MJJ,
Apa yang dikemukakan JG, MUG, JH tarigan dan Eddy memang benar.. dan fakta. 
Pada waktu lahan pertanian masih demikian suburnya....Karo memang leading dalam 
usaha pertanian khsusnya hortikultura..... Pada saat kondisi lahan sudah 
berubah.... jadi kurang subur (sebagian besar karena dampak perlakuan yang 
tidak seimbang)... pasti solusi dengan pendekatan ilmiah menjadi suatu harapan. 
Desember 2007 yang lalu, kebetulan saya diskusi dengan 2 orang expert pertanian 
dari Belanda (yang diperbantukan oleh PUM-Belanda ke PT.Merek Indah Lestari 
(Sekarang Simalem). Mereka kagum sekali dengan  Pertanian Karo, tapi selain 
kagum mereka "sangat heran" mengapa Karo tidak memiliki "Soil Laboratory". Aku 
cuma bilang... sedang di rencanakan (entah kapan....ya)

Selama "jalan-jalan" ke Bogor, saya diundang diskusi oleh  teman-teman dosen 
senior di IPB (saya sendiri gak pernah sekolah di Bogor), dan mengunjungi 
beberapa laboratorium untuk pengujian unsur macro dan beberapa unsur micro dari 
tanah dan pupuk di IPB yang di kelola teman saya dengan manajemen swasta 
(komersil). Ternyata untuk setting-up laboratorium yang di kelola (yang telah 
mendapat sertifikasi), dana yang dibutuhkan membutuhkan sekitar 400 jutaan 
(diluar bangunan gedung). Saya jadi merenung, seandainya Karo punya 
laboratorium sendiri.... sudah hampir pasti pemalsuan pupuk secara significant 
akan dapat dikurangi, juga penggunaan pupuk akan dapat dihemat karena dapat 
disesuaikan dengan kebutuhan lahan.
Duit yang 400 jutaan memang besar untuk ukuran  Per"baroeng" seperti kami... 
tapi relatif akan menjadi tidak besar bila dibandingkan dengan APBD karo yang 
600 an miliar.... atau dibandingkan dengan pembelian mobil dinas.....

Berbicara pertanian... memang menyangkut banyak hal... tapi yang paling 
mendasar adalah pemahaman  tentang tanah (soil).....dan untuk  hal ini orang 
karo banyak yang sudah jago (dengan reputasi internasional).

Pertanyaannya.... apakah masih ada kemungkinan Pemda  didukung olah DPRD 
"berniat" untuk itu (atau memang tahun ini  akan dibangun..???..... kalau ya... 
puji Tuhan) , atau haruskah kita menunggu setelah 2010, pada saat tetangga kita 
sudah semakin kuat dan melibas kita??
Regards,
Per:baroeng"Peceren

Radio Karo Accees Global <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             
Beberapa Hari yang lalui saya sudah membuat sebuah ilustrasi, hati hati banyak 
pihak yang lagi gencarnya memecah persatuan karo. pecah sitik habis bumi turang 
ini..

Dulu ada isu tapanuli sudah mengembangkan tanaman jagung, petani karo geger 
setengah mati. pas di cek ke tapanuli tak ada jagungnya .. Hati hati, karena 
banyak yang tau masyarakat karo sekarang banyak yang jantungan, jadi digertak 
gertaklah trus... biar banyak yang meninggal, pertahanan karo dari sumber daya 
manusia Kurang, masih tetapkan bertahan di kampung orang ? 
 
Bujur


On Sun, Jun 1, 2008 at 3:09 AM, jonihendra tarigan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
                                  

Mjj Pa,

Mungkin tah aku ipupus perbarung2,,tertarik kel aku masalah pertanian i 
cakapken. Terleih hal itu juga menyangkut SURVIVAL karo. Dari semua 
peyelenggara yang turun ke lapangan semua kalak Karo. Sudah jelas juga, karena 
memang karolah yang duluan berkembang mengenai pertanian. Wajar sekali. 
Kekawatiran seperti Malaysia yang dulu belajar dari Idonesia kemudian Indonesia 
tertinggal, saya kira bijak kalo kita merenung, tapi sangat tidak bija merenung 
terlalu lama.
 Tanpa perlu analisa yang mendalam, kita pasti sudah tau KARO akan tertinggal, 
kalo tidak ada pergerakan.

