Sumber:
http://karodalnet.blogspot.com/2008/07/ternyata-lima-presiden-indonesia-pernah.html
Sejumlah ilmuwan menilai
Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) 'tertipu' dalam kasus blue
energy (energi biru). Seorang pria asal Nganjuk, Joko Suprapto, mengaku
bisa memproduksi minyak mentah dari air. Dari biang minyak itu bisa
dihasilkan bahan bakar sekelas minyak tanah hingga avtur.
Presiden
SBY yakin itu merupakan sumbangan Indonesia bagi dunia, di tengah makin
meroketnya harga minyak. Sementara, negara dibikin pusing tujuh
keliling oleh dampak dari kenaikan itu. Karuan saja, sejumlah pihak,
termasuk para ilmuwan, menyesalkan informasi yang belum valid bisa
diterima oleh SBY. Kabarnya Joko kini dilaporkan ke polisi.
Penipu
'masuk Istana' ternyata punya sejarah yang cukup panjang. Baiklah kita
mulai pada tahun 1950-an, pada masa pemerintah Presiden Soekarno. Ada
seseorang yang mengaku Raja Kubu -- suku anak dalam di Jambi. Tidak
tanggung-tanggung, dia memberi gelar dirinya Raja Idrus dan istrinya
Ratu Markonah.
Pasangan 'suami istri' itu, entah bagaimana
prosesnya, mendapat pemberitaan pers, termasuk foto-foto keduanya.
Maka, sejumlah pejabat negara memberikan penghormatan luar biasa pada
'raja' dan 'ratu' tersebut.
Rupanya ada seorang pejabat yang
menghubungi Presiden Soekarno dan kemudian memperkenalkannya. Di
Istana, 'suami-istri' yang sebenarnya adalah penarik becak dan pelacur
itu sempat diterima sebagai tamu kehormatan di Istana Merdeka. Mereka
juga diberi uang, menginap dan makan gratis di hotel-hotel mewah.
Termasuk mengunjungi Kraton Yogyakarta dan Surakarta.
Kedok
penipuan mereka terbongkar saat berjalan-jalan di Jakarta. Ada seorang
tukang becak yang mengenali 'Raja' Idrus, teman seprofesinya di Tegal.
Sedang sang 'maharani' juga terbongkar berprofesi sebagai pelacur kelas
bawah di kota yang sama. Konon, keduanya bertemu di sebuah warung kopi
di Tegal. Kemudian sepakat untuk menjalankan aksi penipuan itu.
Keistimewaan Markomah selalu memakai kaca mata hitam baik siang maupun
malam. Rupanya sebelah matanya picek.
Pada masa Soeharto, di era
1970-an, juga terjadi penipu kelas kakap. Penipunya bernama Cut Zahara
Fona, asal Aceh. Meski tidak tamat SD, dia memiliki ide jenius. Dia,
yang selalu mengenakan kain batik, mengklaim bahwa janin yang ada
diperutnya bisa berbicara dan mengaji.
Karuan saja, kabar itu
menggegerkan masyarakat, apalagi diberitakan secara luas di surat kabar
dan majalah. Konon, tiras sebuah harian ibukota terdongkrat naik,
karena tiap hari membuat berita tentang 'bayi ajaib' di perut Cut
Zahara.
Masyarakat yang banyak berdatangan pun rela untuk
nguping di perutnya yang dilapisi kain untuk mendengar 'bayi ajaib' itu
berbicara atau mengaji. Bukan hanya rakayat biasa, ada juga pejabat
yang meyakininya. Termasuk Wakil Presiden Adam Malik yang mengundang
Cut Zahara ke Istana Wapres. Bahkan, Menteri Agama KH Mohamad Dachlan
termasuk orang yang meyakininya. Untuk meyakininya, ia menyatakan bahwa
Imam Syafi'ie selama tiga tahun berada di kandungan ibunya.
Cut
Zahara Fona dan suaminya pernah diperkenalkan oleh Sekdalopbang
(Sekretaris Pengendalian Pembangunan) Bardosono kepada Presiden
Soeharto dan Ibu Tien Soeharto. Perkenalan ini dilakukan di Bandara
Kemayoran setelah keduanya tiba dari lawatan luar negeri. Tapi, rupanya
Ibu Tien termasuk orang yang kurang yakin terhadap 'bayi ajaib'-nya Cut
Zahara Fona. Apalagi wanita Aceh itu menolak ketika hendak diperiksa di
RSCM.
Konon, Ibu Tienlah yang menggeledah dan mendapatkan bahwa
bicara dan mengaji itu hanya berasal dari tape recorder kecil yang
disisipkan di perut Cut Zahara. Kala itu memang belum banyak perekam
suara sekecil milik Cut.
Meskipun kedoknya terbongkar, 'bayi
ajaib' tersebut bukan hanya mendapat perhatian masyarakat Indonesia,
tapi juga dunia internasional. Hingga ada permintaan dari Pakistan agar
Cut dan suaminya berkunjung ke sana. Bahkan, ada yang meramal 'bayi
ajaib' itu, bila lahir akan menjadi Imam Mahdi.
Setelah tidak
terdengar kasus Istana pada masa Presiden BJ Habibie, yang memang
pendek masa jabatannya, pada masa Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur)
kembali terjadi penipuan yang mengaitkan Istana Negara. Pelakunya
adalah Soewondo, yang biasa keluar masuk Istana karena jadi tukang
pijat Gus Dur.
Orang yang dianggap 'dekat' dengan orang nomor
satu di Indonesia itu berhasil menipu Yayasan Dana Kesejateraan
Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (BULOG) dan dituduh membobol
uang yayasan hingga Rp 35 miliar. Soewondo sempat kabur, namun kemudian
ditangkap polisi di kawasan Puncak, Jawa Barat. Pengadilan memvonisnya
3,5 tahun penjara.
Kasus tersebut sempat menyita perhatian
khalayak dan menjadi senjata pamungkas bagi lawan-lawan politik Gus
Dur, yang membantah telah memerintahkan pencarian dana itu. Namun,
akhirnya Gus Dur lengser juga dari jabatannya gara-gara kasus yang
dikenal dengan istilah Buloggate tersebut.
Pada masa Presiden
Megawati, skandal 'penipuan' kembali terjadi. Kali ini yang diperdaya
adalah Menteri Agama Kiai Said Agil Almunawar. Menteri yang bergelar
profesor dan hafidz Alquran ini memimpin penggalian situs di Batutulis
Bogor yang diyakini memendam harta karun yang nilainya dapat untuk
membayar seluruh utang negara.
Menurut Said Agil, Presiden
Megawati mengetahui rencana penggalian situs bersejarah yang konon
peninggalan Kerajaan Pajajaran itu. Sayangnya, harta karun yang dicari
hanya pepesan kosong. Said Agil sendiri kini masih ditahan dalam kasus
tuduhan korupsi uang haji.
Moga-moga penghuni Istana yang
menjadi lambang kebanggaan bangsa, negara dan rakyat Indonesia, itu
tidak lagi menjadi korban penipuan.
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net