Pemilis Sirulo:
 
I beg to be different. 
Ada 2 hal yang membuat saya bersikap berbeda dengan kebanyakan pendapat dalam 
hal ini.
1. Menentang Globalisasi? 
Sepertinya kita hampir semua sudah menyadari bahkan sudah mengikut arus 
globalisasi dengan satu karakter utamanya, mekanisme pasar atau liberalisasi 
ekonomi, tetapi cenderung bereaksi negatif terhadap kebijakan pemerintah untuk 
menyelaraskan harga BBM dengan pasar. 
Kita sepakat untuk memberdayakan ASEAN, kalau perlu se-kuat Uni Eropah dimana 
yang terjadi adalah menyatunya ekonomi dari wilayah2 yang masuk disana. Kalau 
harga minyak di satu negara anggota lebih murah maka semua akan berusaha 
membeli disana. Semuanya merupakan mahluk ekonomi. Yang sering terjadi kalau 
ada disparitas harga adalah pengantrian panjang, pengoplosan sampai 
penyeludupan kelas jenderal. Bagi Indonesia, barangkali isu demikian sangat 
sekunder, tetapi sampai kapankan negara mampu untuk mensubsidi BBM dalam jumlah 
besar??
 
Di dunia tanpa batas, isu'nasionalisme' atau harga diri bangsa dalam penjualan 
aset-aset atau masuknya pihak asing menjadi tidak relevan. Yang lebih perlu 
diingat what's in it for the economy? Bayangkan Telkom dimiliki sepenuhnya oleh 
bangsa Indonesia, tetapi mendatangkan economic benefit yang lebih kecil bila 
dikuasai oleh pihak 'asing.' Pilihan akan menjadi lebih sederhana, bila kita 
menyadari kedahsyatan arus globalisasi. Security issue? Lihat model Jepang, 
pikirkan masalah 'keamanan'ketika ekonomi sudah mapan.
Salah satu alasan yang mengemuka dalam menentang liberalisasi adalah 
ketidakkesiapan masyarakat Indonesia itu sendiri. Kita mengakui belum mampu 
bersaing. Tetapi kalau tidak dimulai sekarang, bukankah nanti justru celah 
competitifness itu akan lebih menganga?
 
Ngomong2, PETRONAS banyak belajar dari PERTAMINA dan Perusahaan explorasi 
minyak berlatar Indonesia. Sekarang justru meng-ekspatriat sekitar 115 tenaga 
geologist senior Indonesia berkantor di menara kembar di KL dan menjadi mentor 
dari tenaga junior lokal (salah sada emkap Ir Rudy Tarigan, MSc, ingan kami 
kesilang mbaru denga). Jauh sebelum PETRONAS masuk ke Indonesia, PERTAMINA 
sudah masuk ke KL dan sekitarnya, tapi satu persatu tutup....  
   
(ku inget ka pe diskusi bas milis enda, pertangisen kerna dominasi pertandang i 
Berastagi ras i taneh Karo si deban. Adi si germeti buen ka kita si ngerana ei 
tading i negeri perlajangen, 'sikap' kang idah pergeluhta)   
 
2. Mencari Kambing Hitam? 
Kami melihat budaya seperti ini merupakan momok bagi suatu pembangunan ekonomi 
bangsa Indonesia yang berkarakter. Kekurangan, kelemahan, ketidakberdayaan diri 
sendiri dicari penyebabnya pada orang lain. Kemudian kita mencari dukungan atas 
sikap seperti ini dengan merujuk penulis-penulis seperti John Perkins. Padahal 
buku-buku seperti itu adalah introspeksi atas masyarakat mereka sendiri. Kenapa 
kita tidak mencoba memperbanyak menulis introspeksi untuk masyarakat kita 
sendiri?
 
Kenapa kita berhutang dan bahkan menerima banyak hibah tetapi tidak kelihatan 
dampak pertambahan "aset bangsa", dalam arti seluasnya?
 
Kenapa justru suatu usaha proyek, kalau dilola oleh tenaga puncak asing justru 
(dianggap, mental kolonial) berjalan lebih mulus? 
 
