Kalau sudah tali pinggang memang bakalan lebih "Pelcik ", batal deh beli
mobil bekas.
Lebih baik beli susu ank dan lipstik istri biar nggak bakan puyeng mimirin
BBM ketika
melihat anka yang sehat, dan istri yang maniiiiiis. Haaaaa

Ula puyeng kade-kade, nanti bakan cepat tua, dan tidak sempat jadi mertua,
rugiiiiii!

Nande Iting

2008/5/27 Adhytia <[EMAIL PROTECTED]>:

>    ya bener.....
> dan jika tidak ada subsidi... maka bisa di bilang itu adil.....
> dan saya sebagai pegawai swasta kelas rendah harus merogoh kantong lebih
> dalam lagi dan mengetatkan ikat pinggang yang sudah pelcik ini untuk
> menghidupi anak dan istri...
> Bravo untuk pemerintah yang sudah sukses menaikkan BBM 3 kali dalam 4 tahun
> terakhir ini.......
>
>
>
> ----- Original Message -----
> *From:* Anthony Malem Ukur <[EMAIL PROTECTED]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Monday, May 26, 2008 8:56 PM
> *Subject:* Re: [tanahkaro] Ketololan Budiono dan Sri Mulyani
>
>  MJJ;
>
> Jangan terlalu emosional menaggapi kenaikan BBM....
>
> Sebenarnya kita mendapatkan informasi kalkulasi
> tentang harga BBM sangat minim sekali...
> di milis tetangga ( MIGAS ) oleh rekan2 yg
> berkecimpung diminyak menjelaskan kenapa mesti harus
> naik BBM mengikuti pasar yg di buat oleh US...
>
> secara pribadi, aku lebih suka ikut pasar
> internasional(tanpa subsidi) kerena ygbanyak menikmati
> subsidi bukan saya..tapi para pemodal ( orang kaya)
>
> Dengan kenderaan biasa yg aku miliki hanya
> menghabiskan bensin 1 bulan kira2 100 liter, smentara
> orang kaya dengan mobil mewah tanpa pernah berhenti AC
> dan jalan menghabiskan lebihdari 500 liter perbulan.
>
> Bila di subsidi maka merekalah yg paling
> mendapatkannya...
>
> bujur
>
> --- pelangiharum <[EMAIL PROTECTED] <iapulina%40yahoo.com>> wrote:
>
> > --- In [EMAIL PROTECTED]<Forum-Pembaca-Kompas%40yahoogroups.com>,
> "HMT
> > Oppusunggu" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > (sebarkanlah tulisan ini ke seluruh pelosok
> > Sabang-Merauke)
> >
> > NEGARA INDONESIA INI TERKUTUK MENGULANGI KESALAHAN
> > SEJARAHNYA, KARENA TIDAK BELAJAR DARI KESALAHAN
> > SEJARAHNYA YANG
> > LAMPAU.
> > (paraphrase ucapan Anwar Sadat)
> >
> > Kesarjanaan Tinggi.
> >
> > Team Ekonomi Kabinet SBY, khususnya Budiono, Sri
> > Mulyani, tapi juga
> > Purnomo Yusgiantoro dan Sofyan Djalil, sekalipun
> > menyandang tingkat
> > kesarjaan ekonomi tertinggi dan lulusan dari
> > Universitas tersohor di
> > Amerika Serikat, namun membingungkan, mengapa mereka
> > melakukan
> > kesalahan fundamental melenceng dari teori dan hukum
> > ekonomi
> > elementer sekalipun.
> >
> > Anak SMEA sendiri, tahu benar bahwa harga,
> > permintaan dan penawaran
> > berhubungan fungsional satu sama lain. Bila
> > permintaan naik harga
> > akan naik atau bila penawaran naik harga akan turun.
> > Atau bila harga
> > naik, maka permintaan akan turun pada suatu tingkat
> > keseimbangan di
> > mana jumlah permintaan akan sama dengan jumlah
> > penawaran.
