--- In [email protected], MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> 28/06/2008 15:16 WIB
> Ferry Yuliantono Dijadikan Tersangka Sejak Penangkapan
> Chairina Fatia â€" detikcom
> Jakarta - Polisi telah menetapkan status Ferry Yuliantono sebagai 
tersangka sejak awal penangkapan. Aktivis Komite Bangkit Indonesia 
(KBI) ini diduga menjadi dalang demo anarkis di DPR 24 Juni lalu.
> "Ketika kita melakukakan penangkapan, statusnya sudah tersangka," 
ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Polisi Abubakar Nataprawira dalam 
jumpa pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Sabtu 
(28/6/2008).

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Kita buka saja peta ideologinya Kila jadi lebih transparan :


dari sumber lain:

Perseteruan kubu pro-IMF, Golkar dan Anti-IMF

Ada segitiga kekuatan yang sekarang berada di lingkaran inti 
kekuasaan ekonomi di Indonesia. Mereka adalah kubu ; Pro IMF, yang 
sering disebut-sebut sebagai kaum kanan, Golkar dengan sebutan tengah-
kanan. Dan Anti-IMF yang sering disebut oleh lawan politiknya sebagai 
orang-orang kiri. Pada saat kekuasaan Suharto mengalami krisis hebat, 
dimana intervensi IMF sudah masuk secara lugas ke dalam kebijakan 
ekonomi Indonesia akibat krisis moneter 1997, IMF membangun jaringan 
kekuasaannya dengan memasukkan orang-orang yang berpaham benar-
benar `western' dalam landasan pemikiran ekonominya. Orang-orang ini 
menganut paham kebijakan yang pro-Amerika, bersikap moneteris Milton 
Friedman, dan tidak menyukai gagasan-gagasan campur tangan negara 
yang kuat bahkan untuk berpikir secara neo keynesian saja mereka 
mengharamkan. Kelompok ini berpusat pada orang-orang yang pernah 
direkrut IMF sebagai karyawannya dan ditempatkan di seluruh penjuru 
dunia, sebagai karyawan duta. Tokoh utama dalam kelompok ini berpusat 
pada Sri Mulyani Inderawati, seorang ahli ekonomi lulusan UI dan 
melanjutkan studinya di Amerika Serikat. Sri Mulyani (-yang pada saat 
itu di luar kabinet-) membangun kelompoknya yang sangat pro-IMF di 
lingkaran kekuasaan Megawati pada saat itu. Orang-orang yang berada 
satu jalur dengan Sri Mulyani dan memiliki akses kepada kekuasaan di 
kabinet Megawati adalah : Laksamana Sukardi, Rini Soewandi dan 
beberapa dirjen di lingkungan departemen (keuangan, industri dan 
perdagangan), termasuk Bank Indonesia yang dikuasai kelompok Miranda 
Gultom. Jaringan Sri Mulyani telah melaju kuat dan sempat menekan 
kelompok Dorodjatun Kuntjorodjakti yang didukung Menkeu Budiono. 
Awalnya Dorodjatun bersikap konservatif terhadap agresivitas kelompok 
Sri Mulyani dalam hal tuntutan kenaikan BBM, namun akhirnya sikapnya 
melunak.Penghapusan subisidi BBM yang menjadi pokok utama tuntutan 
IMF dalam memulihkan kondisi keuangan negara, mendapatkan tantangan 
yang kuat dari orang-orang yang boleh disebut berpaham sosialis. 
Orang-orang `kiri' ini awalnya menumpukan kekuatan pada DR.Rizal 
Ramli (bekas tahanan politik Malari dan rekan aktivis Dorodjatun 
periode perlawanan politik mahasiswa dan intelektual, 1974). Tetapi 
kesalahan yang utama bagi Rizal Ramli adalah berharap banyak dari 
dukungan politik Gus Dur. Aksi politik Gus Dur yang menggusur 
berbagai kelompok yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya dan 
menempatkan orang-orang yang kurang kredibel dalam posisi-posisi 
strategis, membuat kubu Megawati pda saat itu didekati oleh kekuatan-
kekuatan politik yang menghendaki ditumbangkannya Gus Dur dari posisi 
jabatan Presiden. Kubu Megawati yang pada awalnya enggan menyambut 
gandengan politik lawan-lawan politiknya yang dulu mengganjal posisi 
dia di Senayan tahun 1999, perlahan mulai membuka diri. Puncaknya 
adalah terowongan politik yang dibangun oleh suaminya, Taufik Kiemas 
ke kelompok penentang Gus Dur. Taufik Kiemas membangun aliansi kepada 
Amin Rais dengan komitmen menaikkan Megawati sebagai Presiden dan 
mengamankan posisi-nya sampai tahun 2004, menugaskan Amin Rais 
menyatukan sikap di kalangan umat Islam untuk berada di bawah 
kekuasaan Megawati dan tidak mengusik apapun yang diperbuat Megawati 
termasuk pembentukan Kabinet. Megawati yang leluasa membentuk kabinet 
