para 
pendomo melakukan aksi sekitar pukul 10.30 saat Gubernur NAD bersama rombongan 
hendak meninggalkan Kabupaten Aceh Tenggara. Puluhan warga mencegat rombongan 
di Desa Lawe Kinga Kecamatan Simpang Semadam atau sekitar 300 meter dari 
Bandara Alas Lauser.   Amankan Spanduk   Selain melakukan pengawalan
 ketat, pihak kepolisian setempat juga mengamankan sejumlah spanduk yang dibawa 
para pendemo. Bahkan sekitar 6 warga yang bergabung dalam aksi tersebut sempat 
dibawa ke Mapolres untuk dimintai keterangan.   “Aksi damai ini kita lakukan 
untuk tetap menyuarakan aspirasi masyarakat, yakni perjuangan terhadap 
pembentukan Provinsi ALA. Kami berharap opsi pemekaran ini tidak 
dihalanghalangi oleh siapapun,” tegas Aminudin (33).      Wartawan Diperiksa   
Selain warga, sejumlah wartawan juga sempat dimintai keterangan, bahkan 
Amirinsyah (35) seorang wartawan terbitan Medan sempat dibawa keMapolres oleh 
pihak kepolisian untuk dimintai keterangan sekaitan dengan aksi tersebut.   
Analisa yang tengah melakukan tugas peliputan di Bandara Alas Lauser juga 
sempat dimintai keterangan oleh pihak kepolisian, antara lain diminta 
menunjukkan Kartu Pers dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).   Sementara sehari 
sebelum bertolak dari Kabupaten Aceh Tenggara, Gubernur NAD Irwandi Yusuf dalam 
sambutannya
 meminta agar semua pihak dapat menjaga perdamaian yang tengah berlangsung di 
Aceh,.   “Saya minta kepada semua pihak untuk menjaga komitmen perdamaian Aceh, 
karena untuk mencapai perdamaian ini tidak mudah,” katanya saat tiba di Bumi 
Sepakat Segenep.
  --
   
   
  KOMENTAR
  Perdamaian dan Pemekaran jelas tidak bertentangan. Orang Alas, Gayo, Singkil, 
mau mengurus nasibnya sendiri, apa salahnya. Seperti orang-orang ALA bilang, 
bukankah malah meringankan kerjaan orang-orang Aceh seperti Irwandi Yusuf. 
Tidak perlu lagi ada calo di Banda Aceh untuk mengurus urusan orang ALA. 
Kesempatan bagus bagi orang ALA untuk pertama kali mencoba berdikari setelah 
ratusan tahun dibawah pengawasan dan pengurusan etnis Aceh lewat Banda 
Aceh/Kutaraja, dan bagi orang Aceh sendri juga adalah pengalaman pertama 
memberikan kesempatan kepada etnis lain mengurus dirinya. Memang ada juga 
'enaknya' mengurus orang lain, tapi ada jeleknya kalau orang lain itu tak ingin 
diurus orang lain, dan merasa mampu mengurus hidupnya sendiri. 'hati-hati 
mengurus orang lain kalau tidak diminta' pernah dikatakan Gandi. Sekarang etnis 
Aceh dengarkanlah itu. 
   
  Pemekaran dan perdamaian tidak bertentangan, tidak ada juga bukti dalam 
sejarah perkembangan kemanusiaan bahwa kedua hal ini bertentangan. Orang-orang 
yang mempertentangkan kedua soal itu seperti Irwandi Yusuf, merekalah yang jadi 
persoalan. Dari dulu juga daerah-daerah ini (ALA) damai sekiranya tidak 
dimasuki GAM. Sifat dan sikap patriotis nasionalis orang Alas, Gayo dan 
Singkil/Pakpak tidak bedanya dengan orang-orang Karo. Segenap jiwa dan raganya 
adalah untuk kemerdekaan NKRI.
  MUG

       
---------------------------------
Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkoppling.
Sök och jämför hos Yahoo! Shopping.

Kirim email ke