Mejuah-juah permilis sirulo
Mejuah-juah Joey
 
"SPIRIT"
semangat, kemauan, will, willpower atau the power of the will . . . 
Ku erti-ertiken ndai kai maksud Joey alu kata SPIRIT. Enca ku oge-oge ka 
mulihken maka kuakap bagi mirip ras kemauan atau will nina kin deba. Kemauan 
atau will enda kapken bagi semacam vektor nina kin bas ilmu pesawat nai ku 
inget. Je lit kekuatan ras arahna kekuatan enda. Sebab ia semacam kekuatan maka 
banci ka i sibari uga kuatna kekuatan enda (panjang vektor). Banci ka la lit 
kekuatenna, mate atau lemah. Enda terjadi kang bas Joey ibas ungkapen ukurna. 
Kai kin sierbahan kuat atau lemah kekuatan enda. Faktor extern tersinget Joey 
(kesedihan menimpa dirinya), tapi lit kang faktor intern (stimulasi intern). 
Pengalamen Joey si iturikenna bas essay gendek enda cukup melala ertina man 
bana bagepe mungkin kang man pelajaren man banta sidebanna, nginget Karonta, 
sebab kai pe icubekenna teridah tujuanna ku Karonta. Melestarikan budaya Karo 
nina. Payo kin. Suka dukana, bangun jatuhnya spiritna bas relatif jangka pendek 
mereken kesan proses the power of the will
 adah ndai. Man bangku jadi sada dorongan tersendiri uga sekalak anak muda Karo 
jatuh bangun dan bangun dan bangun lagi menghadapi situasi extern diluar 
kehendak. Erbahan aku teringet sada ende-ende "sada pemere Dibata, siwah upah 
latih" (la kuinget pasti ende-endena). Tapi cocok kuakap ras kai si enggo gigih 
idalanken Joey. Ia la ngikuti kata-kata negatif walaupun indah bas expresi way 
of thinking Karo misalna, "bagi ngonggar batang buru", "getem pusuhku", "aku la 
merupa", "geluhku bagi kurmak sampe rakit", "nahe la terjingkangken", "kertang 
daging kubaba" rsd rsd. Tentu enda pe kata-kata seni si mengandung keindahan 
seni tersendiri. Pengaruhna man singatakensa atau si ngogesa, atau si 
ngerasakensa, enda me si la kuakap cocok ibas perkembangan pikiran dinamis. Lit 
efek hambatan ije, . . . kuakap. 
Ibas teaterna 4 th silewat (Karo Dibalik Topeng) Joey enggo kang berhasil 
encidahken kedinamisen perukuren enda. Pemikiren bas drama monologna sanga e: 
"menjadi seorang Karo mengakibatkan hidup lebih banyak dipayungi oleh kepahitan 
dibanding kebahagiaan" nina, la ndauh bas erbage-bage expresi (ungkapan) Karo 
idatas. Ijenda bagepe ibas essai SPIRIT jelas teridah pemberontakenna ngepkep 
pelestarian ras perkembangan dinamis budaya Karo. 
Selamat berkarya Joey
Bujur ras mejuah-juah
MUG--- In [email protected], Aron on Arts <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
 
