--- Pada Sel, 23/9/08, CHRISTINA SULARSIH RUSLI <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: CHRISTINA SULARSIH RUSLI <[EMAIL PROTECTED]> Topik: FW: [fhmindonesia2005] Ibuku hanya memiliki satu mata Kepada: "jenny" <[EMAIL PROTECTED]>, "Ingrid Gracia Maria" <[EMAIL PROTECTED]>, "Mariati Gunadi" <[EMAIL PROTECTED]>, "Swie Jin Oen" <[EMAIL PROTECTED]> Tanggal: Selasa, 23 September, 2008, 4:02 PM
Divisi Bisnis Kecil Dan Menengah
Menara BCA Lt. 26 Grand Indonesia
Jl. M.H. Thamrin No.1 Jakarta 10310
Telp. (021) 2358-8000 Ext. 26214
Fax. (021) 2358-8360
E-mail:[EMAIL PROTECTED]
From: TAMARA GEUTHER Sent: Tuesday, September 23, 2008 1:44 PM Subject: FW: [fhmindonesia2005] Ibuku hanya memiliki satu mata
Divisi Sumber Daya Manusia
PT. Bank Central Asia, Tbk.
Menara BCA lantai 29
Grand Indonesia
Jl. M.H. Thamrin No. 1
Jakarta 10310
Telp : (021) 2358-80000
Vsat : 89000
Ex : 29297
Fax : (021) 2358-8384
From: Atiek Idaningsih Sent: Tuesday, September 23, 2008 1:15 PM To: ASMIYAH DAMAYANTI ; TAMARA GEUTHER; Nuriana Pramitasari; NYIMAS YANI ZURAIDA ; Suherman Liem ; ANITA RIANI ; FENINA CAROLINA APRILIA ; RATNA CHANDRASAPUTRA ; ANGGRAENI ; Linda Jelome ; LISA TANTOSO DJOHAN ; AGATHONICA LIANINGRUM Subject: FW: [fhmindonesia2005] Ibuku hanya memiliki satu mata
Best Regard,
Atiek Idaningsih...
From: Vivi Fransiska Sent: Tuesday, September 23, 2008 12:59 PM Subject: FW: [fhmindonesia2005] Ibuku hanya memiliki satu mata
Vivi
Ibuku hanya Memiliki satu
Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya sungguh memalukan. Ia menjadi juru masak di sekolah, untuk membiayai keluarga. Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia lakukan ini? Aku memandangnya dengan penuh kebencian dan melarikan. Keesokan harinya di sekolah "Ibumu hanya punya satu mata?!?!" Ieeeeee, jerit seorang temanku. Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu, "Bu. Mengapa Ibu tidak punya satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatkuditertawak an, lebih baik Ibu mati saja!!!" Ibuku tidak menyahut. Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini. Mungkin karena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwaperasaannya sangat terluka karenaku. Malam itu.. Aku
terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang menan gis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. Aku memandangnya sejenak, dan kemudian berlalu. Akibat perkataanku tadi, hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses. Kemudian aku belajar dengan tekun. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku. Kebahagian ini bertambah terus dan terus, ketika.. Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. Masih dengan satu matanya. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat
mata Ibuku. Kataku, "Siapa kamu?! Aku tak mengenal dirimu!!" Untuk membuatnya lebih dramatis, aku berteriak padanya, "Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku! !" "KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!" Ibuku hanya menjawab perlahan, "Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat," dan ia pun berlalu. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega. Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura. Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana . Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja. Di sana , kutemukan ibuku tergeletak dilantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata s edi kit pun. Ada selembar kertas di tangannya. Sepucuk surat untukku. "Anakku..Kurasa hidupku sudah cukup panjang.. Dan..aku tidak akan pergi ke Singapura lagi.. Namun
apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sesekali? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau.. Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku. Kau tahu, ketika kau masih sangat kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata. Maka aku berikan mataku untukmu.Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, di tempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu. Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, "Itu karena ia mencintaiku" Anakku! Oh, anakku!" Pesan ini memiliki arti yang mendalam dan disebarkan agar orang ingat bahwa kebaikan
yang
mereka nikmati itu adalah karena kebaikan orang lain secara langsung maupun tak langsung. Berhentilah sejenak dan renungi hidupAnda!
Bersyukurlah atas apa yang Anda miliki sekarang dibandingkan apa yang tidak dimiliki oleh jutaan orang lain! Luangkan waktu untuk mendoakan ibu Anda!
|