sumber: 
http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/08/23/14084531/menelusuri.jejak.kerajaan.aru

Kerajaan Aru
merupakan kerajaan besar dan penting yang pernah berdiri pada abad
ke-13 hingga 16 Masehi di bagian utara pulau Andalas (Sumatera).Namun
sayangnya berita tentang kerajaan ini sangat minim terdengar, kalah
pamor dengan kerajaan-kerajaan lain yang pernah jaya di Nusantara
seperti Kerajaan Majapahit, Singosari dan Sriwijaya."Padahal
kerajaan ini banyak disebut pada Amukti Palapa dalam Hikayat Pararaton,
sejarah Melayu, dalam laporan Mendez Pinto (penguasa Portugis di
Malaka), laporan admiral Cheng Zhe (Cheng Ho) maupun pengembara dari
negeri China lainnya," kata sejarawan Universitas Negeri Medan
(Unimed), Dr Phill Ichwan.Berdasarkan sejumlah literatur, pusat
Kerajaan Aru dinyatakan berpindah-pindah. Sebagian menyebut di Telok
Aru di kaki Gunung Seulawah (Aceh Barat), kemudian di Lingga, Barumun
dan bahkan di Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang.Namun demikian,
aktivitas arkeologi yang telah dilakukan berkesimpulan bahwa pusat
Kerajaan Aru berada di Kota Rentang (Hamparan Perak) di Kabupaten Deli
Serdang dari abad ke-13 hingga 14 Masehi, sebelum akhirnya pindah ke
Deli Tua dari abad 14 hingga 16 M akibat serangan dari Aceh."Hipotesa
bahwa Kota Rentang adalah pusat Kerajaan Aru banyak didukung oleh
faktor seperti jalur dari Karo Plateau maupun Hinterland menuju pantai
timur yang terfokus pada Sei Wampu dan Muara Deli. Di kawasan itu juga
ditemukan ragam keramik yang berasal dari China, Muangthai, Srilangka,
serta koin atau mata uang Arab dari abad ke-13 hingga 14," katanya.Temuan
yang paling menakjubkan adalah ditemukannya batu kubur (nisan) yang
tersebar di situs sejarah penting tersebut. Batu kubur yang terbuat
dari batu cadas (volcanic tuff) yang ditemukan memiliki ornamentasi
dalam berbagai ukuran dan sebagian bertuliskan Arab-Melayu dan banyak
menunjukkan kemiripan dengan yang ditemukan di Aceh.Di rawa-rawa
di kawasan yang sama juga ditemukan kayu-kayu besar yang diduga
merupakan bekas istana Kerajaan Aru serta batu-batu besar yang diduga
bekas bangunan candi.Juga ditemukan bongkahan perahu tua dengan
panjang 30 hingga 50 meter yang menunjukkan bahwa Kota Rentang
merupakan pusat niaga yang padat pada abad tersebut.TerbesarSejarawan
dari Universitas Sumatera Utara, Tuanku Luckman Sinar, mengatakan, pada
abad ke-15 Kerajaan Aru merupakan kerajaan terbesar di Sumatera dan
memiliki kekuatan yang dapat menguasai lalulintas perdagangan di Selat
Malaka.Kerajaan Aru yang meliputi wilayah pesisir Sumatera
Timur, yaitu batas Tamiang sampai Sungai Rokan, sudah mengirimkan
beberapa kali misi ke Tiongkok yang dimulai pada tahun 1282 Masehi pada
zaman pemerintahan Kubilai Khan.Kerajaan Aru juga pernah
ditaklukkan oleh Kertanegara dalam ekpedisi Pamalayu (1292) dan ditulis
dalam pararaton "Aru yang Bermusuhan". Tetapi setelah itu Aru pulih
kembali dan menjadi makmur sebagai mana dicatat oleh bangsa Persia,
Fadiullah bin Abdul Kadir Rashiduddin dalam bukunya "Jamiul Tawarikh"
(1310 M), jelasnya.Musibah kembali menimpa Kerajaan Aru ketika
Majapahit menaklukkannya pada tahun 1365 M. Seperti tertera dalam syair
Negarakertagama strope 13:1, pada masa itu Majapahit juga menaklukkan
Panai (Pane) dan Kompai (Kampe) di Teluk Haru.Dalam laporan
Tiongkok abad ke-15 juga disebut berkali-kali Aru yang Islam mengirim
misi ke Cina. Baik dari laporan-laporan China maupun dari laporan
Portugis yang ditulis kemudian, menunjukkan sekitar Sungai Deli menjadi
pusat Kerajaan Aru dengan bandarnya Kota Cina dan Medina (Medan)
sebagaimana disebut-sebut Laksamana Turki Ali Celebi dalam "Al Muhit".Mengenai
Kota Rentang sebagai pusat Kerajaan Aru juga diperkuat oleh Prof.
Naniek H Wibisono, tim Puslitbang Aarkeolog Nasional Badan Litbang
Kebudayaan dan Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.Menurut
dia, hasil penelitian eksploratif di situs Kota Rentang memunculkan
dugaan bahwa lokasi tersebut merupakan bagian dari jaringan permukiman
dan aktivitasnya yang saling terkait.Asumsi tersebut berdasarkan
pola persebaran dan variabilitas tinggalan arkeolog seperti keramik,
tembikar, artefak batu, sisa-sisa tulang, mata uang, damar dan batu
nisan.Keberadaan tinggalan arkeologi terutama keramik dan mata
uang yang menjadikan bukti bahwa di lokasi tersebut pernah terjadi
aktivitas yang berhubungan dengan perniagaan, katanya.Keramik
merupakan suatu komoditi dari luar Nusantara yang banyak ditemukan.
Penemuan tersebut menjadi kunci penting sejarah perniagaan, baik secara
lokal maupun interlokal. "Kita menemukan bukti-bukti yang meyakinkan
untuk lebih memperjelas gambaran tentang apa yang berlangsung di
wilayah itu pada masa lampau," tambahnya.Melalui keramik,
katanya, dapat ditelusuri kapan sesungguhnya Kota Rentang mulai
berperan dalam perniagaan. Selain itu, melalui persamaan variabilitas
dan kronologi tinggalan arkeologi juga dapat diketahui keberadaan situs
Kota Rentang dan hubungannya dengan situs-situs lainnya."Dari
hasil penelitian ini diduga tinggalan arkeologi yang ditemukan memiliki
persamaan dengan situs lainnya yang terletak dalam satu jaringan
pesisir-pedalaman, antara lain Kota Cina," katanya.Pasca
serangan Aceh pada akhir abad ke-14, pusat Aru berpindah dari Kota
Rentang ke Deli Tua dan berdiri dari abad ke-15 hingga 16 M. Di situs
Aru Deli Tua ditemukan Benteng Putri Hijau (Green Princess Castle),
keramik yang berasal dari China, Muangthai, Sri Langka maupun Burma.
Temuan keramik tersebut menunjukkan periode yang sama dengan temuan di
Kota Rantang. 


Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net



      

Kirim email ke