SUARA PEMBARUAN DAILY
Keberagaman Itu Napas Indonesia
Bangsa Indonesia harus sadar bahwa perbedaan seharusnya dipandang sebagai
sebuah kekuatan, bukan ancaman.
asa kebangsaan rakyat Indonesia saat ini sudah luntur, kita lebih memilih
terbelenggu dengan identitas politik atau agama, yang bertentangan dengan
prinsip awal negara ini, yaitu negara demokrasi. Perlu mendefinisikan kembali
arti nasionalisme dan sekaligus memberi pendidikan dan aplikasi yang nyata.
Pluralisme atau keberagaman di Indonesia merupakan bagian dari kehidupan.
Keberagaman itu merupakan napas Indonesia. Setiap perbedaan tidak dapat
diseragamkan dengan cara apa pun. Bangsa Indonesia harus sadar bahwa perbedaan
seharusnya dipandang sebagai sebuah kekuatan, bukan ancaman. Kita harus kembali
pada konsep negara ini dibentuk, yaitu negara demokrasi yang mentolerir
berbagai perbedaan.
Pernyataan ini merupakan rangkuman pendapat dari empat tokoh agama yang
diwawancarai SP secara khusus, dalam rangka memperingati HUT ke-63 RI, dengan
topik wawasan kebangsaan dari perspektif agama-agama di Indonesia.
Aktivis perempuan Islam, Siti Musdah Mulia sangat menyesalkan rasa kebangsaan
kita yang sudah luntur, yang tidak lagi mengedepankan rasa kebersamaan dan
lebih memilih terbelenggu dengan identitas politik atau agama, yang jelas-jelas
bertentangan dengan prinsip awal negara ini, yang diwariskan para pendiri
sebagai negara demokrasi.
Dia menyebutkan salah satu contoh belenggu identitas yang masih membatasi
bangsa ini adalah yang terlihat pada Undang-Undang Antipornografi. Peraturan
perundangan yang seharusnya menjadi hal utama dalam bernegara justru menjadi
nilai-nilai agama yang sekadar dibaca secara dangkal dan sempit.
Selain itu, mengingat peristiwa anarkis yang terjadi beberapa waktu lalu di
lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, di mana tindakan kekerasan
dilakukan oleh Front Pembela Islam yang meng- klaim merekalah yang paling
benar, terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
(AKKBB).
"Dari kejadian tersebut, bisa dikatakan bangsa ini sudah membelenggu kebebasan
untuk membangun pluralisme, dan yang lebih menyedihkan lagi adalah Majelis
Ulama Indonesia (MUI), yang kabarnya telah melarang adanya pluralisme dengan
menentang dan mengharamkan keragaman yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Sangatlah naïf, karena apa yang telah dengan susah payah yang diperjuangkan
oleh para pendahulu, dan dengan sangat bijaksana dibentuk untuk membangun
negara Indonesia menjadi negara demokrasi, kini tidak lagi dapat
dipertahankan," katanya.
Musdah menambahkan, tampaknya bangsa Indonesia kini lebih mengenal
sektarianisme daripada toleransi antar umat khususnya antar- umat beragama.
Karena bangsa ini telah mengkhianati apa yang sudah diatur oleh Republik, maka
sudah saatnya untuk memikirkan bagaimana caranya kembali kepada prinsip-prinsip
awal ketika negara ini dibentuk.
"Sudah saatnya setiap elemen masyarakat bekerja keras menyatukan pandangan
untuk itu, dan sebagai langkah awal dapat dilakukan melalui pembentukan dalam
pendidikan formal. Kemudian mengajarkan para generasi muda mengenai kultur
ajaran agama sedari dini serta belajar menghargai perbedaan yang ada," tegas
Musdah.
Makan Kerupuk
Senada dengan pendapat Musdah, Sekretaris Jenderal Perwakilan Umat Buddha
Indonesia (Walubi), Philip K Wi- djaja juga menganjurkan perlunya membangkitkan
rasa nasionalisme melalui pendidikan.
"Saya yakin, kita semua perlu mendefinisikan kembali arti nasionalisme dan
sekaligus memberi pendidikan dan aplikasi yang nyata. Bangsa ini sudah cukup
sibuk dalam menghadapi kenyataan, kalau masih ditambah dengan mereka yang hanya
mementingkan kepentingan individu dan golongan, yang tega melakukan sesuatu
yang anarkis dengan baju agama atau kepercayaan, maka dapat dikatakan betapa
rendahnya nasionalisme mereka," ujar Philip.
