--- In [email protected], MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote: ".. Praktisnya dan yang banyak membantu kelihatannya sampai sekarang ialah kita ikut the third way yaitu ACC â" Angkat Cangkul Cametken! (lih Sora Sirulo juni) ..."
Tak selang beberapa waktu lalu, saya sudah mengingatkan di milis ini ujung-ujungnya adalah Trinity, atau dalam bahasa lain, the third way. Memang demikian dengan kontradiksi dualisme, tak akan pernah berkesudahan. Trinity atau the third way adalah sebuah cara untuk menyudahi (bagi umat Kristen, baca: menggenapi; bagi Sukarnois, baca: Pancasila). Bagi saya sendiri, "betwixt and between" atau, mengikut ulasan Kaka MU Ginting beberapa waktu lalu, "either or both". Perbedaan saya dengan Kaka MU Ginting, saya tidak pernah akan tiba pada the third way atau juga, perbedaan saya dengan Kalimbubu Bp. Nona Purba dan Senina Sendalanen Carlos Patriawan bebere Tarigan tidak mau bertahan pada either atau lalap sitahanen. Berarti variasinya makin kaya. Secara moral dan mental kita punya satu tujuan, sebisanya semua makmur. Secara prioritas kita berbeda, siapa duluan dimakmurkan supaya secepatnya jadi makmur? Kalau kita tidak beda-beda pasti tidak ada diskusi. Hanya saja, bagi yang tidak ngerti, tak perlu mengucapkan "hehehe .... " untuk mengatakan seolah ngerti tapi tidak ngerti. Di salah dua milis Karo, ada seseorang yang bagi saya terlalu sering mengucapkan kata "heheheh ...." untuk menunjukkan bahwa dia sudah tahu sebelum kita berkata. Orang itu ada di milis ini juga dan kemarin mengatur-ngatur untuk bilang "kalau soal ini bicarakan saja di milis ini ... heheheheh ..." Terlalu banyak "heheheh ...." membuat saya jadi kurang percaya sama orang itu. Sikat saja dengan diskusi dengan kesadaran bahwa kita berbeda. Kalau sudah sadar berbeda titik berangkat, berbeda pendapatpun tidak akan ada sakit hati asal jangan "ngeleceh" dengan "hehehe ..." jg
