SUARA PEMBARUAN DAILY 

"Conscientizacao" Paulo Freire dan Mutu Pendidikan Kita
 
Oleh Pemimpin Umum "SP" Wim Tangkilisan 
idak banyak ahli pendidikan yang begitu besar pengaruhnya kepada dunia seperti 
Ivan Illich dan Paulo Freire. Pengaruh keduanya sangat besar karena penegasan 
mereka bahwa tujuan pendidikan adalah pembebasan manusia. Bukan saja pembebasan 
dari kebodohan, tapi juga pembebasan manusia dari kemiskinan dan kemelaratan, 
pembebasan dari penindasan dan rasa takut. 
Lewat bukunya, Deschooling Society, 1971, Ivan Ilich melontarkan koreksinya 
terhadap peran sekolah atau pendidikan formal yang dinilainya lebih banyak 
membuat masyarakat hanya mengagumi sertifikat ketimbang kemampuan nyata 
seseorang dalam berkarya dan meningkatkan kualitas hidupnya. 
Kehebatan sekolah telah menjadi mitos yang menancapkan pandangan seolah- olah 
semakin banyak mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, semakin pintar anak 
didik. 
Pedagog kelahiran Wina, Austria, 4 September 1926 itu mengkritik keras 
pendidikan formal yang dinilainya hanya menekankan pengetahuan dan keterampilan 
tanpa memperhatikan aspek kejiwaan dan spiritualitas. Buku 'Bebas dari Sekolah' 
itu membeberkan berbagai kesalahan yang membuat pendidikan formal semakin jauh 
dari tujuan. 
Ia mengimbau masyarakat melakukan revolusi budaya untuk mengkaji kembali mitos 
pendidikan formal. Seakan-akan tanpa sekolah orang tidak akan berhasil dalam 
hidup dan meraih prestasi tinggi di bidangnya. Kajian itu perlu dilakukan 
karena sekolah telah menciptakan komersialisasi pendidikan dan alienasi bagi 
kaum yang tidak mampu. 
Di mata rohaniwan itu, sekolah bukan saja gagal menjadi wahana pembebasan, 
melainkan juga menjadi proses dehumanisasi. 
Otokritik yang keras dilontarkan pula oleh Paulo Freire, pedagog kelahiran Sao 
Paulo, Brasil, 1921 lewat buku Pedagogy of the Oppressed. Buku Pendidikan Kaum 
Tertindas yang pada tahun 1969 diterbitkan dalam bahasa Portugis dan pada tahun 
1970 diterbitkan lagi dalam dwibahasa, Spanyol dan Inggris, menginspirasi 
banyak orang. 
Beda dengan Ivan Illich yang lahir dari keluarga menengah, Paulo Freire berasal 
dari keluarga miskin dan tertindas. Pengalaman hidup dan pergulatan intelektual 
menggiring dia ke dalam pandangan yang memihak kaum tertindas. 
Karena latar belakang dan tegasnya keberpihakan itulah, Paulo Freire mendapat 
jauh lebih banyak pengikut dibanding Ivan Illich, terutama dari dunia ketiga 
dan negara berkembang. 
Bagi Paulo Freire, pendidikan harus membebaskan manusia dari kebodohan dan 
kemiskinan, juga dari penindasan dan rasa takut serta keterasingan. 


Selama hidupnya ia berjuang mewujudkan dunia yang bebas dari kejahatan (menos 
feio), bebas dari kekejaman (menos malvado), dan dehumanisasi (menos desumano). 
Dengan keberpihakan yang tegas kepada kaum tertindas, ia melawan struktur 
sosial yang tidak adil dan diskriminatif yang menyebabkan kemiskinan dan 
kemelaratan serta rasa takut dan keterasingan. 
Dalam buku Pembebasan Kaum Tertindas itu Paulo Freire menawarkan gagasan 
conscientizacao atau consciousness raising, yakni proses penyadaran masyarakat 
terhadap realitas sosial, politik, dan ekonomi yang dihadapi. Lebih luas dari 
itu, conscientizacao adalah proses penyadaran setiap anak didik terhadap 
eksistensinya sebagai manusia, tujuan hidup, dari mana dia berasal, dan ke mana 
ia akan kembali. 
Lewat gagasan conscientizacao, anak didik disadarkan untuk mengetahui dan 
mengatasi tantangan dalam situasi konkret yang dihadapi. Mereka disadarkan 
untuk senantiasa kreatif dan mengerahkan semua kemampuan yang dimiliki untuk 
terus-menerus mengatasi situasi konkret dan meningkatkan kualitas hidup. 
Pendidikan merupakan pekerjaan budaya untuk mewujudkan dunia baru. Karena itu, 
pendidikan harus mampu mematahkan dominasi kekuatan buruk dan mendobrak status 
quo guna menghasilkan sistem sosial baru yang lebih adil dan manusiawi. 