Kenapa justru BAPENAS dan Dep Keu sendiri mengatur pedoman pembayaran konsultan 
domestik jauh dibawah standar konsultan asing? (Pengalaman diri sendiri he.. 
he..he...).
 
Gendek kata, padin kuakap kita ndarami Jerusalem simbaru ibas dirinta 
sekalak-sekalak, asangken mpebue taurat2.
 
Sentabi,
Bp Nona Sampaguita 

--- On Wed, 5/28/08, MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [tanahkaro] Re: Skenario Menjajah Indonesia Oleh Bangsa Sendiri
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, May 28, 2008, 8:03 AM











Re: Skenario Menjajah Indonesia Oleh Bangsa Sendiri
 
Bagus sekali info ini Ita, bujur
Ijenda kutambahken sitik bas saling hubungen soal enda.
Bas bukuna John Perkins (Economic Hit Man) tertulis:
 
"Is anyone in the U.S. innocent? Although those at the very pinnacle of the 
economic pyramid gain the most, millions of us depend – either directly or 
indirectly – on the exploitation of the LDCs for our livelihoods. The resources 
and cheap labor that feed nearly all our businesses come from places like 
Indonesia, and very little ever makes its way back. The loans of foreign aid 
ensure that today’s children and their grandchildren will be held hostage. They 
will have to allow our corporations to ravage their natural resources and will 
have to forego education, health, and other social services merely to pay us 
back. The fact that our own companies already received most of this money to 
build the plants, airports, and industrial parks does not factor into this 
formula. Does the excuse that most Americans are unaware of this constitute 
innocence? Uninformed and intentionally misinformed, yes – but innocent?"
 
LDC = less-develope countries
 
Dalam permulaan jababatannya sebagai presiden Megawati diundang Bush ke 
Wasington. Entah disuguhin apa disana, setelah kembali ke Indonesia bu Mega mau 
jual Semen Padan ke Cemex (asing). Rakyat Minang sangat logis dan rasional, 
menolak penjualan dan malah mengambil alih Semen Padang dibawah pemerintah 
daerah Sumbar. Ketua MPR ketika itu (Amin Rais) juga dengan tegas menolak 
penjualan aset bangsa ke perusahaan asing. 
 
Memang seperti ditulis juga oleh Perkins bahwa hubungan segi tiga 
presiden-buseness corp-washington adalah rocky relation, salah-salah bisa 
bernasib kayak Allende atau presiden-presiden lainnya di negeri oil republik 
atau dinegeri republik pisang pada umumnya. 
Garis besar strategi penguasa finans dunia adalah seperti ditulis John Perkins. 
MUG
 
--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "pelangiharum" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, faisal chaniago <faisal_chaniago@ ...> 
wrote:

Pendangan Revrisond Baswir ini perlu disimak
direnungkan oleh semua rakyat Indonesia. 

Revrisond Baswir
Kenaikan BBM Cuma Alasan Ciptakan Liberalisasi Sektor
Migas

Kenaikan harga BBM sebenarnya merupakan satu bagian
kecil dari upaya liberalisasi sektor migas di negeri
ini. Nantinya, Pertamina, perusahaan miyak yang selama
ini menjadi pengelola tunggal itu akan bersaing dengan
lebih dari 40 perusahaan migas asing yang sudah
mengantongi izin untuk membuka 20.000 Stasiun
Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh
Indonesia, dengan harga standar internasional.

Berikut ini perbincangan dengan Kepala Pusat Studi
Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada Drs.
Revrisond Baswir, M.B.A, yang ditemui dalam Seminar
Peringatan Hari Lahir Pancasila, di Gedung DPR,
Jakarta. Berikut petikannya:

Kenaikan BBM ini kedepannya akan berdampak seperti
apa?

Untuk mengetahui dampak kenaikan harga BBM, kita harus
tahu persis latar belakang dan motivasi. Kalau menurut
pemerintah, latar belakangnya apakah untuk mengoreksi
yang tidak tepat sasaran, untuk menghemat konsumsi
BBM, termasuk untuk menghindari penyelundupan dan
sebagainya. Saya kira itu alasan yang dicari-cari,
bukan penjelasan namun justru mengaburkan dari motif
sebenarnya. Alasan yang sebenarnya adalah sejak
pemerintah menandatanganani LOI 1998 di mana kita
tunduk pada IMF untuk melepas harga BBM ke harga
internasional. Ini sebenarnya bukan soal kenaikan,
tapi soal proses bertahap melepas harga BBM ke harga
pasar sesuai garis IMF, dan itu sudah difollow up oleh
pemerintah yang sejak 1999 sudah membuat draft UU
Migas yang baru, tapi pada waktu itu bentrok dengan
Pertamina.

