MJJ arons,


PKS seleksi 300 Kader Bertitel PhD untuk capres (Harian SIB
6 Agustus 2008), sebenrnya wacana yang dikemukakan PKS itu hal yang biasa,
Semua partai, kelompok, individu di NKRI ini bebas berwacana. Yang luar biasa
adalah tanggapan dari Partai dan pengamat, yang membuat wacana tersebut memberi
dampak positip bagi PKS, karena partai ini dianggap (sebagian masyarakat kaum
muda tentunta) adalah partai yang meniupkan pembaharuan. Yang tidak kalah
menariknya tanggapan dari partai-2 besar (yang sudah pasti karena merasa
terusik kepentingan politiknya).

PDIP melalui Sekjen nya Pramono Anung mengatakan itu tidak
realistis menolak dengan banyak argumentasi al: Pendidikan bangsa masih rendah
60  masih SMA; Tidak ada korelasi antara
pendidikan dan kepemimpinan; PhD hanya gelar akademik bukan jabatan politik…
dsb… dsb. Beliau juga (mungkin becanda ya.. atau emosi ??) mengatakan kenapa 
tidak
Profesor saja sekalian.

Menarik jadinya untuk mengupas lebih lanjut apakah Profesor
(di Indonesia) memang secara academic lebih tinggi dari PhD (Kalau dulu di 
Indonesia
banyak juga Prof Yang S1, tapi karena gol. 
Sudah IV D, ya  jadi professor).

 

GOLKAR mellui Wkl sekjen Chairul Anwar juga gak setuju
(apakah ini berkaitan juga dengan kepentingan politik??) Tapi alsan  nya logis 
: Kompetensi seorang president
bukan dari title tapi dari kemampuan dia.

PPP gak mau ikut-ikutan berpolemik memberi komentar juga :
“S3 masih terbatas  terutama dibidang
politik, jangan mengurung persaingan yang tidak terjangkau”

EFFENDI GOZALI – Pakar komunikasi : Syarat PhD tidak
realistis

Hal yang senada disampaikan ARBI SANIT : Tinggi sekolah
tanpa pengalaman akan mati…..

 

Kalau menurut saya (yang awam dalam politik) Kalau
memang  sudah diatur di konstitusi wacana
yang di gulirkan PKS, tentunta gak perlu ditanggapilah apalagi kalau
berlebih-lebihan….. tapi memang reaksi pasti akan terjadi bila kepentingan
terusik, reaksi makin keras kalau ke”terusikannya” makin besar. 

Dari wacana tersebut diatas ada tersirat bahwa Doktor
luklusan Dalam negeri sepertinya tidak dimasukkan dalam Kriteria PKS, apakah
karena mutunya gak sama dengan gelarnya. Barangkali ada benarnya karna untuk
mencapai gelar Doktor ni Repiblik ini, sepertinya tifdak sesulit gelah PhD di
Univ. Luar negeri. dan ada
juga ternyata Doktor, Profesor yang gak bisa komunikasi dalam bahasa Inggris. 
Dan
hebatnya ada teman yang bergelar MBA, gelarnya 
dalam bahasa inggris tapi kalau komunikasi…..payah. Tapi kenyataan Gelar
itu perlu … dan dapat dibeli….Per"Baroeng"Peceren






      

Kirim email ke