Mutu Pendidikan Kita 

Indonesia sudah memilih jalur pendidikan formal selain pendidikan nonformal dan 
informal sebagai upaya untuk mencerdaskan anak bangsa. Dari waktu ke waktu, 
pendidikan formal terus berkembang dengan peran negara yang semakin besar. 
Tapi, fakta bahwa kualitas pendidikan kita masih rendah. Tertinggal dibanding 
negara lain. Laporan United Nation Educational, Scientific, and Cultural 
(UNESC), November 2007, menyebutkan, peringkat Indonesia di bidang pendidikan 
turun dari 58 ke 62. Dalam peringkat 130 negara itu, Malaysia berada di urutan 
ke-56 dan Korsel peringkat ke-5. 
Rendahnya mutu pendidikan Indonesia juga tercermin pada kesulitan perusahaan 
mencari tenaga kerja. Adalah sebuah ironi besar ketika angka pengangguran 
terbuka masih 9,4 juta atau 8,5% dari total angkatan kerja, ada banyak 
perusahaan yang kesulitan mencari tenaga kerja yang sesuai kualifikasi mereka. 
Kita boleh berbangga dengan prestasi siswa Indonesia yang acap menjuarai 
olimpiade matematika dan fisika. Di ajang olimpiade biologi dan kimia pun 
prestasi siswa Indonesia tidak jelek. Malaysia yang meraih peringkat pendidikan 
versi UNESCO di atas Indonesia tak pernah meraih emas olimpiade matematika dan 
fisika. 
Tapi, secara umum, kondisi pendidikan di Malaysia jauh lebih baik dibanding 
Indonesia. Di negeri jiran itu, warga negara yang mengenyami pendidikan formal 
lebih merata. Malaysia juga memiliki tamatan yang siap memasuki pasaran kerja, 
sehingga negeri itu memiliki daya saing yang lebih baik. 
Daya saing Indonesia menurut World Economic Forum, 2007-2008, berada di level 
54 dari 131 negara. Jauh di bawah peringkat daya saing sesama negara ASEAN 
seperti Malaysia yang berada di urutan ke-21 dan Singapura pada urutan ke-7. 
Tidak pelak lagi, kualitas sumber daya manusia juga menjadi faktor penyebab 
rendahnya daya saing di samping infrastruktur, birokrasi, lingkungan, serta 
perangkat dan penegakan hukum. 
Setelah 63 tahun merdeka, Indonesia masih memiliki 15,4 juta warga buta aksara. 
Jumlah itu lebih dari 50% penduduk Malaysia. Angka partisipasi penduduk usia 
sekolah untuk mengenyami pendidikan SLTP sekitar 72% dan untuk level SLTA hanya 
55%. Sedangkan angka partisipasi penduduk untuk mengikuti pendidikan di 
perguruan tinggi cuma 16,7%. 
Yang memprihatinkan, sekitar 5% penduduk tidak bisa mengikuti pendidikan SD. 
Angka putus sekolah pada setiap jenjang pendidikan cukup tinggi. Sekitar 2,75 
siswa SD putus sekolah dan SLTP 2,4%. Tingginya angka putus sekolah disebabkan 
oleh kesulitan ekonomi. Data Badan Pusat Statisik (BPS) menunjukkan, penduduk 
miskin masih 35 juta atau 15,5% dari total penduduk. 
Tingginya angka kemiskinan di Indonesia merupakan salah satu indikator 
kegagalan pendidikan sekaligus kegagalan kita dalam melaksanakan amanat 
konstitusi. Dalam Mukadimah UUD jelas dikatakan, Pemerintah Indonesia dibentuk 
untuk, antara lain, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan 
bangsa. 
Tingkat pendidikan pekerja Indonesia jauh dari menggembirakan. Pada tahun 2007, 
sekitar 53,5 juta atau 55% pekerja Indonesia paling tinggi berpendidikan SD. 
Sedangkan yang berpendidikan SLTP dan SLTA masing-masing 20,3% dan 19,1%, 
Pekerja yang berpendidikan perguruan tinggi lebih kecil lagi, yakni hanya 2,5% 
yang berpendidikan diploma, dan 3,6% universitas. 
Rendahnya mutu pendidikan kita juga tercermin pada tingginya tingkat korupsi, 
yang merasuk berbagai lembaga, eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, dari 
pusat hingga daerah. Kita memberikan apresiasi tinggi kepada Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono yang hingga kini mempertahankan predikat sebagai pejabat 
bersih, tidak berbisnis, dan tanpa kompromi mendorong pemberantasan korupsi. 
Kiprah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang cukup serius memberantas korupsi 
tak lepas dari dorongan kepala negara. Tapi, fakta juga menunjukkan, korupsi 
masih kuat dan beroperasi lebih dalam modus yang lebih canggih. 
Mutu pendidikan juga bisa dilihat pada sepak terjang elite politik dan para 
pejabat kita. Hampir semua undang-undang yang dihasilkan DPR dan pemerintah 
cacat dari sisi kualitas produk. Rendahnya mutu UU itu terjadi karena 
pasal-pasal dalam UU adalah hasil pesanan dan negosiasi. Para pengurus parpol 
juga lebih banyak memperjuangkan kepentingan kelompok daripada kepentingan 
bangsa dan negara. 
Melihat kondisi riil ini, kita harus mengakui keunggulan pendidikan pada era 
pemerintahan Belanda. Pendidikan pada masa penjajahan mampu menghasilkan 
manusia berkualitas seperti terlihat pada para bapak bangsa yang mengikrarkan 
Soempah Pemoeda, yang menyusun UUD 1945, dan yang menyepakati Pancasila sebagai 
dasar negara dan UUD 1945 sebagai konstitusi, bukan Piagam Jakarta. Selain 
memiliki kualitas moral dan spiritualitas yang tinggi, para founding fathers 
kita memiliki visi yang melampaui zamannya. 
Olahraga yang terpuruk juga menjadi indikator turunnya mutu pendidikan. Sebagai 
negara besar dengan jumlah penduduk di atas 228 juta, raihan satu emas pada 
Olimpiade Beijing sesungguhnya cukup memalukan. Di bidang bulutangkis, yang 
hingga 10 tahun silam seakan-akan menjadi milik Indonesia karena kuatnya 
dominasi pada setiap kejuaraan, prestasi Indonesia sudah sangat melorot. 

