Yah memang cukup disesalkan dengan tidak ikut Karo di pesta danau toba.
Tapi labo man tangkelen ras la termorahi nake. bicara ikut pe kai kin ateta si 
ban?? nggom kuakap lanai terandalken budaya karo ndai, tah kita nge siakap 
mejile kap kalak lang! Perlu nge kita ertapa lebe. 

Disamping si e  apai  kin kita ngit  terutang secara moral man budaya karo e. 
lit  kuidah jelmana  sebab  tetap tolak ukurna Sen....... Daci si idah turang 
seninanta teba mergana adi kalak ah kai pe tuduhkenna demi menggangkat budaya 
ras leluhur nenek moyangna, adi kita karo sekai kudat kuban mis bagah mehaga.

me la terandalken nake..... jadi nggom e yah lanai man subuken krina e. adi 
merhat nonton kita pesan tiketta. nonton saja pe meriah nge, ula kita mbiar 
budaya kalak ah pe sedap i dedah.
 


Bujur    
 
--- On Wed, 7/16/08, tariganw <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: tariganw <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [komunitaskaro] Re: Pesta Danau Toba, Thomson HS dan Opera Batak
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, July 16, 2008, 11:49 PM










    
            Memang cukup memprihatinkan kondisi sekarang ini..terlebih masalah 

parawisata.. .salah satu contohnya Pesta Danau Toba..yang membutuhkan 

banyak biaya dan tenaga..sedangkan hasil yg didapatkan belum tentu 

dapat mencapai target.

Dari pesta ini kedepannya diharapkan  dapat menambah kedatangan 

wisatawan baik dari domestik maupun internasional, dimana kita sama 

sama tau semakin hari semakin sedikit yang datang khususnya Danau 

Toba. Dalam hal ini ke PRan kita setidaknya harus kita 

jalankan,bahkan kalau bisa kita tingkatkan dengan berbagai macam 

media komunikasi. contoh salah satu komunikasi bisa melalui event.



Dalam hal menjalankan komunikasi tersebut juga sebaiknya kita 

dituntut lebih proaktif. Tapi apa yang kita lihat bahwa Karo adalah 

salah satu suku maupun daerah yang ikut memiliki Danau Toba, dalam 

hal ini tidak diikut sertakan dalam Pesta Danau Toba (saya baca 

dikompas).



Yang saya heran lagi, beberapa temen2 seniman karo kenapa tidak 

mengambil bagian dalam acara tersebut. Apakah merasa event tersebut 

terlalu kecil atau sekalian merasa terlalu besar...yang jelas, suka 

nga suka sebenarnya kita (Karo) punya kepentingan dalam event 

tersebut.



Seperti yang di bilang mpal JL, mungkin Thomson HS nga terlibat 

dalam event tersebut..Sebenarny a nga perlu mesti nungguin 

Thomson..karena mpal JG juga mampu menjalankan kegiatan tersebut, 

apalagi kam bilang sudah pernah 4 kali terlibat membuat event dan 

tergabung dalam Kerukunan Masyarakat Batak ( KERABAT ). Minimal 

segala sesuatu informasi tentang event tersebut sudah terdengar 

dikalangan Kerabat,alangkah sayangnya kegiatan tersebut terlewatkan 

begitu saja dan yang lebih mengecewakan lagi seolah-olah Karo sudah 

mulai kehilangan muka di kegiatan Pesta Danau Toba....Sebagai 

masukan buat kita...dimana- mana kegiatan kesenian tradisionil atau 

kegiatan budaya, tidak mungkin biaya produksinya tertutupin hanya 

mengharapkan dari sponsorship saja..yang paling bener adalah 

dukungan dari pemerintah, karena kegiatan budaya memang harus di 

subsidi dari negara, karena negara juga punya kepentingan terhadap 

budayanya... kembali kekita lagi, bahwa memang kita dituntut supaya 

lebih proaktif..



Bujur,.. Tariganw



--- In komunitaskaro@ yahoogroups. com, "j.limbeng" <[EMAIL PROTECTED] ..> 

wrote:

>

> Apa yang dikatakan oleh Thompson HS memang ada benarnya, artinya 

pesta Danau Toba terlepas dari Karo bukan Batak (debatable), tapi 

Karo berbatasan langsung dengan Danau Toba. Arrtinya pesta itu 

melibatkan kabupaten-kabupaten yang ada di sekeliling danau Toba 

tersebut. Jadi konsepnya bukan dari batak dan bukan batak, meskipun 

suku Melayu juga hadir disana. Konsep seperti itu juga kiranya dulu 

yang dibuat leh Viky Sianipar dalam program Save Lake Toba. Dalam 

albumnya itu tidak ada lagu Mandailing (Selatan), namun lagu-

lagu 'batak' yang ada di sekitar danau toba (Toba, Karo, Pakpak, dan 

Simalungun)

>  

> Saya tidak tahu, apakah juga karena Thomson HS tidak dilibatkan 

disana, padahal ia saya tahu punya andil besar juga dalam 

merevitalisasi kesenian Batak. Sebagai contoh misalnya ia berhasil 

kembali mengangkat Opera Batak, tetater tradisional Batak yang 

sempat punah tersebut. Sebagai mantan mahasiswa Sastra USU, ia 

kumpulkan sisa-sisa pemain Opera Batak yang ada, dan dihidupkan 

kembali. bahkan beberapa tahun yang silam pertunjukan itu 

ditampilkan di Jakarta, dan cukup berhasil menarik perhatian 

kalangan Batak dan Pemerintah tentunya. Karena gaungnya sampai ke 

pariwisata pusat, dan dari pariwisata pada tahun 2002 (kalau tdk 

salah) bekerjasama dalam kegiatan tersebut. Tapi tidak tahu 

sekarang, apakah masih aktif kembali. Memang kesenian tradisional 

ataupun kegiatan budaya kurang menarik dan susah cari sponsor. 

Mungkin berteater perlu kembali dibangun (meminjam istilah Tommy F 

Awuy) manajemen Budaya Hype. Budaya yang melebih-lebihkan, atau 

mungkin

>  romantisasi kesenian, atau barangkali perlu melakukan pendekatan 

baru yang berkembang saat ini,  yaitu manajemen narsis.. Dan itu 

perlu dalam berkesenian.

>  

> Salam mejuah-juah,

>  

>  

>  

> Julianus P Limbeng

>  

>  

>




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      


      

Kirim email ke