Memang benar tidak ada yang pasti di Bumi. Budaya Asak-Asak Lembu, terjadi dimana saja dan kapan saja. Jika kita memang bersiap-siap, punya jaring transparan dan kuat ( sepert Pintu jaring penahan nyamuk, dului waktu di Medan, angin masuk tapi nyamuk tidak boleh lewat) tentu kita tidak perlu benar-benar gelisah. Tapi masalahnya Gundari lalit pintu jaring ta enda. seperti e-mail yang lainnya jika ada yang memberi ceramah, penerangan, para petani ,yang telah"sanggup membiayai anak-anak mereka sehingga punya jabatan dan profesi di belakang meja, tidak mau mendengar. "BAHANI AJANGMU KU JENA, ANAK-ANAKKU ENGGO JADI KERINA, BAGE GIA ADI PULUNG NINA PENGULU, PULUNG KITA, TAPI SITUHUNA RIAHEN NGE KUAKAP ER SATUR I KEDE BAPA TONGAT AH. LABO MAN AJAREN LEMBU NGGA-NGGAT ANAK" Inilah ucapan orang tua yang sering kita dengar. Tetapi jika ada problem."Aduuuuuh Pemerintaaaaah Tolooooong, nina ka menjerit-jerit.
Adi bage uga dage sibahan kade-kade ? Nande Iting 2008/6/3 Radio Karo Accees Global <[EMAIL PROTECTED]>: > Mejuah juah, > > Sebuah kajian yang sangat bagus. Potensi daerah karo kaya, bener... Karo > punya alternatif lain sah sah saja.. Karo percemburu bisa juga.. > > Tapi satu hal yang tidak ada jaminan "BUDAYA ASAK ASAK LEMBU", ATAU PUN > SIAT TAKAL SIAT DAGING". Mukin pepatah ini bisa diterjemahkan oleh Guru > Simeteh Wari 30, alias dua lapis pengenin matana.. > > Bujur > Eddy Surbakti > > > > 2008/6/3 S. Ginting <[EMAIL PROTECTED]>: > >> Sebagai putri petani miskin saya berpikir barangkali ini saatnya, >> bahwa orang Karo harus >> kembali mencari alternatif yang baru. Sejauh yang saya ingat bahwa orang >> Karo akan selalu >> menemukan alternatif yang baru. Dulu Karo pernah terkenal dengan Cengkeh, >> hilang cengkeh >> datang kopi, hilang kopi datang jeruk, hilang jeruk barangkali datang >> pisang atau jenis tanaman >> lainnya. Hanya saja karena terlena akan hasil jeruk yang sekali panen >> melimpah ruah (Puluhan Juta >> Rupiah), Karo hanya bisa melihat sisi yang negatifnya saja jika timbul >> persaingan dari daerah sekitarnya. >> Seperti biasanya kita kalk Karo Todak Tahan Bersaing. Sebenarnya >> persaingan ini telah bertahun-tahun >> berlangsung. Hanya saja karena saingan masih hanya terbatas pada tamanan >> capcai( sayur-sayuran). >> 'KECIL KAP ADI BAGAH , NINA KALAK KARO. contoh kecil, tomat tidak lagi >> datang dari Kabanjahe sekitar, >> tapi dari Sidikalang atau pun dari Simalungun. Kalau Kam bertamsya ke >> Harangaul umpanyanya. dulu di ladang >> bukit berbatu ini, mereka hanya menanam bawang putih dan bawang merah, >> bergenerasi lamanya. Tapi sekarang >> mereka menanam padi, cabe , tomat dan sayur-sayuran. Ini berarti mereka >> juga ingin BETER LIFE, SEPERTI KALAK KARO. >> Wel, gia bage mari kira berpikir posistif, bahwa kalak karo labo dan tidak >> akan pernah mati kelaparan. Dan saya harap bahwa >> Petani/Kalak Karo bisa belajar dari kesahan, atau kekurangan, untuk >> memperbaiki hasil tanam, atau karya mereka >> yang sudah bagus. >> >> Nande Ginting >> >> >> 2008/6/2 Radio Karo Accees Global <[EMAIL PROTECTED]>: >> >> Mejuah juah Pa, Mejuah juah Impal Tarigan Mergana bage ka