Sekolah Negeri dan Swasta 

Tak terbayangkan dunia tanpa sekolah. Perkembangan dunia menunjukkan bahwa 
sekolah memberikan kontribusi besar pada peradaban manusia. Indonesia sejak 
awal kemerdekaan sudah memberikan perhatian besar kepada pembangunan sekolah 
dan pengembangan pendidikan formal untuk mewujudkan cita-cita proklomasi. 
UUD menegaskan, setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, berhak 
mendapatkan pendidikan dasar sembilan tahun dan pemerintah wajib membiayanya. 
Negara memprioritaskan anggaran pendikan sekurang-kurannya 20% dari APBN dan 
APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. 
Anggaran pendidikan tahun ini Rp 154,2 triliun atau 15,6% dari APBD yang 
mencapai Rp 989,5 triliun. Jika memasukkan juga gaji guru, total anggaran 
pendidikan tahun 2008 mencapai 18%. 
Dengan dana alokasi Rp 224,4 triliun tahun depan, porsi anggaran pendidikan 
pada RAPBN 2009 mencapai 20% seperti diamanatkan UUD. DPR sudah sepakat dengan 
pemerintah untuk memasukkan komponen gaji guru dalam perhitungan 20% anggaran 
pendidikan. 
Tidak masalah dengan kebijakan itu. Karena porsi anggaran 20% dari total 
belanja APBN itu akan terus membesar dalam nilai nominal mengikuti kenaikan 
total APBN. Tahun depan, belanja APBN sudah menembus Rp 1.000 triliun. 
Yang jadi soal adalah pertama, penyaluran dana secara benar hingga ke tujuan. 
Tidak ada yang dikorupsi. Tapi, melihat mencuatnya berita korupsi dana BOS, 
pemerintah perlu ekstra hati-hati agar rakyat tidak dikhianati. Kedua, dana 
pendidikan diprioritaskan untuk membangun gedung, fasilitas sekolah, pengadaan 
buku, dan akses internet bagi para siswa. Dana APBN ini harus juga diberikan ke 
sekolah swasta. 
Ketiga, dana 20% dari total APBN itu harus digunakan untuk segera mewujudkan 
pendidikan dasar sembilan tahun gratis. Tingginya angka buta huruf dan siswa 
drop-out memberi sinyal bahwa biaya pendidikan bagi rakyat miskin harus 
dibantu. Di Jepang dan negara maju lainnya, semua biaya pendidikan siswa di SD 
dan SLTP dibayar negara. Termasuk siswa dari orang tua yang bukan warga negara 
Jepang. 
Keempat, gaji guru swasta hendaknya juga dibayar negara. Hampir semua sekolah 
swasta, SD hingga SLTA, tidak mampu membayar gaji guru sebesar gaji guru 
berstatus PNS. Apalagi mulai tahun depan, gaji guru negeri paling rendah Rp 2 
juta. Hanya segelintir kecil swasta yang mampu membayar gaji guru sebesar itu. 
Kelima, meski gaji guru swasta dibayar negara dan fasilitas fisik sekolah 
swasta dibantu negara, pemerintah harus tetap menghormati otonomi sekolah 
swasta dan kekhasan yang dimiliki sekolah swasta. Adalah wajar jika gaji guru 
swasta dibayar negara karena dana pendidikan berasal dari pajak seluruh rakyat 
dan siswa yang dajari para guru swasta adalah juga anak bangsa. 

