Jumat, 09-05-2008 | 10:30:39
BENTUK pinggul dan bokong besar tidak selamanya buruk. Sekolah
Pendidikan Kedokteran Harvard, Boston, menyatakan, pinggul dan bokong
besar justru melindungi Anda dari serangan penyakit diabetes.

Penelitian yang dipimpin Dr Ronald Kahn tersebut menemukan lemak yang
terkumpul di bawah kulit justru membantu memperbaiki kepekaan hormon
insulin. Hormon inilah yang bertanggung jawab mengatur peredaran darah.

Kahn bersama peneliti lainnya melakukan eksperimen pada tikus
percobaan. Dalam eksperimen, tikus percobaan mendapatkan pencangkokan
sejenis lemak ke dalam perut hingga kemudian menyusut. Meskipun sang
tikus tidak memiliki kesempatan diet atau level aktivitas mereka membaik.

"Ini hasil yang mengejutkan. Kami menemukan efek yang memberi manfaat.
Terutama jika kamu meletakkan lemak jauh di kedalaman perut," kata
Kahn. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah
Cell Metabolism.

Kahn memulai penelitian atas dasar ingin mengetahui lemak yang
diletakkan pada daerah tubuh yang berbeda, maka akan memberikan efek
yang berbeda. Terutama dalam hal risiko terhadap penyakit yang
berhubungan dengan metabolisme seperti diabetes.

Tim peneliti menguji teori bahwa terkadang lemak yang terkumpul dalam
perut atau dikenal sebagai "lemak dalam" bisa meningkatkan risiko
penyakit diabetes dan jantung. Sementara orang bertubuh bulat,
berlemak di pinggul dan bokong, justru berisiko lebih rendah terkena
penyakit diabetes dan jantung.

Lalu, dia mengembangkan beberapa tahap eksperimen. Tahap pertama, para
peneliti mencangkok sel lemak dari tikus pendonor ke dalam perut tikus
uji coba. Lemak itu ditanam di bawah kulit tikus uji coba.

Tikus yang mendapatkan cangkokan lemak di bawah kulit perut mereka
justru menjadi semakin kurus setelah beberapa pekan. Selain itu, tikus
ini juga mengalami perbaikan peredaran darah dan level hormon insulin
dibandingkan tikus lainnya yang tidak mengalami pencangkokan.

"Apa yang kami temukan ini adalah setelah menanamkan lemak, ada
perbaikan metabolisme tubuh. Kami kira ini merupakan hasil temuan yang
penting," sebut Khan. Pasalnya, tidak semua lemak selalu buruk.

Namun, untuk mengetahui lebih jauh aspek khusus apa dari sel lemak,
memerlukan penelitian lanjutan.

Para peneliti bertujuan menemukan zat kimia yang diproduksi sel lemak
yang memberi harapan pengembangan obat antidiabetes, atau lainnya.
Meskipun lemak dikenal memproduksi sejumlah hormon, menurut Kahn,
selama proses eksperimen tidak satu pun hormon yang dikenal muncul.

"Jika kami bisa merekam zat kimia tersebut, mungkin kami akan memiliki
kesempatan untuk mengubahnya menjadi pedoman untuk membuat obat,"
sebutnya. Namun, bagi pemilik pinggul dan bokong besar, tidak semua
mendapatkan kabar baik. Sebab, berdasarkan hasil penelitian tim
peneliti dari RS Adelaide, Dublin, Irlandia,bokong besar justru
mengurangi efektivitas suntikan obat.

Menurut Ketua Tim Peneliti Victoria O Chan, bokong yang besarnya
terlalu berlebihan pada wanita justru mengurangi keefektifan vaksin,
obat pengurang rasa sakit, kontrasepsi, serta obat-obatan lainnya.
Sebab, obat-obatan tersebut harus disuntikkan melalui otot gluteal
pada bokong. "Suntikan yang dilakukan melalui bokong yang terlalu
besar ternyata tidak efektif. Ini terbukti dari hasil analisa pada
populasi orang dewasa di negara Barat," kata Chan.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti melibatkan 50 pasien sebagai
responden pria dan wanita dengan usia antara 21-87 tahun. Semua
responden menerima suntikan obat melalui bokong. Setelah itu, para
responden dijadwalkan mengikuti analisa menggunakan CT Scan.

Para peneliti kemudian menyuntikkan obat bersama satu mililiter udara,
lalu CT Scan melacak keberadaan gelembung udara dan obat tersebut. Ini
untuk mengetahui apakah obat benar-benar telah masuk ke dalam jaringan
otot, atau terhenti dan terganggu karena lemak.

Bagian atas bokong atau seperempatnya merupakan area di mana suntikkan
obat dilakukan. Wilayah ini memiliki relatif sedikit urat saraf,
tulang, dan lebih banyak pembuluh darah. Namun, banyaknya pembuluh
darah pada area ini justru membuatnya rentan mengalami gangguan.

Terbukti, berdasarkan hasil CTScan yang dianalisa oleh tim peneliti,
hanya 32 persen suntikan obat pada bokong besar yang benar-benar mampu
mencapai jaringan otot. Sementara sisanya terhenti dan terganggu oleh
sel lemak. Kasus ini lebih banyak ditemukan pada wanita ketimbang pria.

Perbandingannya 56 persen pria berbokong besar suntikan obatnya masih
bisa mencapai jaringan otot. Sementara pada wanita hanya 8 persen atau
dua dari 25 responden. Chan masih belum bisa menyimpulkan seharusnya
berapa banyak obat yang diberikan kepada orang dengan bokong besar
agar efektif. (okz)

Kirim email ke