--- In [email protected], MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Â 
> Soal Gaji
> "Kesimpulanya seringkali Pendapatan kaum ''uruh' di bidang IT/hitech
> melebihi pendapatan kaum 'borjuis' yang mengepalai pemerintahan atau
> persh negara. Ini yang belum ada di pemikiranya para filsuf atau
> theoritis politik-ekonomi terdahulu." (Carlos Patriawan)
> 
> Dalam posting saya Jun 29 saya tulis:
> 
> Untuk murid yang suka bolos Jun 29, 2008 9:56 pm 
> Bahan pikiran untuk murid filsafat
> "Tetapi yang sangat menarik bagi saya dan saya harapkan bagi kita
semua ialah bagaimana pertanyaan ini akan terjawab atau kemungkinan
adanya jawaban baru sekarang ini dalam era IT, sehubungan dengan
adanya faktor-faktor baru yang telah terlihat jelas dalam konteks
perubahan dan perkembangan, yaitu info dan aliran info dengan
kecepatan elektronik serta pemanfaatan tekniknya dalam produksi dan
ekonomi. Faktor-faktor inilah yang mendorong dan menjadi dasar
perubahan dan perkembangan masyarakat dan karena itu juga menjadi
bagian dasar dari seluruh struktur bangunan masyarakat. Perubahan
dasar inilah yang telah mengubah struktur kebutuhan dan yang pada
gilirannya sangat mempengaruhi (atau satu-satunya yang mempengaruhi?)
kesedaran manusia ketingkat yang lebih tinggi, termasuk budaya dan
politik." (milis tanahkaro, Wed Jan 10, 2007 1:06 pm)
> Â 
> "kemungkinan adanya jawaban baru" . . . 
> Mungkinkah gaji ini salah satu unsur jawabannya?
> Bujur ras mejuah-juah
> MUG
> Â 
> 

Memang itu untuk menjawab sebagian pertanyaan pilosopis Kila. Cuman gara2
ini saya mesti buka lagi buku2 ttg Marx dan Ekonomi :-)) gak
papa....sebenarnya subjek ini sangat menarik dan saya pernah sedikit
sedikit menuliskan 'what should we do' di sebuah majalah teknologi.

Sedikit kembali ke sejarah, kalau Marx menginginkan pemisahan antara
proletariat dan borjuis (class struggle daqn union of workers atau
Workers in the world, United !), Di AS pada 1800an kecenderunganya
adalah aliansi antara Labour & Capital (istilahnya  United We Stand,
Divided we Fall).

Selanjutnya Marx mengatakan "Harmony between the classes (borgouise
and labour) would be ideal, of course, and an equitable redistribution
of wealth and peace for all BUT ...

It is not possible because the capitalist system has only one aim ,
PROFIT, based on private property which is obtained by exploiting the
labours of the Proletariat (Labour).

Nah kuncinya saya rase disini pada kata2 "based on private property"
atu "based on one natural resources" and so on. Kalau dalam sektor
hitech penghasil "supply" bukanlah private property atau natural
resources melainkan Otak manusia. Karena otak manusia yg digunakan
jadi ini punya casuality langsung dengan sistem pendidikan. Hebatnya
lagi, ternyata dalam 50 tahun terakhir, yang ternyata hebat dalam
sistem pendidikan adalah negara2 sosialis ( Cina, India , Russia dan
Eropa Timur).

Nach, karena "otak" manusia itu tidak mengenal ras ( baca: ketika
dilahirkan, otak orang amerika atau orang India sama saja
bandwidthnya, selanjutnya pengalaman-lah yang mengajarkan manusia) ;
maka bisa saja seperti yang terjadi sekarang.........dimana industri
industri maju berebutan SDM2 pintar dari India dan China.

Benar masih ada "exploitasi" seperti kata Marx, tapi karena hakekat
dari exploitasi ini adalah *redistribusi* (redistribution of wealth
and knowledge actually) dari negara kaya ke negara miskin (dalam hal
ini outsourcing atau offshore R&D) jadi sebenarnya yang DIUNTUNGKAN
adalah negara BERKEMBANG 
, sementara negara maju, sebenarnya mengalami
kemunduran karena hakekatnya, job atau pekerjaan yang tadinya hanya
ada di negara barat, sekarang dipindhkan ke timur (Asia). Lama
kelamaan, karena yang ditransfer bukan saja wealth tapi "ilmu", ya
negara2 asia ex-sosialis ini tiba2 maju pesat karena bisa
mengembangkan lebih banyak lagi teknologi yang asalnya berasal dari
transfer of technology tsb.

Jadi dalam hal kapitalisme-hitech (SDM) , tidak dikenal istilah
perbedaan bangsa dan ras, karena semua orang punya peluang yang sama
(egaliter). Masih belum banyak orang Indonesia yang aware dengan hal
ini....padahal ini bagus sekali untuk diexploitasi baik secara
individu atau level pemerintahan.

India bisa begitu, mungkin karena mereka punya "Guru" yang bener bener
hebat dan mikir jauh ke depan, yaitu Gandhi dan Rabindranath Tagore,
yang terakhir ini pernah mengatakan ...

"Untuk bisa sejajar dengan Kolonial Barat --Ingris waktu itu-- , India
mesti menguasai science dan teknologi yang hanya dikuasai negara Barat".

saya pikir cita citanya terwujud setelah 120 tahun.

kalau ada yang tertarik dengan hal ini ada dua buku yang ok untuk
dibaca 'the world is flat' dan 'capital flight'.

Bujur,



Carlos



Kirim email ke