Relevansi 'Conscientizacao' 

Meski sekolah atau pendidikan formal telah dipilih menjadi salah satu wahana 
untuk mencerdaskan rakyat dan meningkatkan kualitas SDM, kritik Ivan Illich 
tentang mitos sekolah dan catatan Paulo Freire tentang conscientizacao tetap 
relevan. Otokritik kedua pedagok agar itu perlu dijadikan cermin agar 
pendidikan formal bergulir sesuai tujuannya. 
Begitu luhur tujuan pendidikan nasional menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang 
Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Disebutkan, pendidikan nasional 
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa 
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk 
berkembangnya potensi didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa 
kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan 
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 
Tujuan pendidikan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tapi juga 
orangtua, pemerintah, dan masyarakat. Oleh karena itu, di luar jalur pendidikan 
formal, UU ini juga menekankan pentingnya pendidikan informal dan nonformal. 
Sayangnya, sekolah acap terlalu diandalkan dalam pendidikan. 
Apresiasi yang sangat tinggi terhadap pendidikan formal menyebabkan masyarakat 
tergelincir dalam ijazah palsu dan siswa kadang terjebak dalam budaya nyontek 
dan plagiat. Tujuan untuk mendapatkan ijazah menyebabkan siswa menghalalkan 
segala cara. 
Ada sejumlah hal yang sangat penting dari pemikiran Paulo Freire dan Ivan 
Illich bagi Indonesia. Pertama, tidak boleh lagi ada rakyat Indonesia yang 
tidak memiliki akses untuk mengenyam pendidikan. Sesuai UUD, pendidikan dasar 
sembilan tahun harus gratis, selambatnya mulai tahun 2009. 
Kedua, jumlah pelajaran untuk pendidikan dasar tidak perlu terlalu banyak. Saat 
ini terlalu banyak mata pelajaran, sehingga siswa SD pun harus membawa tas 
besar ke sekolah. Prioritaskan mata pelajaran yang menjadi dasar bagi siswa 
untuk bisa mengembangkan diri setelah selesai sekolah. Pelajaran wajib bagi 
sekolah dasar adalah bahasa, matematika, fisika, olahraga, musik, dan etika 
moral. 
Ketiga, prioritaskan mata pelajaran tambahan yang sesuai kondisi nyata siswa. 
Di wilayah agraris dan peternakan, ada mata pelajaran bertani dan berternak. 
Keempat, pentingnya pendidikan moral dan motivasi. Hasil penelitian 
menunjukkan, sukses seseorang lebih ditentukan oleh soft skill atau emotional 
intelligence dan social intelligence ketimbang IQ (intelligence question) atau 
hard skilll. 
Kelima, perkuat pendidikan kejuruan dan seleksi lebih ketat siswa yang ke 
perguruan tinggi (PT). Hanya siswa pandai yang boleh ke PT. Tapi, ada pelatihan 
yang benar bagi siswa kejuruan agar usai tamat bisa langsung dipekerjakan. 
Inilah cara sukses yang sudah ditempuh Singapura. 
Keenam, pentingnya kemampuan guru dan dosen untuk membangkitkan kesadaran para 
siswa dan mahasiswa untuk terus belajar tanpa henti serta mengembangkan diri 
setiap hari agar menjadi lebih berkualitas. Itulah conscientizacao. Tidak 
banyak kita melihat orang Indonesia membaca buku dan koran. Lebih banyak yang 
suka menonton. Sarjana sekalipun. Ini beda dengan warga negara maju yang tidak 
henti-hentinya membaca dan membaca. 
Ukuran sukses sebuah pendidikan adalah tertanamnya kesadaran pada diri anak 
didik untuk terus-menerus belajar. Bahwa belajar tidak terbatas pada dinding 
kelas, melainkan seluas batas kaki langit. Bahwa belajar berlangsung seumur 
hidup. 
Ukuran sukses lain dari pendidikan adalah terwujudnya struktur sosial dan 
tatanan dunia baru yang lebih adil dan beradab. Tidak ada kemiskinan dan 
kebodohan. Tidak ada penindasan dan rasa takut. Tidak ada eksploitasi terhadap 
mereka yang tertinggal. Tidak ada kesenjangan yang terlalu mencolok. Inilah 
tantangan kita ke depan. * 



Last modified: 17/10/08 


 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke