Tajuk Rencana Analisa
Perlu Kebijakan yang Benar-benar Berpihak pada Sektor Pertanian 

INDONESIA memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Fakta ini tidak bisa 
dibantah. Tapi fakta lain juga menunjukkan bahwa Indonesia saat ini merupakan 
salah satu negara importir bahan pangan utama nonberas. Tujuh bahan pangan 
utama nonberas yakni, gandum, kedelai, daging ayam ras, telur ayam ras, jagung, 
daging sapi dan susu harus kita impor. Bahkan impor empat dari tujuh bahan 
pangan utama non beras ini yaitu, gandum, kedelai, daging ayam ras dan telur 
ayam ras, sudah tahap mengkhawatirkan. Sementara tiga lagi meski masih dalam 
tahap wajar tapi harus selalu diwaspadai.Karena kondisi inilah maka sejumlah 
pengamat ekonomi menilai Indonesia telah masuk dalam “perangkap pangan” atau 
food trap negara maju dan kapitalisme global. 
Apakah sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang masih rendah sehingga tidak 
mampu mengolah kekayaan SDA yang melimpah itu menjadi produk hasil pertanian 
(pangan) sehingga kita tidak terus menjadi negara mengimpor. Rasanya tidak 
juga. Sebab kita sebenarnya memiliki pakar di bidang pertanian yang sangat 
mumpuni. Banyak profesor atau doktor-doktor bidang pertanian yang kemampuannya 
tidak diragukan lagi dan tidak kalah bersaing dengan pakar dari luar negeri. 
Ini merupakan sebuah kondisi yang paradoksal, jadi di mana masalahnya? Masalah 
utamanya memang terletak di pemerintah. Banyak kebijakan pemerintah selama ini 
yang tidak berpihak kepada pertanian khususnya pangan. Kebijakan yang dilakukan 
pemerintah selama ini sifatnya seperti “pemadam api”. Artinya kebijakan itu 
diambil untuk mengatasi masalah sesaat tanpa mempertimbangkan kepentingan yang 
lebih besar ke depan. Contohnya paket kebijakan fiskal yang membebaskan bea 
masuk impor kedelai dan gandum serta menurunkan bea masuk beras 18,2 persen 
merupakan bentuk bunuh diri karena akan mengakibatkan matinya daya saing 
domestik. 
Penyebab lainnya, tidak ada koordinasi antara instansi terkait atau antara 
lembaga terkait sehingga kebijakan yang satu dengan lainnya sering tidak 
sejalan bahkan kadang berbenturan. Akibatnya petani menjadi bingung mana yang 
harus diikuti. Untuk sektor penelitian misalnya. Meski kita memiliki peneliti 
yang handal seperti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian 
Riset dan Teknologi, Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), Litbang Departemen 
Pertanian dan puluhan universitas ternama, namun jarang di antara mereka yang 
melakukan riset dan penelitian secara bersama-sama. 
Masing-masing lembaga berjalan dengan penelitian dan risetnya sendiri. 
Akibatnya sering terjadi duplikasi atau riset yang sama. Bukankah sebaiknya 
pemerintah membentuk dewan riset yang bertugas mengkoordinir lembaga-lembaga 
riset yang ada, sehingga ada pembagian tugas, siapa mengerjakan apa. Kalau ini 
berjalan banyak manfaat yang bisa diperoleh. Pertama dari sektor biaya sudah 
tentu bisa lebih dihemat. Dua lembaga tidak perlu meriset hal yang sama secara 
sendiri-sendiri. Bukankah bisa dilakukan secara bersama-sama. Kedua, sudah 
pasti lebih efisien dan berdaya guna. Jika sebuah lembaga lebih menguasai suatu 
bidang maka biarlah lembaga itu yang mengerjakannya. Kemudian jika perlu tindak 
lanjut yang kurang dikuasai bisa dilanjutkan lembaga lainnya. Hal seperti ini 
yang tidak terjadi selama ini. Masing-masing hanya mengedepankan ego sektoral 
dan ingin menunjukan siapa yang lebih hebat dari lainnya. Padahal sikap ini 
tidak perlu karena tujuannya bagaimana
 kita tidak tergantung pangan pada negara lain. 
Di samping itu, harus diakui pula bahwa penghargaan terhadap para periset ini 
masih sangat rendah. Periset kurang dihargai secara materi maupun 
posisi/jabatan. Maka tidak mengherankan jika banyak periset yang lebih memilih 
hengkang ke luar negeri. Selain kurangnya penghargaan terhadap mereka, sarana 
dan prasarana yang disediakan juga sangat minim. Bandingkan dana untuk pemilu 
atau lainnya yang sebenarnya tidak begitu penting menghabiskan dana triliunan 
rupiah. Sementara untuk laboratorium atau sarana penelitian sangat riset. 
Melihat kondisi seperti ini maka tidaklah mengherankan jika kita sebagai negara 
agraris masih tetap mengantungkan kebutuhan pangan pada negara lain. Karena itu 
ke depan pemerintah harus mengubah kebijakan pembangunannya menjadi pembangunan 
yang benar-benar berpihak pada sektor pertanian. **** 



      __________________________________________________________
Låna pengar utan säkerhet. Jämför vilkor online hos Kelkoo.
http://www.kelkoo.se/c-100390123-lan-utan-sakerhet.html?partnerId=96915014

Kirim email ke