pe man kam >>> kerina Per-Milis sada pe la ketadingen.. >>> >>> Satu hal yang saya lihat disaat Indonesia menyatakan mulai Demokrasi, >>> disanalah azas musyawarah sepertinya di kebelakangkan, dulu Seorang bupati >>> di pilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), masih terlihat budaya >>> arih arih, dimana bupati selalu menghormati DPRD dan juga sebaliknya. >>> Tetapi pada saat Bupati di pilih langsung oleh rakyat sepertinya >>> kerenggangan terjadi antara Bupati Dan DPRD. Jarang sekali dilapangan >>> terlihat Bupati bergandengan tangan terjun ke masyarakat dan juga >>> sebaliknya, semuanya sibuk dengan pekerjaan masing masing. >>> >>> Hal yang lain, kurang potensialnya orang-orang yang dipilih untuk >>> menduduki Kursi kursi Pemerintahan dan wakil rakyat. Seperti ungkapan >>> seorang teman kepada saya, "Program kerja di dinas tempat saya bekerja >>> sangatlah jauh dari hal hal yang menyengkut seperti apa layaknya yang harus >>> kami kerjakan, Saya menjawab apakah kepala dinas, yang memimpin pada saat >>> sekarang ini, orang yang memang mempunyai potensi dalam pekerjaan yang dia >>> pimpin. teman saya hanya terdiam dan berpikir. memang tidak, dia bukan orang >>> atau mempunyai pendidikan yang menjurus ke instansi yang di pimpinnya (saya >>> tidak sebutkan apa instansinya), itu yang membuat program kerja di instansi >>> tersebut tidak sejalan dengan apa yang di butuhkan. >>> >>> Kembali kepada potensi (SDM) yang ada Karo, Karo membutuhkan SDM yang >>> banyak, mempunyai kwalitas kerja dan bertanggung jawab untuk membangun Karo >>> kedepan. Cendurung sifat rela berkorban di Karo untuk membangun Karo sangat >>> tipis, sekali, semuanya bila tidak ada uang, tidak bekerja. rata rata >>> disemua sektor seperti itu, pegawai negeri yang jumlahnya ratusan orang, >>> hanya duduk duduk dan bermalas malasan di kantor, tanya kenapa tidak >>> bekerja, tidak ada yang dapat dikerjakan disini, kami datang saja sudah luar >>> biasa, sampai tanggalnya kita menerima gaji.. >>> >>> Seperti inilah kadar kerja kita buat saat ini.. >>> >>> Potensi Pertanian saya rasa masih bisa dipertahankan di Tanah Karo, >>> mungkin SDM Karo yang sangat potensial dalam hal ini bisa campur tangan >>> untuk membangun Karo kedepan. Saya lebih setuju bila berkarya tidak selalu >>> bertopang tangan kepada Pemda Karo. Siapa yang mau bekerja, mari berkarya. >>> Sekecil apa pun usaha kita sangat bermanfaat nantinya.. "Sitik jena Nari, >>> Sitik Ka jenda Nari, Me enggo Mbue" >>> >>> Endam lebe sitik yah, nimai nimai man ciger i tengah juma emon... >>> >>> Bujur >>> Eddy Surbakti >>> >>> 2008/6/1 jonihendra tarigan <[EMAIL PROTECTED]>: >>> >>> Mjj Kalimbubu Sitepu mergana. >>>> >>>> Kalo pemerintah daerah ka nge siarapken, 2010 nggo me sada keajaiban >>>> dunia adi realisasikan pemkab karo erban LABORATORIUM. Adi lalit dana >>>> ningen >>>> Kantor Bupati nge i pegalang miliaren rupiah. Lokasi Pasar Buah Brastagi pe >>>> jadi persoalen. Tapi adi la ku pemkab, kujanari kita erpengarapen,,,. >>>> >>>> Tah kai nge atena maka merga kel iban kantor Bupati, bahsan dari LUAR >>>> NEGERI sgala,,. Adi kin ate membangun