Ia menambahkan, memperingati hari kemerdekaan Republik ini bukan sekadar soal
kembali ke rutinitas setiap tahunnya, yaitu membersihkan lingkungan, mengecat
dinding, membangun gapura, ikut serta lomba makan kerupuk, bazaar, dan "ritual"
lainnya yang biasa dilakukan ketika menyambut proklamasi.
Oleh karena itu, imbuh Philip, di sinilah nasionalisme dan wawasan kebangsaan
berbicara, kita harus sadar bahwa kita telah lupa menyuntikkan tindak nyata ke
dalam jiwa nasionalisme, lupa mengisi kemerdekaan dengan wawasan nasionalis
yang proporsional.
Mungkin saja kita masih teriak, "Merdeka atau Mati!", bukankah sekarang sudah
merdeka karena kita sudah peringati Hari Kemerdekaan, namun dalam berbagai
bidang masih juga belum merdeka? Lalu, slogan yang diteriakkan, "mati", kapan
bisa dilaksanakan untuk bangsa? Siapa yang mau berkorban secara nyata, secara
sadar, demi kemerdekaan bangsa dan negara secara utuh?
Nasionalis
Dilihat dari sudut pandang umat beragama Kristen, Ketua Umum Persatuan
Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Andreas Anangguru Yewangoe berpendapat, bahwa
secara normatif orang Kristen adalah orang yang sangat nasionalis.
Mungkin dulu tidak nasionialis, tapi kini sudah dibuktikan, orang- orang
Kristen diajarkan untuk cinta kepada Tanah Air, tidak diajarkan untuk mencintai
sebuah negara lain atau berorientasi ke negara lain. Seperti semboyan latin
"prodeo pro satria" yang berarti cinta kepada Allah, cinta kepada tanah air
Menurut seorang tokoh Kristen, warga negara yang bertanggung jawab artinya
adalah warga yang dapat mempelopori pembangunan sebuah negara. Rasa
nasionalisme yang ditunjukkan atau dibuktikan dengan semangat nation building
atau semangat membangun bangsanya sendiri.
Bagi Indonesia, selama masih mempertahankan dan menghidupkan Pancasila sebagai
ideologi, maka setiap individu di dalamnya, khususnya orang-orang Kristen akan
tetap menjadi pribadi yang nasionalis.
Yewangoe menegaskan, apabila ideologi tersebut dibelokkan, maka bukan hanya
orang Kristen saja, melainkan juga setiap pihak merasa tidak sejahtera.
Pluralisme atau kebe-ragaman yang ada di Indonesia merupakan bagian dari
kehidupan. Setiap perbedaan tidak dapat diseragamkan dengan cara apa pun karena
sama saja menolak hakikat bangsa yang memang terlahir dengan berbagai
perbedaan. Bangsa Indonesia harus sadar bahwa perbedaan seharusnya dipandang
sebagai sebuah kekuatan, bukan ancaman dari pihak yang satu terhadap pihak
lainnya.
Sementara itu, menurut penilaian Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Hindu
Dharma Indonesia Pusat, I Made Gde Erata, rasa nasionalisme dan wawasan
kebangsaan rakyat Indonesia secara umum masih tinggi. Hal tersebut dilihat dari
kenyataan yang terlihat di lapangan, bukan dari penilaian sesaat yang banyak
dijumpai di media massa.
Ia menyebutkan bahwa organisasinya baru saja mengadakan ibadah khusus umat
Hindu di Sulawesi Tengah minggu lalu, dan lewat acara tersebut, ia mengalami
sendiri bahwa umat beragama lain juga menunjukkan dukungan yang tulus terhadap
cara tersebut.
"Ini bukti nyata, toleransi antarumat beragama di Indonesia masih sangat baik
hingga saat ini. Bukti lain bisa dilihat dari pertemuan para tokoh umat
beragama yang sering diselenggarakan. Tokoh-tokoh agama yang bertemu tetap
ingin menjaga bangsa yang rukun dan yang memiliki persatuan dan kesatuan.
Dia menyatakan bahwa bangsa Indonesia harus ingat akan semboyan Bhinneka
Tunggal Ika yang diwariskan sejak bangsa Indonesia berdiri, seluruh rakyat
harus sepakat untuk menerima setiap perbedaan yang ada demi Indonesia yang
lebih baik di masa yang akan datang. [WWH/R-8]