Catatan Panggung Joey Bangun jelang Pawang Ternalem

Sumber : www.joeybangun.com



Perjalanan


Dalam hidup ada perjalanan. Ada juga perjuangan. 

Pawang Ternalem adalah hidup saya kini. Didalamnya ada perjalanan. Begitu juga 
perjuangan. Itu sebabnya dalam perjalanan merealisasikan Pawang Ternalem, yang 
saya lalui adalah sebuah perjuangan. Secara pribadi, Pawang Ternalem adalah 
bentuk pengejawantahan artikulasi cita-cita idealisme saya sebagai seorang Karo 
yang telah berani atau nekat mendedikasikan hidup pada seni drama.

Saya tidak pernah melalui perjalanan Pawang Ternalem tanpa perjuangan. Pawang 
Ternalem tidak pernah melalui jalan tol yang bebas hambatan. Justru untuk 
merealisasikan idealisme saya ini saya melalui jalan seribu liku-liku. Saya 
jadi teringat di masa kecil saya berkali-kali muntah saat melalui sebuah jalan 
lintas Sumatera di dekat kota Padang yang berliku-liku. Saat itu kami 
sekeluarga bertamasya ke Danau Singkarak. Jujur, di Pawang Ternalem jalan 
berliku-berliku itu telah menyebabkan saya muntah. Sebetulnya saya tidak kuat 
lagi. Tapi itulah hidup, ketika kita menginginkan sesuatu maka untuk 
merealisasikannya kita harus memperjuangkannya walau harus muntah sekalipun.

Nekat....
Kata-kata itulah yang selalu keluar dari orang-orang sekeliling saya. Saya 
terlalu nekat membuat sebuah konsep yang mereka anggap sangat raksasa. "Ini 
proyek raksasa! Mana mungkin kam kerjakan sendirian," kata seorang saudara saat 
saya di Medan kemarin.

Saya tidak sendiri, jawab saya. Saya punya orang-orang yang mendukung saya. 
Saya punya orang-orang yang bisa mengapresiasikan karya saya. Saya punya 
orang-orang yang percaya pada saya.

"Tapi apakah kam yakin semua orang Karo akan mendukung kam," kata saudara saya 
itu lagi.

Saya percaya ilham berasal dari Tuhan. Begitu juga saat saya mendapat ilham 
untuk mementaskan cerita rakyat Karo ini. Itu makanya sebetulnya saya tidak 
perlu takut dengan keadaan. Toh semuanya bersumber dari Sang Khalik. Saat kita 
berbicara tentang Sang Penguasa Alam Semesta, manusia bisa apa? Toh Tuhan sudah 
memberikan saya ide untuk ini. Tentu saja Tuhan akan mendukung saya.

Sampai latihan Minggu kemarin, terus saja saya dihantam bertubi-tubi cobaan. 
Yang uniknya, apa yang mencoba mengekang tidak hanya berasal dari faktor 
eksternal tapi juga internal. Bayangkan, saya harus menghadapi sebuah kenyataan 
dimana semua yang saya harapkan tidak satupun mendekati harapan. Miris memang 
kalau saya pesimis. Tapi kepala saya harus selalu tegak. Dengan sabar saya 
terus mengelus dada. Saya harus dingin menghadapi kenyataan. Dan bepikir secara 
logika mengatasi semuanya. Dengan begitu idealisme saya pada Pawang Ternalem 
ini dapat diwujudkan.

Saat saya harus muntah, maka saya akan muntah. Tapi saya tidak akan berhenti. 
Saya terlalu cinta pada Pawang Ternalem. 

Saya hanya mengucap syukur pada orang-orang yang telah mendukung saya dengan 
sepenuh hati.

Syukur saya juga pada para pecundang yang selalu mengintip kelemahan saya 
sehingga saya bisa lebih awas menghadapi segalanya.

Sebagai manusia sungguh saya tidak mampu...
Namun,
Suatu saat nanti jika anda semua kelak menyaksikan Pawang Ternalem, itu semua 
karena TUHAN bukan karena saya....



Jakarta, 250808 00.53


Joey Bangun
Direktur Artistik Teater Aron






 
Teater ARON
Jln. Swadaya V No. 38 Cempaka Baru
Jakarta Pusat 10650
Telp : +62 21 4288 1932
Email : [EMAIL PROTECTED]



      

Kirim email ke