Kamis, 16/10/2008 10:19 WIB
Berakhirnya Ekonomi (The End of Economics)
Miko M Akbar – suaraPembaca detik.com
Jakarta - Salah satu instrumen yang digunakan dalam sistem perdagangan
internasional adalah menggunakan instrumen mata uang dollar AS. Setelah krisis
ekonomi global terjadi pasca Perang Dunia II melalui pertemuan Breton Woods
dirancanglah sebuah sistem mata uang dollar sebagai mata uang utama dalam
perdagangan dunia. Sekaligus menjadikan World Bank, International Monetary Fund
(IMF) sebagai pengendali sistem keuangan internasional.
Perjanjian Breton Woods pada tahun 1973 kemudian dihapuskan ketika Amerika
Serikat secara unillateral memutuskan bahwa Dolar Amerika tidak perlu lagi
didukung oleh emas. Sejak itulah Dolar Amerika tidak bedanya dengan lembaran
kertas saja.
Dengan mata uang dollar AS Amerika Serikat memegang kekuasaan luar biasa yang
sangat tidak proporsional. Dengan kertas yang disebut Dolar AS mereka bisa
membeli berbagai komoditi seperti minyak, gas, aluminium, emas, dan lain-lain
dari negara-negara lain di dunia. Jika mereka perlu lebih banyak komoditi
mereka tinggal mencetak saja lagi. Jadi sistem semacam ini amatlah tidak adil
dan tak bermoral.
Hal ini telah mengeksploitasi model perdagangan dengan sistem pembagian kerja
internasional. Surplus ekonomi bagi sekutu-sekutu Amerika terus terjadi yang
berdampak pada ketidakseimbangan perdagangan global. Negara-negara miskin tidak
mampu melakukan ekspor tanpa didukung impor sehingga negara-negara miskin
mengalami "a vicious circle of import".
Akibatnya negara-negara miskin memiliki tingkat ketergantungan yang begitu kuat
terhadap negara-negara maju. Sistem keuangan internasional yang dirancang pasca
Perang Dunia II dalam Breton Woods telah melahirkan ketidakadilan neraca
keuangan global. Defisit terus menimpa negara-negara miskin dan surplus
keuangan terus ditarik ke negara-negara maju karena dunia kini dibanjiri
terlalu banyak dolar.
Dalam pasar-pasar uang saja terdapat gelembung dolar AS yang berjumlah 80
triliun dolar AS per tahun. Jumlah ini 20 kali lipat melebihi nilai perdagangan
dunia yang jumlahnya sekitar 4 triliun dolar AS per tahun. Artinya, gelembung
itu bisa membeli segala yang diperdagangkan sebanyak 20 kali lipat dari dimensi
yang biasa.
Gelembung ini tentu akan terus membesar dan membesar. Anda tidak perlu terlalu
bijak untuk memahami bahwa gelembung itu. Suatu saat akan meledak dan pecah,
dan terjadilah keruntuhan ekonomi global yang niscaya lebih buruk daripada
depresi ekonomi tahun 1929.
Sebagai perbandingan yang kontras. Emas adalah logam yang berharga. Nilainya
tidak bergantung pada negara mana pun. Bahkan tidak bergantung pada sistem
ekonomi mana pun. Nilainya adalah intrinsik dan dapat dipercaya. Oleh karena
itu emas adalah mata uang yang dapat menjamin kestabilan ekonomi dunia.
Sistem keuangan global sudah berkembang melebihi batas. Dengan perdagangan
"kertas berharga yang turunan sekunder" (secondary derivatives papers), sistem
keuangan dunia menjadi tidak "favorable" kepada sektor riil karena "money makes
money" lebh tinggi hasilnya. Maka kalau anda punya uang akan lebih tertarik
untuk memainkannya di bisnis keuangan ketimbang membangun bisnis di riil sektor.
Perdagangan kertas berharga tersebut adalah barang maya, hanya ilusi, tidak
nyata, tidak terkait dengan bisnis riil. Ini yang menyebabkan terjadinya
gelembung ekonomi dunia.
Apa akibatnya? Sektor riil lambat bergerak. Kecuali di China yang menganut
paham berbeda. Tidak berdasar "supply and demand". China tetap memproduksi
walau tidak ada permintaan. Alasannya adalah stabilitas keamanan sehingga tidak
ada penduduk China yang menganggur. Semua bekerja, memproduksi apa saja, mulai
dari peniti sampai komponen pesawat terbang. Manajemen 1 miliar penduduk yang
ternyata membawa China kepada kekuatan ketiga di era kini.