rakyat,ENGKAI MAKA LA MANFAATKAN >>>> pruduk rakyat.DARI KITA, OLEH KITA, UNTUK KITA bage min mottona me tergejab >>>> man masyarakat. Enda lang, DARI KITA, OLEH KITA , UNTUK KAMI ( PEJABAT) >>>> SAJA. Adi lit pe sura2 rakyat si mehuli,LABO DIATENA PEH. >>>> >>>> Pernah tersinget bang Eddy kerna sura2 erban kincir air untuk irigasi di >>>> daerah yang dilairi sungai. Kusungkun " UGA KIRA2 ADI PROPOSALKEN KU >>>> PEMKAB? >>>> ". Yah,, lo lit e,, Nggo min idahna berhasil e mungkin banci erdalan. ( >>>> Tersinget na bang Eddy, sentabi kel yah, lenga terdadap aku ttg Kincir air >>>> ndai ya pal.., sangana aku kejar tayang skribsi. Tgl 18 Juni Sidang. >>>> Sentabi >>>> kel e pal,,). >>>> >>>> Yea, tah arah kam banci sitik mbuena nampati kade2nta si kujuma kurumah >>>> MA,,, atur ka perkusurndu. Sitik2 saja kita arih2, dua telu kalak kita >>>> errunggu, di la kita ermedumedu tah lit nge pagi malemna. >>>> >>>> Bagem lebe sitik arah aku kalimbubu. Tarigan mergana anak perana medanak >>>> denga, tah bagi si mejarjar gia aku akapndu ngerna labo enda karusku. >>>> >>>> Mjj. >>>> >>>> Joni HEndra Tarigan-NL >>>> >>>> ----- Original Message ---- >>>> From: karo karositepu <[EMAIL PROTECTED]> >>>> To: [email protected] >>>> Sent: Sunday, June 1, 2008 10:34:33 AM >>>> Subject: Re: [tanahkaro] Belajar dari Karo, belajar menyaingi >>>> Karo...Karo jangan kalah. >>>> >>>> MJJ, >>>> Apa yang dikemukakan JG, MUG, JH tarigan dan Eddy memang benar.. dan >>>> fakta. Pada waktu lahan pertanian masih demikian suburnya.... Karo memang >>>> leading dalam usaha pertanian khsusnya hortikultura. .... Pada saat kondisi >>>> lahan sudah berubah.... jadi kurang subur (sebagian besar karena dampak >>>> perlakuan yang tidak seimbang)... pasti solusi dengan pendekatan ilmiah >>>> menjadi suatu harapan. Desember 2007 yang lalu, kebetulan saya diskusi >>>> dengan 2 orang expert pertanian dari Belanda (yang diperbantukan oleh >>>> PUM-Belanda ke PT.Merek Indah Lestari (Sekarang Simalem). Mereka kagum >>>> sekali dengan Pertanian Karo, tapi selain kagum mereka "sangat heran" >>>> mengapa Karo tidak memiliki "Soil Laboratory". Aku cuma bilang... sedang di >>>> rencanakan (entah kapan....ya) >>>> >>>> Selama "jalan-jalan" ke Bogor, saya diundang diskusi oleh teman-teman >>>> dosen senior di IPB (saya sendiri gak pernah sekolah di Bogor), dan >>>> mengunjungi beberapa laboratorium untuk pengujian unsur macro dan beberapa >>>> unsur micro dari tanah dan pupuk di IPB yang di kelola teman saya dengan >>>> manajemen swasta (komersil). Ternyata untuk setting-up laboratorium yang di >>>> kelola (yang telah mendapat sertifikasi) , dana yang dibutuhkan membutuhkan >>>> sekitar 400 jutaan (diluar bangunan gedung). Saya jadi merenung, seandainya >>>> Karo punya laboratorium sendiri.... sudah hampir pasti pemalsuan pupuk >>>> secara significant akan dapat dikurangi, juga penggunaan pupuk akan dapat >>>> dihemat karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan lahan. >>>> Duit yang 400 jutaan memang besar untuk ukuran Per"baroeng" seperti >>>> kami... tapi relatif akan menjadi tidak besar bila dibandingkan dengan APBD >>>> karo yang 600 an miliar.... atau dibandingkan dengan pembelian mobil >>>> dinas..... >>>> >>>> Berbicara pertanian... memang menyangkut banyak hal... tapi yang paling >>>> mendasar adalah pemahaman tentang tanah (soil).....dan untuk hal ini >>>> orang >>>> karo banyak yang sudah jago (dengan reputasi internasional) . >>>> >>>> Pertanyaannya. ... apakah masih ada kemungkinan Pemda didukung olah >>>> DPRD "berniat" untuk itu (atau memang tahun ini akan dibangun..?? ?..... >>>> kalau ya... puji Tuhan) , atau haruskah kita menunggu setelah 2010, pada >>>> saat tetangga kita sudah semakin kuat dan melibas kita?? >>>> Regards, >>>> Per:baroeng" Peceren >>>> >>>> *Radio Karo Accees Global <radiokaroaccessglob [EMAIL PROTECTED] com>* >>>> wrote: >>>> >>>> Beberapa Hari yang lalui saya sudah membuat sebuah ilustrasi, hati >>>> hati banyak pihak yang lagi gencarnya memecah persatuan karo. pecah sitik >>>> habis bumi turang ini.. >>>> >>>> Dulu ada isu tapanuli sudah mengembangkan tanaman jagung, petani karo >>>> geger setengah mati. pas di cek ke tapanuli tak ada jagungnya .. Hati hati, >>>> karena banyak yang tau masyarakat karo sekarang banyak yang jantungan, jadi >>>> digertak gertaklah trus... biar banyak yang meninggal, pertahanan karo dari >>>> sumber daya manusia Kurang, masih tetapkan bertahan di kampung orang ? >>>> >>>> Bujur >>>> >>>> On Sun, Jun 1, 2008 at 3:09 AM, jonihendra tarigan <jonihendra_tarigan@ >>>> yahoo.com <[EMAIL PROTECTED]>> wrote: >>>> >>>>> >>>>> Mjj Pa, >>>>> >>>>> Mungkin tah aku ipupus perbarung2,, tertarik kel aku masalah pertanian >>>>> i cakapken. Terleih hal itu juga menyangkut SURVIVAL karo. Dari semua >>>>> peyelenggara yang turun ke lapangan semua kalak Karo. Sudah jelas juga, >>>>> karena memang karolah yang duluan berkembang mengenai pertanian. Wajar >>>>> sekali. Kekawatiran seperti Malaysia yang dulu belajar dari Idonesia >>>>> kemudian Indonesia tertinggal, saya kira bijak kalo kita merenung, tapi >>>>> sangat tidak bija merenung terlalu lama. >>>>> Tanpa perlu analisa yang mendalam, kita pasti sudah tau KARO akan >>>>> tertinggal, kalo tidak ada pergerakan. >>>>> >>>>> 2 ato 3 minggu yg lalu, RBK mewawancarai pak Sitepu dari Sukanalu >>>>> sebagai Ketua KPK di Tanah Karo. Lewat SMS saya tanya" Bagaimana kita2 >>>>> penyelamatan pertanian tanah karo, kalo keadaan saat ini sangat terpuruk. >>>>> PUPUK LA TERTUKUR, HASIL PANEN LA LIT ERGANA". >>>>> >>>>> Pak sitepu memberikan beberapa argumentasi. Bgini kira2: >>>>> KALAK KARO BIASANYA IA AKAPNA SIJAGONA BAS PERTANIAN ENDA, adi lit bage >>>>> penyuluhan pertanian, beluhen nge akapna bana. Lanai nggit ia i ajari. >>>>> Masalah tehnik pengolahan tanahlah, penggunaan pestisidalah, , nggo kalak >>>>> karo akapna si jagona. Secara tidak langsung tertutup untuk belajar. >>>>> >>>>> Hasilnya KENTANG tanah karo tidak layak EXPOR ke AUSTRALIA karna kadar >>>>> pestisida terlalu tinggi. Jeruk juga demikian, penanganan hama dan >>>>> penyakit >>>>> dengan gampangnya ditanggulangi dengan MENGGANDAKAN dossis pestisida. >>>>> Akibatnya expot tidak akan tembus karan kelebihan kadar racun. >>>>> >>>>> Melala kel kalak karo