Lalu pada tahun 2000, Amerika masuk lewat USAID
menyediakan utang untuk memulai proses liberalisasi
sektor migas itu. Salah satu yang dikerjakan USAID
dalam rangka liberalisasi itu adalah menyiapkan draft
UU yang baru, bekerjasama dengan IDB dan World Bank
menyiapkan reformasi sektor energi secara keseluruhan.
Dalam UU Migas jelas, pasal 28 ayat 2 UU migas
mengatakan harga BBM dilepas ke mekanisme pasar, sudah
jelas itu.

Yang jadi masalah kemudian, segera setelah UU Migas
keluar, pemerintah segera membuka izin bagi
perusahaan-perusaha an asing untuk masuk ke berbagai
tahap dalam proses migas di tanah air, mulai dari hulu
sampai ke hilir. Dan bahkan mereka mengendalikan izin
untuk perusahaan asing untuk membuka SPBU, sampai
lebih dari 40 perusahaan yang sudah pegang izin untuk
membuka SPBU itu. Masing-masing perusahaan diberi
kesempatan membuka sekitar 20.000 SPBU di seluruh
Indonesia. Target mereka sebenarnya pada 2005 harga
BBM sudah bisa dilepas ke pasar, hanya saja di tengah
jalan UU migas dibawa ke Mahmakah Konstitusi (MK) oleh
serikat pekerja pertamina, disidangkan di MK. Dan
pasal 28 tentang pelepasan harga ke pasar itu
dibatalkan MK, karena bertentangan dengan konstitusi.
Itu sebenarnya yang menggganjal.

Masalahnya mereka kan tidak mau menyerah, setelah
dinyatakan UU itu bertentangan dengan konstitusi,
mereka jalan terus dengan istilah baru, dari istilah
harga pasar menjadi “harga keekonomianâ€ï¿½, itu hanya
untuk berkelit saja. Karena harga pasar dilarang MK,
maka ganti yang lain, tetapi maksudnya sama.

Isu yang tepat dalam kasus ini adalah liberalisasi
sektor migas dan pelepasan harga BBM ke harga pasar.
Jadi kalau kita lihat, setelah rencana itu gagal tahun
2005, dan muncul istilah harga keekonomian. Maka kini
target pemerintah sesuai dengan apa yang diakatakan
oleh Pak Budiono (Menko Perekonomian, dulu), setelah
naik pada 24 Mei kemarin, diperkirakan pada September
2008 akan naik lagi secara bertahap, sampai
ditargetkan selambat-lambatnya 2009 sudah sesuai
dengan harga pasar minyak dunia. Sama dengan patokan
di New York, kalau dieceran mencapai Rp 12.000 per
liter.

Keuntungan apa yang akan diambil dari kebijakan
melepas harga BBM ke pasar?



Bukan itu isunya. Isunya hanya dengan melepas harga
BBM ke pasar, hanya dengan cara itu SPBU-SPBU asing
itu mau beroperasi di sini. Kalau harga bersubsidi
bagaimana SPBU asing bisa beroperasi dan bersaing
dengan Pertamina, ini masalahnya. Masalahnya soal
menangkap peluang investasi. Ada perusahaan asing
ingin membuka SPBU asing, berarti SPBU asing ini mau
melakukan investasi, tetapi SPBU asing hanya bisa
jualan BBM, kalau BBM-nya sesuai dengan harga pasar.
Jadi masalah ini saja, soal pasar. Pengakhiran
monopoli Pertamina, pembukaan peluang bagi asing untuk
berbisnis eceran BBM, dan seterusnya.

Seperti sekarang ini Petronas dan Shell sudah membuka
SPBU-nya?

