Mejuah-juah senina.

 

E gia ma pendahindu i Duri, ma labo erbahan kam "jungut2". 

 

Aku pe dahkam kira2 2 minggu si lewat lit ka jasa taksi i terminal
kedatangen nawarkensa. Mbue kel banna cakapna, 245 ribu nina lewat tol nca
kutadingken mis nusur baci ku 180 rb. Eh mis ka aku ngulihken ku golden
bird, adi golden mis kin teratur banna sesuai dgn klas mobil. 

 

Tapi singilasna ku akap, piga2 tahun si lewat. Ongkos taksi hanya 37.000,
bereken 50 rb lanai er singolih. 

 

 

salam,

agt

 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of T. Ginting
Sent: 01 Agustus 2008 4:49
To: [email protected]
Subject: [tanahkaro] Hati-hati untuk Taxi Tarif Lama (Tarif Bawah) sharing

 

Mejuah-juah,

 

Bagi yang sudah pernah mengalami lewatkan saja ini hanya memberi informasi
bagi temen2 yang menggunakan layanan taxi yang bertuliskan tariff lama atau
tariff bawah.

Kejadian ini kemarin kebetulan saya baru pulang dari Pekanbaru sehabis
visit project di Chevron Pacific Indonesia (CPI) Duri. Seumur-umur memang
baru perjalanan saya kemarin yang paling menjengkelkan.

Awalnya delay pesawat Garuda yang saya tumpangi dimana seharusnya terbang
jam 13.50 ditunda ke jam 14.30 tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dimana kita
ketahui pesawat yang bisa dipegang schedule penerbanganya hanya Garuda yang
jarang sekali mundur schedule.

Saya tiba di bandara Sukarno Hatta tepat pukul 16.00 dan langsung menuju
halte Damri tujuan pasar minggu. Sekitar jam 16.30 saya naik Damri dan masih
dapat tempat duduk, karena sudah penuh dan ada beberapa orang yang sudah
berdiri maka bis tersebut langsung berangkat tanpa mutar lagi ke terminal 1.

Pada awal perjalanan tidak ada tanda-tanda sama sekali tetapi tanpa diduga
di tol pas didepan Kartika Chandra (Peanet  Holywood) bis tersebut mengalami
kerusakan alias mogok. 

Setelah berapa lama dikutak-katik oleh sopir dan kerneknya tetapi tidak
kunjung beres, akhirnya penumpang meminta agar diderek saja sampai pintu tol
karena tidak bisa keluar untuk cari transport lain. Akhirnya diderek oleh
Derek tol sampai pancoran dan seluruh penumpang turun untuk mencari
transport lain, dengan rasa tanpa berdosa sopir dan kernek tidak mengucapkan
kata maaf dan ongkos yang sudah mereka tarikpun sama sekali tidak
dikembalikan ke penumpang.

Saya putuskan naik taxi dari pancoran dan kebetulan ada seorang cewek yang
arah tujuan kami sama, saya ajak ikut bareng karena kasihan melihat
bawaannya yang lumayan banyak.

Biasanya kalo pakai jasa taxi saya pakai blue bird group, tapi setelah saya
tunggu sekian lama tidak ada yang datang sementara hari sudah semakin gelap
kebetulan ada taxi yang kosong lewat akhirnya saya stop dan kami berdua
naik. Taxi tersebut adalah "Dian Taxi" dan di kaca depan tertulis "Tarif
Lama" tapi sebagian sudah agak kabur hurufnya. 

Begitu buka pintu ketika argo meter dihidupkan saya lihat tertulis Rp. 4,000
normal. Beberapa saat kemudian sopir bertanya dengan ramah, arah kemana kita
pak? Lalu saya jawab ke Pasar Minggu. Kemudian sopir tersebut bilang: untuk
sementara kita pakai table ya pak? Saya yang belum mengerti balik bertanya:
Maksudnya gimana pak, pakai argo kan? Dia bilang: Ia pak tapi argo ini belum
dibetuli dari kantor, jadi kalo tertulis Rp. 4,000 berarti Rp. 5,000 dan
seterusnya sesuai table ini, sambil menyodorkan table yang dimaksud.

Saya bilang: Anda gimana sih berapa lama sih ganti system argo itu, kok bisa
bagini, penumpang kan bingung pak? Dia jawab: ia pak ini dari kantor. Saya
mau konfirmasi ke kantornya tentang kebenaran itu sudah tutup karena sudah
sore. Setelah argument beberapa lama cewek teman saya yang duduk dibelakang
bilang: sudahlah pak daripada rebut. Akhirnya saya diam sambil dongkol di
hati.

Saya rasa ini trik mereka untuk mendapatkan penumpang karena biasanya
golongan menengah ke bawah mencari taxi yang bertulis Tarif Lama walaupun
fasilitas interiornya kurang bagus seperti AC dan tempat duduk asal harga
argonya lebih murah.

Jadi lebih baik hati-hati daripada kecewa dan dongkol karena merasa
dibohongi.

 

Bujur ras Mejuah-juah,

 

Ginting's 

 

Kirim email ke