Minggu, 01 Juni 2008 11:07 WIB          
                
                        
                                                        
                                        Saling Libas Antar Jenderal             
                                                        
                                                        
                                
                                        
                        
                                                        
                                        
                                                
                                
                                                        
                                
                                        
                        
                                                
                        
                        
                
                                
                        
                                GIGIN PRAGINANTO

INILAH.COM



(JAKARTA)
- Mereka kaya-raya, berambisi jadi presiden, dan mulai saling hantam.
Kesejahteraan rakyat dijadikan ‘amunisi’. Tapi tak gampang memikat
keluarga prajurit yang umumnya masih hidup miskin.



Meski belum diumumkan, puluhan miliar rupiah telah mereka habiskan
untuk beriklan. Dan, masih puluhan, mungkin bahkan sampai trilunan
rupiah, akan mereka habiskan untuk memenangi Pemilu 2009.



Jadi, jangan heran bila para eksekutif stasiun TV dan radio, media
cetak, dan portal berita kini menjadikan mereka primadona. Sebab, kata
beberapa eksekutif stasiun TV swasta, tak hanya nilai kontrak yang
besar, tapi pembayarannya juga lancar.



Wiranto, Sutiyoso, dan Prabowo Subianto adalah tiga mantan jenderal
yang kini sedang jadi buruan utama para account executive media-media
massa. Maklum, mereka memiliki dana politik sangat besar dan boros
dalam beriklan, baik yang bersifat langsung atau terselubung. Apalagi
mereka juga tampak sangat berambisi menjadi Presiden RI periode
2009-2014.



Secara ideologis, para jenderal itu tak berbeda. Mereka semua mengaku
Pancasialis sejati dan berpihak kepada wong cilik. Lawan utama mereka
juga sama, yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Jadi yang
membedakan mereka pada dasarnya adalah ambisi pribadi. Dan untuk ini
mereka agaknya siap untuk saling libas.



Unsur dendam jelas tak bisa diabaikan dalam hal ini. Utamanya
menyangkut Prabowo Subianto, yang dipecat pada 1999 ketika Wiranto
masih menjadi Panglima TNI. Ketika dipecat, Prabowo adalah jenderal
yang sedang naik daun berkat posisinya sebagai menantu Presiden
Soeharto.



Pemecatan itu dadasari oleh dua kesalahan besar yang dilakukan oleh
Prabowo. Pertama, terlibat dalam penculikan para aktifis. Kedua,
mengerahkan pasukan secara liar di tengah kemelut politik 1998, yang
diduga kuat terkait dengan ambisinya menjadi Presiden RI ketiga.



Bagaimana pun juga, meski kaya, para jenderal itu sampai sekarang hanya
didukung oleh parpol baru dan gurem. Maka, agar bisa terus bertarung,
mereka harus berkoalisi.



Di tengah kian maraknya politik uang, kenyataan ini jelas bakal memaksa
mereka menghamburkan sangat banyak uang, atau tersingkir dari arena
pertarungan. Ini tentu saja karena parpol dan politisi pada umumnya
sedang haus dana.



Sejauh ini, satu-satunya harapan agar bisa irit terletak pada
‘keajaiban’ politik seperti dinikmati SBY pada Pilpres 2004. Hanya
saja, keajaiban ini sampai sekarang belum menunjukkan pertanda akan
muncul. Menurut banyak pengamat, keajaiban itu baru akan muncul bila
ada pihak yang dizalimi.



Dalam Pilpres 2004, penzaliman ini berbentuk pemecatan SBY sebagai
Menko Polkam tanpa alasan jelas oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.
Setelah itu dia juga masih dicerca sebagai “Jendral cengeng yang
seperti anak kecil” oleh suami Megawati, Taufik Kiemas.



Dalam soal massa pendukung, para jenderal itu tentu juga siap berebut
simpati dari keluarga prajurit yang masih aktif dan pensiunan. Apalagi,
jumlah mereka telah mencapai belasan juta orang, dan masih memiliki
solidaritas tinggi sebagai warga keluarga besar TNI.



Hanya saja, seperti kebanyakan orang Indonesia, mereka umumnya hidup
dengan kantong cekak dan telah berulang kali dikecewakan oleh berbagai
janji politik. Maka, banyak dari mereka terkejut dengan hati kecut
menyaksikan para mantan petinggi militer ternyata memiliki duit
berlimpah untuk berpolitik.



Selain itu, tentunya juga masih sangat segar dalam ingatan mereka
kasus-kasus korupsi yang melibatkan petinggi militer. Termasuk
penyelewengan Dana Tabungan Wajib Perumahan Prajurit TNI bernilai
ratusan miliar rupiah, yang sampai sekarang belum tuntas 100%.



Ingat, kasus ini hanya terjadi di salah satu bagian dari jaringan
bisnis TNI yang bernilai triliunan rupiah, dan tidak pernah diaudit
oleh lembaga berwenang. “Bisnis ini hanya menguntungkan sekelompok
kecil perwira di Mabes TNI. Hal ini menyebabkan para prajurit tetap
harus hidup seadanya,” tutur anggota F-PG Yuddy Chrisnandi beberapa
waktu lalu.



Kenyataan yang memprihatinkan itu tentu bisa menjadi ganjalan besar
bagi para mantan jenderal itu untuk menggaet dukungan politik dari
keluarga besar TNI. Kecuali keluarga yang elit saja tentunya.



Credit Foto: Wiranto, Sutiyoso dan Prabowo Subianto (iPhA/Abdul Rauf)

Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net



      

Kirim email ke