Bila masalahnya dibatasi pada ekonomi semata (terlepas dari pandangan
agama manapun juga, idiologi apapun juga dan nilai-nilai lainnya), 
saya setuju dan tidak setuju terhadap keberadaan tengkulak. Saya akan
menjelaskan mengapa saya setuju dan tidak setuju.

Setuju
Skripsi S1 Lina Pardede di Jurusan Antropologi UI berjudul
"Inang-inang Rentenir di Jakarta" (1980) adalah yang pertama kali
menyadarkan saya (semasa kuliah di tahun 1981) bahwa kehidupan banyak
orang miskin di Indonesia sangat tergantung pada tengkulak.  Bila
seorang tengkulak marah dan tidak mau meminjamkan uangnya lagi kepada
si pelanggan, dalam hal ini pedagang sayur pasar pagi di Jakarta,
hancurlah hidup keluarga si pelanggan, demikian salah satu poin yang
diangkat oleh Lina Pardede dalam skripsinya dengan uraian yang konkrit.

Di tahun 1987, saya bersama teman-teman dosen antropologi USU
melakukan penelitian mengenai nelayan Melayu di Hamparan Perak, Medan.
Di sini, selain menemukan banyak sekali berserakan beling, pinggan dan
tembikar dari Kerajaan Haru (seperti yang ditemukan oleh Ita Apulina
dan arkeolog E. Edward McKinnon kemarin di Benteng Putri Hijau, Namo
Rambe), saya menemukan lagi kenyataan bahwa, tanpa adanya tengkulak
ratusan keluarga nelayan Melayu akan mati kelaparan. Penelitian ini
menguatkan kesimpulan saya 3 tahun sebelumnya dalam penelitian
mengenai nelayan Melayu di Barus (Pantai Barat Sumatra).

Inti permasalahan yang membuat para nelayan sangat tergantung pada
tengkulak adalah bahwa mereka tidak mempunyai modal untuk melaut
sedangkan mereka tidak memiliki pencaharian lain atau tidak mampu
melakukan lain kecuali menangkap ikan di laut.

Memang, ada beberapa nelayan yang tidak perlu meminjam uang kepada
tengkulak untuk bisa menangkap ikan. Mereka menggunakan sampan tak
bermesin dan istri-istri mereka mengutip kepiting, udang dan cumi-cumi
yang terdampar oleh pasang di sore hari. Tapi, tangkapan mereka dalam
jumlah sangat kecil yang hanya memenuhi kebutuhan untuk makan
sedangkan mereka umumnya punya banyak anak yang membutuhkan biaya
sekolah. Para nelayan seperti ini di Percut mungkin bisa lebih
bersyukur karena di hari Minggu pagi lumayan banyak wisatawan lokal
yang hendak makan ikan goreng dengan langsung membeli hasil tangkapan
mereka saat berlabuh di sungai dan meminta kedai-kedai di sana
menggorengkannya.

Dari percakapan intensif dengan para nelayan (kadang bermalam di rumah
mereka), terkesan oleh saya bahwa mereka sangat menghormati para
tengkulak. Terjadi hubungan patron-client tetap seperti halnya
kobun-oyabun di Jepang atau antara tuan tanah dan buruh di Thailand.
Bila anak mereka sakit, tengkulak langganan mereka langsung membawanya
ke Puskesmas atau praktek dokter. Bila anak mereka sunatan atau kawin,
tengkulak langganan memberi sumbangan yang besar. Ini juga alasannya
mereka tidak lari ke tengkulak yang lain.

Ringkasnya, tengkulak adalah The God Father untuk mereka, bukan
sebagai bandito.

Hal yang sama terjadi di kalangan perkebunan rakyat (karet) di daerah
Langkat. Sebagaimana seorang tengkulak bercerita kepada saya di tahun
1983: "Setiap ke kampung mereka, paling tidak saya harus membawa uang
5 jt rph. Bila ada anggota keluarga yang sakit atau butuh pertolongan,
saya harus siap dengan uang kontan di kantong untuk membantu mereka.
Bantuan cuma-cuma, bukan pinjaman. Imbalannya, mereka merasa
berhutangbudi untuk menjual karet mereka ke kita dan tidak terlalu
menaikkan harga." (petani karet dan para tengkulaknya di Langkat ini
umumnya orang Karo).


Tidak Setuju
Strategi dasar tengkulak adalah membuat pelanggannya tergantung
setergantungnya kepada si tengkulak dalam jangka waktu selama mungkin.
Meningkatkan ekonomi pelanggan bukanlah kepentingan tengkulak, malahan
bertentangan dengan kepentingannya membuat pelanggan tergantung padanya.

Memang ada persaingan antara tengkulak yang satu dengan tengkulak yang
lain untuk mendapat pelanggan sebanyak mungkin, akan tetapi, jangan
lupa, orang miskin dan kurang pendidikan biasanya lebih fanatis
terhadap keyakinan tertentu daripada para tengkulak yang lebih
rasional terhadap tujuannya mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya
dengan modal sekecil-kecilnya. Kasarnya, orang miskin dan rendah
pendidikan "munuh pe nggit demi membela patronnya, sedangkan sang
patron lebih suka berdamai dengan patron lain daripada rugi."

Both
Bila ada yang mengajak agar kita menghabisi saja para tengkulak, saya
akan bilang, No! Tapi, bila ada yang mengajak kita sepatutnya
mengacungkan jempol kepada tengkulak, maka jawaban saya juga, No! 

Ucapan Jusuf Kala
Ucapan bisa saja sama dengan pikiran, tapi juga bisa jadi tidak sama.
Terpenting adalah, bahwa ucapan punya efek sedangkan pikiran yang
tidak diucapkan belum tentu punya efek.

Ditinjau dari segi efek kekuasaan, ucapan Kala adalah genius. Dia
sangat mengerti statistik (bahwa hampir 100% nelayan di Indonesia
adalah Islam yang secara ekonomis sangat tergantung pada tengkulak).
Tapi, secara ilmu kenegaraan, Kala adalah orang yang hidup hanya
memenangkan diri sendiri, bukan memenangkan orang miskin dan orang
lemah dan juga bukan memenangkan bangsa.

Dengan ucapannya itu, Kala membuka front terhadap partai-partai
berbasis Islam (terutama PKS) dan partai-partai sosialis dan
nasionalis (terutama PDI-P). Istilah pegawai negeri di Jaman Orba dia
ganti menjadi tengkulak di jaman sekarang (entah jaman apa namanya
yang jelas bukan Reformasi). Menurut saya, Jusuf Kala adalah Golkar TULEN.

jg


Kirim email ke