> > Namun dalam hal kenaikan harga BBM, 24-5-2008,
> > prinsip elementer
> > ekonomi tersebut diabaikan total oleh Team Ekonomi
> > Kabinet SBY.
> >
> > Timbul pertanyaan apakah kesarjanaan Team ini bukan
> > yang dikatrol
> > oleh 'CIA'-Ford Foundation belaka dalam 'Mafia
> > Berkeley' yang disetir
> > dan sudah diperhitungkan dari semula akan berkuasa
> > kelak di
> > Indonesia? (Soal 'Mafia Berkeley' ini sudah dikupas
> > dalam buku
> > 'Tsunami Bangsa Ini' terbitan LSKN).
> > Siapa yang tidak penasaran menyaksikan ketololan
> > dari Team Ekonomi
> > Kabinet SBY ini yang -tanpa dasar dan prinip
> > ekonomi- begitu tega
> > menaikkan harga BBM yang menyengsarakan rakyat
> > kecil, sambil menutupi
> > kejahatan mereka tersebut dengan menyandiwarakan
> > jiwa sosial yang
> > pura-pura sangat tinggi terhadap rakyat dengan
> > menyalurkan subsidi
> > BLT-'ratusan perak' yang tidak berarti apa-apa.
> > Namun tidak dapat
> > disangkal bahwa BLT diciptakan hanya untuk
> > menutup-nutupi 'triliunan-
> > perak' subisidi lain dari APBN yang disalurkan
> > seenaknya oleh Sri
> > Mulyani . Menteri keuangan ini justru menganggap
> > dirinya seorang ahli-
> > fiskal, padahal dia ahli-pembukukuan-elementer
> > (boekhouding) pun
> > tidak! Masa' menghadapi lonjakan harga minyak di
> > atas $120 per
> > barrel, Sri Mulyani merumuskan 86 skenario untuk
> > ditentukan
> > pilihannya oleh Presiden? Dalam republik negara
> > hukum ini Undang-
> > Undang Dasar Pasal 31, (4) sendiri bisa dilanggarnya
> > mentah-mentah,
> > bebas sebebas-bebasnya dengan 'impunity'.
> >
> > Pelanggaran Prinsip-Hukum Harga dalam Kenaikkan
> > Harga BBM dan
> > Pemberian BLT.
> >
> > Prof. DR Budiono menyanyikan teori harga ngawur:
> > Pemerintah akan
> > menyamakan harga BBM di dalam negeri dengan harga
> > minyak di pasar
> > internasional. Ini dilakukan karena anggaran subsidi
> > (APBN) akan
> > ditekan lebih rendah dan Pemerintah ingin
> > menyerahkan harga BBM pada
> > penyesuaian otomatis dengan harga dunia. Pada 15 Mei
> > 2008, harga jual
> > di Indonesia hanya sebesar Rp 4500 per liter. Dengan
> > kenaikan sekitar
> > 30%, harga jual premium per liter menjadi Rp 6000
> > per liter. Artinya,
> > Pemerintah akan menyubsidi Rp 3450 per liter.
> >
> > Prof.Chatib Basri dari Univ. Indonesia dan LPEM-UI
> > menyajikan teori
> > fiktif: Subsidi BBM per liter adalah Rp 4100
> > (selisih antara harga
> > internasional premium Rp 8600 dan harga domestik
> > kepada pemilik mobil
> > adalah Rp 4100 per hari atau Rp 1,200 000 per bulan.
> > Mereka yang tidak memiliki mobil atau motor,
> > memperoleh subsidi BBM
> > melalui transportasi murah. Salahkah jika dari
> > subsidi yang lebih
> > dari Rp 1,200 000 itu dialokasikan Rp 100 000
> > sebulannya bagi
> > penduduk miskin?
> >
> > DR Jusuf Kalla ceplas-ceplos mengedepankan teori
> > saudagarnya: Harga
> > BBM harus naik. Kalau harga BBM tak naik, yang
> > menikmati subsidi itu
> > ialah yang banyak mobil dan yang pakai AC.
> >