akhirnya memasukkan dua orang ke dalam posisi paling strategis dalam 
kabinetnya, yaitu : Dorodjatun, sebagai Menko Perekonomian, dan 
Budiono sebagai Menteri Keuangan. Keputusan Megawati ini banyak 
diwarnai oleh nasihat mantan menteri senior di Era Suharto, Prof. 
Widjojo Nitisastro. Awalnya naiknya Dorodjatun disambut gembira 
kelompok kiri walaupun Rizal Ramli telah tersingkir. Kelompok kiri 
saat itu menggeser gantungan harapannya kepada : Kwik Kian Gie, 
seorang akademisi cemerlang lulusan Rotterdam yang pikirannya bergaya 
sosialis, bahkan disebut-sebut sebagai sosialis garis keras. Namun 
kegembiraan kelompok kiri ini tidak berlangsung lama, karena orang se-
partai Kwik di PDI-P, Laksamana Sukardi menjadi penantang setiap 
kebijakan yang condong ke kiri. Bahkan Laksamana melakukan perbuatan-
perbuatan yang sangat tercela di mata orang-orang kiri, yaitu ; 
melakukan penjualan BUMN, layaknya seperti sopir angkot yang mengejar 
setoran. Kwik kerap berseteru dengan Laksamana, terutama masalah ikut 
campurnya IMF dalam kebijakan-kebijakan ekonomi di Indonesia. Bahkan 
suatu saat Kwik nyaris mengucapkan "Go To Hell, IMF". Kwik yang 
menampik IMF jelas-jelas memposisikan dirinya pada situasi yang 
sulit. Karena pada saat itu anggaran keuangan negara membutuhkan dana 
segar, kelompok-kelompok negara kreditur yang biasanya kerap 
menggelontorkan dana bersikap hati-hati memberikan pinjaman ke 
Indonesia, perhatian mereka lebih kepada negara-negara berkembang 
yang sehat seperti : Vietnam, Meksiko dan pemulihan kondisi moneter 
di Argentina. Keuangan global yang diposkan ke negara-negara 
berkembang tidak jatuh ke Indonesia. Dan inilah yang membuat posisi 
IMF semakin kuat, karena berkat lobby IMF ke sindikasi keuangan 
internasional dan kesediaan IMF memberikan dananya ke Indonesia dalam 
beberapa tahap juga janji penyelesaian urusan khusus IMF yang dimulai 
tahun 1997 dan akan berakhir 2003, mau tak mau membuat orang-orang 
Sri Mulyani mendapat angin. Menguatnya kubu Mulyani pelan-pelan 
mengikis habis orang-orang kiri di kabinet Megawati, ditambah 
kelompok tengah-kanan (Golkar) yang setelah jatuhnya Suharto 
melakukan politik defensif, mulai mendapatkan jalan untuk memperkuat 
negosiasi. Golkar memiliki dua kubu pada era Megawati. Kubu Akbar 
Tanjung, dengan komandan strategi Mahadi Sinambela dan kubu Iramasuka 
(Indonesia Timur) yang dikomandoi Jusuf Kalla, Marwah Daud Ibrahim 
dan belakangan Agung Laksono membelot ke kubu Iramasuka. Kasus bulog 
II, yang menimpa Akbar merupakan `handycap' utama bagi kubu Akbar 
dalam melakukan manuver politiknya, entah kenapa Akbar seakan-akan 
menggadaikan kubunya ke Megawati dengan dua pinjaman politik, 
memuluskan Megawati mempertahankan jabatan Presiden, lalu kedua, 
Megawati berjanji mendukung upaya-upaya lolosnya Akbar dari jeratan 
hukum. Kasus Bulog II, juga membuat Akbar melakukan blunder terbesar 
yang berakibat tersingkirnya Akbar dari ketua umum Golkar, blunder 
itu adalah mekanisme pencalonan Presiden oleh Golkar lewat proses 
konvensi. Dalam konvensi itu Akbar benar-benar dipermalukan oleh 
Wiranto, seorang Jenderal yang sepanjang karir militernya berada di 
luar garis Beringin (tidak seperti, Sudharmono, Hartono ataupun 
Prabowo). Akbar memang pernah mencoba menghubungi SBY sesaat sebelum 
ide konvensi berlangsung, namun keinginan Akbar itu kandas karena 
gadai politik terhadap Megawati. Megawati tidak akan suka sekutunya 
membangun aliansi dengan lawan politik yang paling dibencinya, bahkan 
kebencian terhadap SBY sudah masuk ke wilayah pribadi Megawati. 
Singkat cerita Akbar tersingkir, karena ketidakpercayaan cabang 
terhadap dirinya karena dipecundangi Wiranto, dan Golkar yang 
memiliki prinsip politik paling jelas, yaitu : `Siapa yang berkuasa, 
dia yang kita bela' menjadi semakin berwarna Iramasuka ketika Kalla 
berhasil menduduki kursi wapres. Dengan mudahnya setelah setelah 
serangan kilat empat bulan, Kalla berhasil duduk menjadi ketua umum 
Golkar. Kalla dengan cepat pula menendang Akbar Tanjung yang sudah 
bersiap-siap memecat Kalla karena memihak kepada pihak lain tanpa 
seijin DPP. Kalla menang dan menguasai jalannya kekuasaan di tubuh 
Golkar.

