--- In [email protected], "cpatriawgmail" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> Orang India dan Cina sekarang bisa maju karena mereka berpikir jauh
> kedepan dan tolong menolong, mereka tahu untuk bisa sejajar dengan
> western society mereka harus menguasai ilmu yang tadinya hanya 
> dimiliki Barat.

Saya pernah mengikuti sebuah acara TV di Belanda tentang seorang sopir
taxi di Amerika yang menabung untuk membangun sekolah di sebuh desa di
India. Di acara itu, terlihat jelas bagaimana si sopir taxi bekerja
sehari-hari di Amerika dan juga telihat bagaimana sekolah itu berjalan
dengan baik di India. Sekali setahun si sopir taxi mengunjungi
'sekolahnya'.

Pikiran-pikiran 'sederhana' seperti ini sebenarnya ada juga pada orang
Karo. Salah seorang perempuan Karo yang tinggal di luar negeri,
kenalan baik saya (Masih kenalan baik kita, kan, impal?) sedang
membangun sebuah panti asuhan di salah satu tempat di Karo Jahe.
Hal-hal seperti ini adalah perwujudan dari rasa tolong-menolong itu,
aku kira, khususnya dalam menolong orang-orang yang 'lebih susah'.

Beberapa hari lalu saya curhat kepada seorang pendeta Karo yang sedang
berada di luar negeri. Tentu saja segala hal mengenai orang-orang Karo
kelompok tertentu yang katanya "kami ingin menghancurkan Si Juara"
serta email-email mereka yang menjelek-jelekkan Si Juara ke seluruh
jagat raya.

Sambil mengatakan begitu, terbayang di benak saya si sopir taxi India.
Apakah kawan ini betul-betul disambut baik oleh masyarakatnya sendiri
dalam membangun sekolah di kampungnya atau seperti yang saya alami ada
orang-orang tertentu yang hendak "menghancurkan saya" (yang nota bene
orang-orang Karo sendiri) atau TV Barat tidak sanggup memasuki wilayah
seperti ini yang, meski orang Karo sendiri membencinya, tapi juga
rindu, yaitu Anceng Cian Cekurak.

Pendeta berkata: "Apa kam mau menjadi bupati atau pengurus moderamen
GBKP?" Jawab saya: "Tidak." Katanya selanjutnya: "Peduli amat dengan
orang-orang yang menggunakan otaknya hanya untuk menjelekkan orang lain."

"Tapi saya orangnya asal disenggol gerupuh naring," kataku. Dia ketawa
terbahak-bahak. Di tahun 1981, aku hampir 'melahap' seorang abang beca
di Jogjakarta yang menipu kami (si pendeta dan saya). Kalau sang
pendeta tidak menjerit menangis saat itu, sudah gerupuh si abang beca.

"Itulah hidup," katanya lagi. Aku tetap tidak mengerti terhadap
orang-orang netral meski aku sangat setuju padanya.

A view from a far. Jarang orang berani mendekati api yang sebenarnya.
Meski banyak orang yang "berani" (tanda kutip).


Salam untuk MU Ginting, Valentino dan Carlos bere Tigan yang tidak mau
berhenti untuk berjuang. Itulah perjuangan, tak dengar kata berhenti!

jg





Kirim email ke