Depbudpar Gandeng 7 Perguruan Tinggi 
Jakarta, (Analisa) 
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) menggandeng tujuh perguruan 
tinggi negeri di seluruh tanah air untuk mengembangkan pusat-pusat studi 
kebudayaan. Menurut rencana pusat studi kebudayaan itu akan diresmikan oleh 
Menbudpar Jero Wacik sekitar Agustus 2008 mendatang. 
“Tahap pertama ini kita bangun tujuh pusat studi kebudayaan bekerjasama dengan 
masing-masing tujuh perguruan tinggi negeri. Di masa datang pusat studi 
kebudayaan ini dapat kita tambah bekerjasama dengan perguruan tinggi lainnya,” 
kata Menbudpar Jero Wacik dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR di Jakarta, 
kemarin. 
Menurut Wacik, pendirian pusat studi kebudayaan itu dimaksudkan untuk 
meningkatan dan menggali, serta melestarikan potensi nilai-nilai budaya di 
Indonesia, untuk ini pemerintah (Depbudpar) akan bekerjasama dengan perguruan 
tinggi negeri di masing-masing daerah. 
Untuk mengembangkan pusat studi kebudayaan Jawa, Depbudpar bekerjasama dengan 
Universtas Gadjah Mada, sedangkan pusat studi kebudayaan Madura dengan 
Universitas Airlangga. 
Untuk pusat studi kebudayaan Sunda bekerjasama dengan Universitas Padjajaran, 
pusat studi kebudayaan Betawi dengan Universitas Indonesia. 
Pusat studi kebudayaan Minangkau dengan Universitas Andalas, pusat studi 
kebudayaan Bali dengan Universitas Udayana, dan pusat studi kebudayaan Bugis 
bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin. 
Menbudpar juga menyampaikan usulan Indonesia agar budaya bangsa antara lain 
Batik, Angklung, dan Makyong dijadikan sebagai warisan budaya dunia tak benda 
(Intangible World Cultural Heritage) pada sidang umum UNESCO 2008. (try) 
 
KOMENTAR:
Ada perkembangan baru di pusat. Jero Wacik baru tau 7 budaya daerah, sudah 
kemajuan daripada tidak tau sama sekali. Yang dia belum tau tentu tidak mungkin 
dia omongkan.  Sumut pasti dia tau, tetapi sekarang dia takut, budaya apa mau 
dipelajari di USU sana? Dia pasti sudah dengar banyak pertarungan 'kondusif' 
disini. Dulu waktu Suhato Di Sumut budaya Batak termasuk di Medan, lantas 
bangun 'batak' di Polonia. Kemudian datang walikota Melayu, bangun 'melayu' 
dimana-mana. Suharto lengser, orang Karo bangun Patimpus, orang-oang pusat 
bingung terberak-berak. "Perang Image" kata Juara Ginting, yang selama ini saya 
sebut dengan ethnicgroups self-assertion and struggling for power disemua 
daerah yang tadinya didominasi oleh etnis dominan tertentu, mereka mulai 
melihat kursinya mulai goyang, orang Mandailing/Batak di Sumut, orang Aceh di 
NAD, orang Bugis di Sulsel dll. Kebodohan pusat soal daerah semakin 
menjadi-jadi tetapi semakin dibelejeti dan ditertawai; 
 MoU helsinki, Pilkada Sulsel, pilkada Maluku, 9 desa Bangun Purba, Juma Tombak 
(kedunguan Bagir Manan), Durin Tonggal, semuanya menunjukkan tingkat 
pengetahuan-daerah pusat yang sangat minimal. Orang daerah yang dominan di 
daerah pakai wibawa pusat, membohongi Pusat, dan Pusat dengan kebodohannya 
membohongi daerah terutama etnis-etnis minoritas diluar kekuasaan seperti orang 
ALA/ABAS, orang Karo, Dayak dan semua orang minoritas. 
Proses peningkatan pengetahuan-daerah Pusat masih berjalan, sekarang dalam 
proses sakit perut terberak-berak, ketakutan. Hanya pengetahuan dan semangat 
belajar yang bisa membantu orang-orang Pusat yang sedang sakit perut dan sakit 
jiwa ini. Keluarlah dari kebobohanmu hai orang pusat!
MUG
 


      ___________________________________________________
Sök efter kärleken!
Hitta din tvillingsjäl på Yahoo! Dejting: 
http://ad.doubleclick.net/clk;185753627;24584539;x?http://se.meetic.yahoo.net/index.php?mtcmk=148783

Kirim email ke