Komentar: 

Maaf kalau bisa disebut sbg Perang 'ideologi' antara 
ekonomis sosialis "Sjahririan" dan ekonomis kapitalis-
neoliberal "Friedman". Bang FY inipun konon cucu dari SK Trimurti. SK 
Trimurti , jurnalis perempuan mantan menteri perburuhan di kabinet 
Sjahrir 2.

saya tambahkan juga komentar rizal ramli :

...

Karena tarikannya 40 tahun ke belakang, sejatinya Rizal tak sekedar 
menyentil pemerintahan hari ini, tetapi juga menggugat strategi dan 
klaim keberhasilan pembangunan ekonomi yang dilakukan pemerintahan 
orde baru. Menurut dia, jalan lama yang dianut pemerintahan orde baru 
dan diteruskan oleh pemerintahan saat ini merupakan skenario besar 
untuk menjadikan Indonesia sebagai subordinasi dan alat kepentingan 
internasional. "Jalan lama telah gagal karena hanya menyenangkan 
sebagian kecil masyarakat, tetapi menyengsarakan mayoritas rakyat 
bangsa kita," kecamnya

Kegagalan jalan lama semakin diperkuat dengan kenyataan faktual 
ketertinggalan Indonesia. Jika pada tahun 1960-an, GNP perkapita 
Indonesia dengan sejumlah negara di Aia Timur nyaris sama, 
disekitaran US$ 100 per kapita, 40 tahun kemudian kondisinya sungguh 
mengenaskan.""Pada tahun 2005, GNP per kapita Indonesia hanya sekitar 
US$ 1.260. Malaysia 4 kali kita, Korea Selatan 13 kali kita, Thailand 
2 kali kita, Taiwan 12 kali kita dan bahkan Cina telah 1,4 kali 
kita," paparnya. 

Lantas jalan baru seperti apa yang ditawarkan Rizal? 

"Jalan anti neokolonialisme, jalan yang lebih mandiri, yang akan 
membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia." ujarnya dalam 
pidato yang disampaikan kepada ratusan hadirin yang menyesaki ruang 
pertemuan. "Jalan baru adalah jalan yang berlandaskan kebhinekaan, 
keragaman budaya dan pluralisme. Dengan landasan itu, KBI akan 
mendorong renaissance kebudayaan Indonesia sehingga tercipta suatu 
masyarakat yang lebih kreatif dan inovatif, bukan sekadar masyarakat 
terbuka,"imbuhnya lagi

Selain karena pilihan strategi, ketidakmampuan Indonesia 
menyejahterakan mayoritas rakyatnya juga bersumber dari kelemahan 
para pemimpinnya. Para pemimpin yang pernah ada dinilainya punya 
watak feodal sehingga merasa tak punya kewajiban menyejahterakan 
rakyat."Dalam sistem feodal atau neo feodalisme, kekuasaan berasal 
dari hubungan biologis dan romantisme historis dan legitimasi 
pencitraan semu, dimana rakyat hanya diperlukan pada saat pemilu dan 
sekadar penggembira," kecamnya. 



Kirim email ke