Jumat, 30 Mei 2008 07:15 WIB
Aksi Serangan Fajar Undang Keprihatinan
WASPADA ONLINE
(BERASTAGI) -
Serangan fajar ratusan anggota Sat Pol PP Pemkab Karo dibantu
pengamanan pihak Polres Tanah Karo merubuhkan bangunan balai-balai
pedagang pasar buah Berastagi dengan chainsaw Rabu (28/5) pukul 05.30
mengundang keprihatinan warga, tokoh masyarakat dan pengurus LSM.
Sementara, para pedagang balai-balai pasar buah Berastagi masih
bersemangat melanjutkan pejuangannya. Kamis (29/5) pagi 45 pedagang
mendatangi DPRD di Kabanjahe menyampaikan aspirasi atas tekanan Pemkab
karo kepada pedagang kecil.
Ada juga pedagang yang mendirikan Posko dan memasang poster yang
berisi kecaman kepada Bupati Karo yang dianggap tidak berpihak kepada
pedagang kecil. Spanduk dipasang depan pasar buah Berastagi .
Di samping itu ada pula pedagang yang membongkar sisa reruntuhan dengan
harapan masih dapat mengumpulkan barang barang dagangannya yang masih
bisa terpakai, baik untuk dijual maupun digunakan sendiri.
Koresponden Waspada dari Berastagi melaporkan, aksi
keprihatinan yang dilakukan sejumlah warga bersama tokoh masyarakat
Maju Ginting, Ketua LSM Panji Demokrasi Chici Ardy, Semangat Purba dari
Jaringan Nusantara dan Nampati Tarigan, Mimbar Pencawan bersama
sejumlah warga masyarakat Berastagi mendatangi para pedagang untuk
melihat dari dekat peristiwa yang dialami para pedagang kecil itu.
Kehadiran mereka disambut para pedagang dengan membawanya keliling
lokasi yang sudah rata dengan tanah dan selanjutnya membawa ke Pentas
II Taman Pesta Mejuah-juah Berastagi untuk mendengarkan aspirasi
pedagang.
Anggota DPRDSU mengecam cara-cara dilakukan Pemkab Karo membongkar
paksa kios buah di Brastagi, sehingga menimbulkan kericuan. “Kita
protes, cara seperti itu sangat kita sayangkan. Itu menunjukkan
ketidakmampuan Pemkab Karo berkomunikasi dengan rakyatnya,” kata Edison
Sianturi, anggota dewan daerah pemilihan Karo, Dairi dan Pakpak Bharat
kepada wartawan di Medan, Kamis (29/5).
Wakil Ketua Komisi A membidangi pemerintahan dan hukum itu mengatakan,
watak dan karakter suku Batak Karo sudah terkenal ramah dan toleran,
juga sangat gigih dan tutur katanya lemah lembut.
Kemarahan masyarakat tersebut kata dia, tentu dipicu oleh sesuatu hal
cukup besar, yang seharusnya tidak perlu terjadi seandainya Pemkab tahu
cara berkomunikasi dengan rakyatnya. “Begitu lama waktu berlalu, namun
proses sosialisasi dilakukan Pemkab kita nilai gagal,” sebut politisi
Partai Patriot Pancasila tersebut.
Menurut Edison, rencana relokasi pembangunan pasar buah sudah
berlangsung lama, namun selalu terken-dala karena perundingan yang
belum tuntas.
Pemkab kata dia, hanya sukses membangun kantor bupati, itupun karena
tidak ada pegawai yang berani protes. “Di Kabupaten Dairi sekarang juga
sedang dibangun pusat pasar, namun tidak ada gejolak seperti di Karo,”
sebutnya.
Tentang pengusiran wisatawan oleh pedagang yang marah, Edison ber-harap
pedagang tidak terpancing de-ngan emosi sesaat. “Kita tidak setuju
tindakan tersebut karena mereka datang tidak ada kaitan dengan masalah
pasar buah, malah akan menimbulkan image kurang baik nantinya.”
Menjadi pertanyaan dalam masa-lah ini, kenapa DPRD Karo tidak
dili-batkan untuk berkomunikasi sebelum-nya dengan rakyatnya
(pedagang).
“Se-benarnya itu jauh lebih efektif, karena DPRD merupakan wakil
pedagang pasar buah di pemerintahan daerah Karo yang berkewajiban
menyerap aspirasi dan menyampaikannya ke-pada eksekutif.”
Ibarat drainase yang tumpat kata Edison, akan mengakibatkan banjir di
mana-mana, komunikasi yang tidak baik juga akan menuai protes
dimana-mana.
Lapor
Sementara, dalam pertemuan yang digelar, para pedagang sepakat akan
mengadukan Kepala Kantor Dinas Pendapatan Kabupaten Karo Suingly
Sitepu, Kepala Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Pemkab Karo dan Ka UPT
Pasar Berastagi Tamat Purba ke Polres dan Polda Sumut.
Pengaduan tersebut karena pem-bongkaran yang dilakukan anggota Sat Pol
PP telah menyalahi prosedur.
Menurut pedagang, pihaknya me-ngadukan hal ini kepada pihak berwajib
mengingat aksi pembongkaran balai balai tempat berjualan dilakukan
ratu-san personil sekira pukul 05:30 karena berada di luar jam dinas.
Dalam aksi itu banyak pedagang yang tidak sempat menyelamatkan barang
dagangannya, sehingga menjadi rusak dan tidak dapat digunakan lagi
mengakibatkan peda-gang mengalami kerugian.
Di samping itu, pedagang yang menolak pembangunan pasar buah yang
bersumber dari APBN dan diku-curkan dari Kementerian Koperasi.
Pembongkaran yang dilakukan mem-buat pedagang tidak memiliki lokasi
untuk berjualan sehingga menderita kerugian yang lebih besar terlebih
lagi di saat musim libur sekolah.
Ketua Perwakilan Pedagang, Tho-mas Ginting mengatakan, selain membuat
pengaduan ke Polres Tanah Karo dan Poldasu pihaknya juga segera akan
menggelar kembali dagangannya di lokasi pasar yang telah dirubuhkan.
Menurut Thomas keputusan ini harus ditempuh dan siap menghadapi segala
risikonya.
Kepala Dispenda Pemkab Karo, Swingli Sitepu yang dihubungi melalui
telepon selulernya mengatakan pihak-nya siap menghadapi tuntutan para
pedagang dan hal itu sah-sah saja. Dan pihaknya juga siap untuk
meng-ikuti proses hukum.
Sedangkan mengenai akan ditem-patinya kembali lokasi pembongkaran,
Swingli mengatakan, hal itu tidak da-pat dilakukan pedagang, karena
pihak-nya juga telah menyiapkan lokasi tem-pat penampungan sementara di
pela-taran parkir Taman Mejuah-juah Berastagi. (a17/m11)
Teks foto: Sejumlah poster berisi kecaman terhadap Bupati Karo dipajang
pedagang pasar buah dan menjadi perhatian para wisatawan serta
pengendara yang melintas. Foto direkam, Kamis (29/5)
Credit foto: Waspada/Dickson Pelawi
(wns)
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net