singgo jadi insinyur pertanian, tapi lebih >>>>> terbuka di luar karo unguk menyerap ilmu mreka, DAIRI DAN TAPANULI contoh >>>>> nyata. >>>>> >>>>> YEA,,adi kita, terjeng si eteh janah banci si baca situasi enda, paling >>>>> lang KADE2NTA LAH GIA SI PESEH KERNA SI enda,,enda pe MASA DEPAN KARO NDAI >>>>> KAN NGE,, >>>>> >>>>> Mjj kita kerina. >>>>> >>>>> Joni HEndra Tarigan-NL >>>>> >>>>> ----- Original Message ---- >>>>> From: MU Ginting <[EMAIL PROTECTED] se <[EMAIL PROTECTED]>> >>>>> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com <[email protected]>; [EMAIL >>>>> PROTECTED] >>>>> ps.com <[EMAIL PROTECTED]>; komunitaskaro@ yahoogroups. com<[EMAIL >>>>> PROTECTED]> >>>>> Sent: Sunday, June 1, 2008 2:14:45 AM >>>>> Subject: [tanahkaro] Belajar dari Karo, belajar menyaingi Karo >>>>> >>>>> ** *Belajar dari Karo, belajar menyaingi Karo* >>>>> Dari postingan Si Laga Man *Jeruk Menjadi Andalan >>>>> Taput*<http://se.mc256.mail.yahoo.com/group/tanahkaro/message/24727>bagepe >>>>> Alexander soal >>>>> *Petani Dairi Pelatihan Pertanian Organik di >>>>> Karo*<http://se.mc256.mail.yahoo.com/group/tanahkaro/message/24730>, >>>>> jelas me si idah uga perdalanen perkembangan dunia, disini Karo dan daerah >>>>> sekelilingnya, melibatkan semua penggerak pertanian, dan mau tak mau >>>>> pemerintah daerahnya menceburkan diri dalam pertandingan , persaingan, >>>>> pasti >>>>> juga bisa dikatakan demi survival masing-masing daerah. Perkembangan Karo >>>>> berada didepan dimasa lalu sudah semakin terdesak, pengetahuan dan >>>>> pengalamannya bakal diambil dan ditrapkan didaerah lain pertama untuk >>>>> survival dan kedua untuk menyaingi Karo yang tadi sudah duluan. Harus saya >>>>> ingatkan bahwa disini tidak ada yang jelek, apa yang diperbuat oleh daerah >>>>> sekeliling Karo, mengambil pengetahuan Karo dengan belajar secara tulus >>>>> dari >>>>> pengetahuan dan pengalaman Karo adalah sikap yang patut dipuji, hormat dan >>>>> ilmiah. Akibatnya atau kesudahannya nanti Karo akan kalah atau malah mati >>>>> pertaniannya karena tersingkir dari persaingan, termasuk perjuangan dan >>>>> survival kemanuisaan pada umumnya dan disini ethnicgroups self-assertion >>>>> khususnya. Faktor intern Karo akan menentukan bagaimana nasib Karo, bukan >>>>> faktor extern. Daerah Sumbar pernah belajar bagaiman menangani bunga dan >>>>> bibit bunga, sekarang mereka sudah menguasai, dan banyak bunga dari daerah >>>>> itu. Kita masih ingat bagaimana pada th 70an Malaysia belajar dari >>>>> Indonesia >>>>> hampir dalam segala hal. Sekarang . . . yah, tidak bisa menyalahkan negeri >>>>> tetangga kalau kita sudah ketinggalan, dan jauh ketinggalan. Apakah Karo >>>>> akan bernasib yang sama dibandingkan tetangganya? >>>>> "saya yakin kita akan merenung sejenak" kata Si Laga Man. Marilah kita >>>>> renungkan sambil berhari Minggu. >>>>> Bujur >>>>> MUG >>>>> >>>>> ------------------------------ >>>>> Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkopplin g. >>>>> Sök och jämför hos Yahoo! >>>>> Shopping.<http://shopping.yahoo.se/c-100015813-bredband.html?partnerId=96914325> >>>>> >>>>> >>>> >>>> >>>> >>> >> > >