2 ato 3 minggu yg lalu, RBK mewawancarai pak Sitepu dari Sukanalu sebagai Ketua 
KPK di Tanah Karo. Lewat SMS saya tanya"  Bagaimana kita2 penyelamatan 
pertanian tanah karo, kalo keadaan saat ini sangat terpuruk. PUPUK LA TERTUKUR, 
HASIL PANEN LA LIT ERGANA".

Pak sitepu memberikan beberapa argumentasi. Bgini kira2:
KALAK KARO BIASANYA IA AKAPNA SIJAGONA BAS PERTANIAN ENDA, adi lit bage 
penyuluhan pertanian, beluhen nge akapna bana. Lanai nggit ia i ajari. Masalah 
tehnik pengolahan tanahlah, penggunaan pestisidalah,,  nggo kalak karo akapna 
si jagona. Secara tidak langsung tertutup untuk belajar.
 
Hasilnya KENTANG tanah karo tidak layak EXPOR ke AUSTRALIA karna kadar 
pestisida terlalu tinggi. Jeruk juga demikian, penanganan hama dan penyakit 
dengan gampangnya ditanggulangi dengan MENGGANDAKAN dossis pestisida. Akibatnya 
expot tidak akan tembus karan kelebihan kadar racun.
 
Melala kel kalak karo singgo jadi insinyur pertanian, tapi lebih terbuka di 
luar karo unguk menyerap ilmu mreka, DAIRI DAN TAPANULI contoh nyata.

YEA,,adi kita, terjeng si  eteh janah banci si baca situasi enda, paling lang 
KADE2NTA LAH GIA SI PESEH KERNA SI enda,,enda pe MASA DEPAN KARO NDAI KAN  NGE,,

Mjj kita kerina.

Joni HEndra Tarigan-NL
 ----- Original Message ----
From: MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
 Sent: Sunday, June 1, 2008 2:14:45 AM
Subject: [tanahkaro] Belajar dari Karo, belajar menyaingi Karo


  Belajar dari Karo, belajar menyaingi Karo
Dari postingan Si Laga Man Jeruk Menjadi Andalan Taput bagepe Alexander soal 
Petani Dairi Pelatihan Pertanian Organik di Karo, jelas me si idah uga 
perdalanen perkembangan dunia, disini Karo dan  daerah sekelilingnya, 
melibatkan semua penggerak pertanian, dan mau tak mau pemerintah daerahnya 
menceburkan diri dalam pertandingan , persaingan, pasti juga bisa dikatakan 
demi survival masing-masing daerah. Perkembangan Karo berada didepan dimasa 
lalu sudah semakin terdesak, pengetahuan dan pengalamannya bakal diambil dan 
ditrapkan didaerah lain pertama untuk survival dan kedua untuk menyaingi Karo 
yang tadi sudah duluan. Harus saya ingatkan bahwa disini tidak ada yang  jelek, 
apa yang diperbuat oleh daerah sekeliling Karo, mengambil pengetahuan Karo 
dengan belajar secara tulus dari pengetahuan dan pengalaman Karo adalah sikap 
yang patut dipuji, hormat dan ilmiah. Akibatnya atau kesudahannya nanti Karo 
akan kalah atau malah mati pertaniannya karena tersingkir dari persaingan,
 termasuk perjuangan dan survival kemanuisaan pada umumnya dan disini 
ethnicgroups self-assertion khususnya. Faktor intern Karo akan menentukan 
bagaimana nasib Karo, bukan faktor extern. Daerah Sumbar pernah belajar 
bagaiman menangani bunga dan bibit bunga, sekarang mereka sudah menguasai, dan 
banyak bunga dari daerah itu. Kita masih ingat bagaimana pada th 70an Malaysia 
belajar dari Indonesia hampir dalam segala hal. Sekarang . . . yah, tidak bisa 
menyalahkan negeri tetangga kalau kita sudah ketinggalan, dan jauh ketinggalan. 
Apakah Karo akan bernasib yang sama dibandingkan tetangganya?
 "saya yakin kita akan  merenung sejenak" kata Si Laga Man. Marilah kita 
renungkan sambil berhari Minggu. 
Bujur
MUG


---------------------------------
 Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkopplin g.
Sök och jämför hos Yahoo! Shopping. 






             
                 
                      



 
     
                                       

       

Kirim email ke