> > Teori konyol ini mengingatkan kita kembali pada
> > Menteri Pasar Rumput
> > Mari Pangestu yang mengarang teori 'operasi-pasar'
> > bohong-bohongan:
> > Saya tidak bisa menurunkan harga selain dari memberi
> > subsidi bagi
> > orang miskin, dan untuk itu saya pribadi harus
> > turun ke Pasar Rumput
> > -di Jakarta, Indramayu, Surabaya dll untuk
> > membagi-bagikan sembako
> > bersubsidi tapi bagi yang sangat miskin saja.
> > Padahal Menteri ini
> > dengan mudah bisa menurunkan harga seperti biasanya
> > dengan menambah
> > supply, namun tidak boleh dilakukannya karena harus
> > membantu usaha
> > benalu BULOG memiskinkan para petani. Minyak goreng
> > juga harus saya
> > subsidi bagi orang miskin. Padahal Mari Pangestu
> > bisa dengan gampang
> > sekali menambah pasokan (Indonesia adalah producer
> > CPO terbesar di
> > dunia). Tapi, oleh karena telah menjadi SatPamnya
> > Eka Tjipta -rajanya
> > minyak goreng- yang mengambil kesempatan dari
> > melonjaknya harga CPO
> > dan minyak goreng di pasar dunia- Menteri Pasar
> > Rumput ini dipaksa
> > oleh bossnya untuk membatasi pasokan dalam negeri.
> >
> > Ketiga ahli-ahli ekonomi di atas tadi tidak
> > menyadari dan sama sekali
> > tidak mengerti, mengapa kenaikan harga BBM harus
> > mereka selewengkan
> > dan lepaskan dari prinsip dan hukum ekonomi harga
> > yang lazim, tapi
> > mendasarkannya melulu pada harga minyak dalam pasar
> > internasional di
> > Malaysia, Thailand, Amerika Serikat dsb dsb.
> > Sebab, pembentukan harga minyak atau barang apa saja
> > pada setiap
> > negara berlangsung mandiri dengan sstem dan struktur
> > harga domestik
> > masing-masing tanpa pernah ada hubungan satu sama
> > lain. Kalaupun
> > dalam teori perdagangan internasional, pernah
> > dilakukan perbandingan
> > antara harga barang-barang domestik yang satu dengan
> > harga-harga
> > domestik yang lain, tindakan sedemikian terbatas
> > hanya pada usaha
> > untuk memperoleh tingkat kurs mata uang dalam
> > hubungan transaksi
> > valas antar-negara. Tapi tindakan seperti itu tidak
> > pernah dilakukan
> > dan dipertimbangkan dalam memperbandingkan harga
> > minyak atau satu
> > per satu harga barang lain, baik yang ditransaksikan
> > apalagi yang
> > tidak ditransaksikan antar-dua negara. Jadi,
> > perbedaan harga minyak
> > di Indonesia dengan harganya di Malaysia atau
> > Thailand sama sekali
> > tidak menjadi tolok ukur apa-apa bagi suatu tindakan
> > atau peraturan
> > untuk menaikkan harga BBM seperti yang dinyanyikan
> > Budiono.
> >
> > Apakah subsidi yang sebenarnya fiktif saja dinikmati
> > para pemakai BBM
> > di Indonesia akan turun atau diturunkan Budiono,
> > sekiranya nanti
> > harga minyak turun menjadi $90 per barrel, dan
> > apakah harga BBM di
> > Indonesia akan sekaligus diturunkan Budiono dan
> > dalam pada itu
> > subsidi APBN akan diturunkan pula oleh Sri Mulyani?
> >
> > Bagaimana harga BBM akan diturunkan apa tidak, jika
> > kurs Rupiah
> >
> === message truncated ===
>
> 
>

Kirim email ke