Sejarahnya, emas dan perak adalah mata uang dunia paling stabil yang pernah
dikenal. Sejak masa awal Islam hingga hari ini nilai mata uang Islam dwilogam
itu secara mengejutkan tetap stabil dalam hubungannya dengan barang-barang
konsumtif. Seekor ayam pada zaman Nabi Muhammad SAW harganya satu dirham. Hari
ini, 1400 tahun kemudian, harganya kurang lebih masih satu dirham.
Dengan demikian, selama 1400 tahun, inflasi adalah nol. Dalam jangka panjang,
mata uang dwilogam telah terbukti menjadi mata uang dunia paling stabil yang
pernah dikenal. Mata uang tersebut telah dapat bertahan meskipun terdapat
berbagai upaya untuk mentransformasi dinar dan dirham menjadi mata uang
simbolik dengan cara menetapkan suatu nilai nominal yang berbeda dengan
beratnya.
Kita harus kembali kepada sistem perekonomian berbasis komoditi riil. Dinar
dirham hanyalah salah satu komponen penting. Ada "5 pilar sistem ekonomi
berbasis emas" akan menjadi solusi masa depan dunia yang tidak terelakkan.
Pertama, "Money (Freely Chosen)" yaitu Mata uang harusnya bebas ditentukan oleh
masyarkat penggunanya.
Kedua, "Open Markets Infrastructure" yaitu infrastuktur pasar terbuka di mana
setiap orang mempunyai hak, seperti mesjid.
Ketiga, "Caravans – Open Distribution and Logistic Infrastructure" yaitu
jaringan logistik dan distribusi yang terbuka bagi siapa saja.
Keempat adalah "Guilds – Open Production Infrastructure" yaitu sentra-sentra
produksi kerakyatan harusnya mendapat perhatian dari pemerintah untuk menjadi
tempat yang layak untuk berproduksi sebagaimana standard global yang berlaku.
Kelima adalah "Just Contractual Legal Frameworks (Shirkat and Qirad).
Kelima infrastruktur tersebut haruslah dimiliki oleh publik.
Teknologi informasi merupakan sarana yang dapat mengkudeta fungsi perbankan
atau istilahnya "coup de banque". Anda bisa bayangkan sebenarnya fungsi
perbankan kan amat sederhana. Hanya mengadministrasi pencatatan plus dan minus
saja dengan sedikit variasi perhitungan. Mengapa menjadi raja yang mengatur dan
menentukan sektor-sektor lain.
Pasti ada yang salah kan. Zaman Nabi dulu para pedaganglah yang berada di
gedung mewah. Sementara rentenir itu yang berada di jalanan. Sekarang yang kita
lihat terbalik. Para bankir duduk-duduk di gedung mewah. Sementara para
pedagang kaki lima berceceran di sepanjang jalan. Malah kena gusur tibum
segala.
Maka jangan salahkan orang lain kalau Indonesia miskin karena tidak mengikuti
ajaranNya. Padahal Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim di dunia.
Prof Umar Ibrahim Vadillo, Pemimpin Korporasi E-dinar Dotcom, suatu electronic
payment system\ berbasis emas, yang juga menjabat sebagai Ketua WITO (World
Islamic Trade Organization) telah menulis beberapa buah buku yang dianggap oleh
masyarakat dunia sebagai MENGGEMPARKAN (ENLIGHTINING), membuka mata dan hati
para pembacanya.
Di antaranya yang terkenal berjudul "THE ESOTERIC DEVIATION IN ISLAM", "THE END
OF ECONOMICS", "THE RETURN OF THE GOLD DINAR", "THE RETURN OF THE GUILDS", "THE
FIVE PILLARS OF THE ISLAMIC ECONOMICS", "COUP DE BANQUE", dan lain-lain.
Miko M Akbar
Jl Darmokali 12A Surabaya
[EMAIL PROTECTED]
081330107777
(msh/msh)
--
___________________________________________________
Sök efter kärleken!
Hitta din tvillingsjäl på Yahoo! Dejting:
http://ad.doubleclick.net/clk;185753627;24584539;x?http://se.meetic.yahoo.net/index.php?mtcmk=148783