Makanya akibat kenaikan BBM tahun 2005, Shell buka,
Petronas juga buka. Tapi apakah masuk akal kalau orang
membuka SPBU itu hanya Jabotabek saja, gak mungkinkan,
izin yang mereka peroleh, mereka boleh buka 20.000
SPBU di seluruh Indonesia, nah ada 40 perusahaan lebih
yang punya izin. Bisa dibayangkan, berapa banyak SPBU
yang akan berdiri, dan bukan hanya Jabodetabek, tapi
juga seluruh Indonesia.

Pertamina sendirisudah memperkirakan hanya akan mampu
menjual maksimal 50 persen saja, 50 persennya akan
diambil oleh SPBU-SPBU asing itu. Nah kalau 2009
dilepas ke pasar, rencana terakhir pemerintah adalah
bahwa sektor swasta bisa masuk ke bisnis eceran migas
dilakukan secara penuh baru pada tahun 2010. Jadi
bukan masalah BBM naik, kemiskinan, BLT, bukan isu
itu, tapi mereka menganggap ini hanya dampak saja.
Lalu kemudian bagaimana dampak itu diperlunak. Tetap
saja mereka akan jalan terus dengan agendanya,
bagaimana membuat sektor migas hingga terpenuhi sesuai
harga pasar.

Saya kira isu lifting tidak relevan, karena ini isunya
bukan naiknya berapa persen, bukan itu. Isunya adalah
soal melepas harga itu, jadi pemerintah ingin lepas
tangan dari urusan harga BBM. Dia gak mau mengatur mau
naik, mau gak naik, dia mau lepaskan, jadi isu lifting
menjadi tidak penting. Apalagi kalau SPBU beroperasi
di sini, gak penting lagi, sumber migasnya darimana,
mau impor 100 persen, ya boleh. Itu dia, justru itu
malah mengaburkan masalah dari pokok masalah kita.

Masalah ini sekarang sudah mulai masuk ke ranah
politik, ada wacana mengimpeach Presiden. Bagaimana
ini?

Soal pemakzulan Presiden, kalau kita bicara UU migas,
kemudian UU Kelistrikan, kemudian UU APBN, yang
terkait dengan subsidi dan lain-lain itu kan atas
persetujuan DPR, jadi proses liberalisasi ini juga
berlangsung atas persetujuan DPR. Kalau akan
dimakzulkan bukan saja Presiden, tapi juga DPR-nya
juga dimakzulkan.

Dan itu terbukti di MK, jadi yang melanggar konstitusi
bukan hanya pemerintah, tapi juga DPR. Inilah yang
menjadi problem sekarang, jadi secara politik masalah
ini sangat kompleks, karena belum ada aturan,
bagaimana apabila pelanggaran konstitusi dilakukan
Presiden dan DPR. Nah ini tidak ada UU-nya, saya sudah
menanyakan hal ini kepada hakim agung, celakanya
pelanggaran konstitusi ini tidak hanya sekali. UU
Listrik batal demi hukum, karena melanggar konstitusi,
UU Migas pasal mengenai harga pasar batal karena
melanggar konstitusi, UU Penanaman Modal pasal
mengenai Hak Guna Usaha karena melanggar konstitusi,
UU APBN tiga tahun berturut-turut melanggar
konstitusi, ini masalah kita.

Akar permasalah dari kebijakan melepas BBM ke harga
pasar?

Masalahnya adalah apa yang disebut dengan
Neokolonialisme dan Neoliberalisme.

Solusinya bagaimana?

Solusinya, kita harus memperteguh kembali komitmen
sebagai bangsa terhadap cita-cita proklamasi dan
amanat konstitusi, ini harus ditegakan kembali.
Setelah ini baru mengoreksi semua penyimpangan-
penyimpangan, apakah itu kebijakan, peraturan
pemerintah, UU, semua itu harus ditertibkan kembali.
Karena menurut perkiraan Ketua Mahmakah Konstitusi
Jimly Asshiddiqie, 27 persen UU melanggar konstitusi,
harus dibereskan dulu. Dari situ baru kita lihat
dampak turunannya apakah kepada kontrak bagi hasil,
harga BBM, harga listrik, dan lain-lain.(novel)

--- End forwarded message ---



Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkopplin g.
Sök och jämför hos Yahoo! Shopping.
 














      

Kirim email ke