Catatan Panggung Jelang Pawang Ternalem 
SPIRIT 
Saat itu Juni 2006, sebulan setelah kami meraih rekor MURI untuk dua 
pertunjukan di Bandung yaitu Gertak Lau Biang (Joey Bangun) dan Waiting for 
Godot (Samuel Beckett) dalam festival drama 7 bahasa 36 jam nonstop. Siang itu 
kami bertemu di sebuah rumah di daerah Cempaka Putih Utara milik seorang 
Sebayang salah satu direktur BUMN di Sumut saat ini. Kami itu adalah saya 
sendiri, Sion Junita br Sembiring, dan Anita br Pinem (kakak dari pemain 
sinetron Ana Pinem alias Mbok Tum). Yang kami bicarakan adalah konsep. Konsep 
untuk sebuah program ke depan. Saya menyarankan untuk mementaskan Pawang 
Ternalem. Karena cerita ini unik dan punya kekuatan sendiri. Akhirnya setelah 
berdiskusi kami menetapkan untuk mementaskan drama itu tanggal 13 Oktober 2006 
di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Saya menjadi sutradaranya, Sion 
Junita menjadi Pimpinan Produksinya, dan Anita br Pinem di bagian artistik. 
Kami kemudian sepakat visi dan misi pertunjukan ini adalah
 untuk pengembangan dan pelestarian kebudayaan Karo. 
Gedung pertunjukan sudah dibooking lengkap dengan DP. Proposal sudah 
dijalankan. Beberapa pihak sudah membuka hati untuk membantu produksi ini. 
Publikasi sudah disounding di milis Seniman Karo. Tapi semua spirit yang kami 
kibarkan ternyata bisa begitu saja hancur lebur. Ayahanda saya tercinta 
menghembuskan nafasnya terakhir. Kabar itu datang di suatu pagi cerah. Ketika 
itu saya belum bangun pagi. Seorang bibi menelpon saya dan mengabarkan. Berita 
itu serta merta menyurutkan spirit saya. Hal ini tentu saja berimbas ke 
teman-teman lain. Akhirnya saya harus berkabung untuk menghormati ayahanda saya 
tercinta dan kemudian memutuskan bahwa Pawang Ternalem untuk sementara ditunda. 
Keputusan saya ketika itu berakibat cerai berainya spirit teman-teman lain. Dan 
seperti sebuah barisan, akhirnya kami bubar dan kembali ke tempat/posisi kami 
masing-masing. 
Setelah masa berkabung usai, pikiran saya masih mengiang tentang Pawang 
Ternalem. Saya mencintai cerita ini dan selalu berpikir untuk mementaskannya. 
Lalu saya mencoba satu cara. Yaitu berbicara dengan orang yang peduli pada 
kesenian Karo. Orang itu seorang pengusaha Karo. Dia telah mempersatukan semua 
Seniman Karo di Jakarta dalam proyeknya dengan bendera Kesaint Blanc. Nama 
orang itu Antonius Bangun. Dulu tahun 2006, pak Anton pernah saya beri proposal 
Pawang Ternalem dan dia sangat antusias meresponnya. Pernah saya terkejut 
olehnya. Dia datang ke acara ngapul-ngapuli untuk kedukaan saya di GBKP Jakarta 
Pusat, dia berdiri kemudian berbicara di depan semua jemaat, "Saya tidak mau 
tahu. Spirit Joey harus tetap kuat walau ada kedukaan ini. Pawang Ternalem 
harus jalan!" 
Saya terkejut mendengar kata-katanya. Seolah dia berusaha membangkitkan spirit 
saya. Tentu saja saya senang mendengarnya. Apalagi dari dulu saya mengagumi Pak 
Anton setelah melihat semua dedikasinya pada Karo dan Seniman Karo dalam setiap 
produksinya. Saya terlecut kembali. Suatu hari kami bertemu di gereja saya 
katakan padanya, "Mohon saran dari bapak untuk Pawang Ternalem ini." 
Pertemuan pertama itu dihadiri 4 seniman plus Pak Anton sebagai tuan rumah. Ada 
saya, Julianus Limbeng, TariganU, dan Alasen Barus. Saya yang memimpin diskusi 
dengan mengetengahkan tentang Pawang Ternalem. Hari ke-2 diskusi dihadiri saya, 
TariganU, Alasen Barus, dan penari lulusan IKJ Juni br Tarigan. Tetap saja 
diskusi berjalan di tempat nyaris tanpa perkembangan. Kita sudah mengundang 
semua Seniman Karo Jakarta berkumpul untuk duduk berdiskusi bersama. Tapi tidak 
ada yang datang. Artinya mereka memang tidak peduli. Bahkan ada selentingan 
yang beredar kabar kalau Pawang Ternalem adalah proyeknya Joey Bangun. 
"Ya Tuhan!" saya pikir saat itu. Saya dan Pak Anton mengumpulkan para Seniman 
Karo untuk mendengar aspirasi mereka tentang Pawang Ternalem. Bukan karena ini 
proyek saya pribadi. Bukankah para seniman itu juga akan ketiban rezeki kalau 
proyek ini bisa jalan. Saat itu, sebagai Seniman Karo pendatang baru dan masih 
dianggap sebelah mata oleh mereka, saya hanya tersenyum nanar. "Saya akan 
buktikan!" kata saya saat itu. 
Setahun saya pasang strategi. Saya harus mengangkat nama saya dan Teater Aron. 
Pertunjukan Karo dibalik Topeng dan Inlander yang mengangkat tema Karo di tahun 
2007 menjadi bukti eksistensi komunitas seni ini. Saya tidak pernah menolak 
tawaran untuk menangani drama-drama yang melibatkan komunitas Karo baik di 
kalangan gereja ataupun arisan merga. Mereka harus kenal saya dulu, pikir saya 
saat itu. Saya tidak pernah berpikir tentang uang ataupun materi. Yang penting 
orang Karo harus tahu siapa saya dulu. 
Hasilnya cukup membuat saya tersenyum. Orang-orang sudah mengenal saya. Ketika 
saya hadir di berbagai acara baik kerja-kerja ataupun acara masyarakat Karo 
banyak orang menyapa saya. Tokoh-Tokoh Karo yang selama ini saya kagumi 
berakibat feedback pada saya. Mereka senang pada saya. Buktinya, saya bisa 
menduduki jabatan Kepala Departemen budaya dan Pariwisata DPP Himpunan 
Masyarakat Karo Indonesia (HMKI). Dan saya menjadi orang termuda yang memegang 
jabatan kepala departemen di organisasi ini. 
Melihat kapasitas yang saya bangun setahun ini, suatu hari saya kembali lagi 
pada Pak Antonius Bangun. Saya katakan padanya, "Aku ingin kembali mementaskan 
Pawang Ternalem." Saya datang padanya dengan spirit baru. "Apa yang kau 
butuhkan?" katanya. "Aku ingin meneliti cerita ini agar bisa menampilkan 
seperti aslinya." Dia mengangguk. Pertemuan kami bertiga di rumahnya, saya, Pak 
Anton, dan Alasen Barus menjadi awal kebangkitan spirit ini. Terjadi sebuah 
kesepakatan. Saya menulis naskahnya, dan Alasen Barus sebagai pembuat lagu 
soundtracknya. Lalu Pak Anton mensponsori saya hingga tiba di kuta Jenggi 
Kemawar November lalu dalam rangka riset dan penelitian. 
Data yang saya kumpulkan menjadi bukti keseriusan saya. Pak Anton senang. 
Alasen Barus juga senang. Orang-orang disekeliling saya senang. Saya bertekad 
tahun 2008 ini Pawang Ternalem harus dipentaskan. Spirit saya telah kembali. 
Saya berjanji pada masyarakat Karo spirit saya akan Pawang Ternalem akan 
menjadi spirit bagi kita semua. Spirit itu menyatu dengan misi pelestarian dan 
pengembangan seni budaya Karo. 
Bujur ras Mejuah-juah kita kerina 
Jakarta, 30 Mei 2008 1.07 
Joey Bangun 
Direktur Artistik Teater Aron 




      __________________________________________________________
Ta semester! - sök efter resor hos Yahoo! Shopping.
Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum här:
http://shopping.yahoo.se/c-169901-resor-biljetter.html?partnerId=96914052

Kirim email ke