HARI INI PERESMIAN KAPAL TEMPUR SILUMAN TNI-AL YANG DIBUAT DI VLISSINGEN THE 
NETHERLAND.
KAPAL YANG HARI INI DI DIRESMIKAN SAH MASUK KE BARISAN PERTAHANAN ANGKATAN LAUR 
MERUPAKAN KAPAL KE-3 DENGAN NAMA SULKAN ISKANDAR MUDA SANG PAHLAWAN DARI ACEH,

BERITA SELENGKAPNYA AKAN DILAPORKAN OLEH SORA SIRULO VLISSINGEN-THE NETHERLAND.

NANTIKAN JUGA BAGAIMANA WAKIL RAKYAT ACEH MENITIKKAN AIR MATA ATAS PEMBERIAN 
NAMAP PAHLAWAN DARI ACEH INI UNTUK KAPAL SERGAP TAKTIS YANG DIMILIK TNI-AL.

Salam,

Joni Hendra Tarigan B. Eng,
Sora Sirulo Vlissingen-The Netherland.



----- Original Message ----
From: pelangiharum <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, October 18, 2008 7:58:25 AM
Subject: [tanahkaro] Tjingkeru


Seumur hidupku baru kali ini aku lihat pohon cingkeru. Adanya di Padangbulan, 
di samping Lona. Tanah kosong yang dipasangi papan tanda akan dijual sampai 
hari ini belum terjual, tetapi terus ditanami dengan berbagai tanaman dari 
waktu ke waktu.
Sebelumnya adalah pohon jagung yang dipanen ketika sudah tua. Setelah itu, aku 
melihat ada tunas-tunas keluar. Aku pikir jagung juga. Beberapa waktu batang 
yang kukira jagung semakin tinggi. Pikirku bukan jagung tetapi rumput gajah 
yang biasa digunakan untuk makanan lembu. Semakin tinggi ternyata bukan rumput 
gajah, aku sudah tidak tahu namanya. Setiap hari aku melewatinya setiap hari 
aku bertanya dalam hati, batang apakah itu? Tebu juga bukan.
Hari ini seorang ibu di angkot tiba-tiba berkata,"Ih. .enggo galang kap 
cingkeruna ah ndai me. Entabeh naring akap empuna ah!" Langsung aku tersentak. 
Aku bertanya memastikan apakah itu cingkeru. Si Ibu langsung semangat bercerita 
tentang cingkeru. "Seh kel tebuna adi ban jadi tape, meketket, melam. Nai 
gugung ah e nge rusur jadi pangan, cimpa katandu la lit duana cimpa cingkeru," 
katanya.
Teringat aku pada cerita nande tentang kampungnya, Naman. Katanya, dulu di 
Naman setiap ladang pasti punya tanaman yang menjadi bahan penganan, cimpalah, 
kolaklah dan lain sebagainya. Salah satunya cingkeru yang ditanam dipinggir 
ladang. "Singuda-nguda adi erban cimpa cingkeru nge pakena, adi engkolak jambe. 
Lit ka jaba, e pe banci ban jadi cimpa," kata nande.
Kembali ke cingkeru masa kini. Menurut ibu yang ada di angkot cingkeru harganya 
mahal. Bijinya sampai puluhan ribu sekilonya. katanya lagi, beberapa orang 
menyarankan agar menanami ladang dengan cingkeru bukan jagung dengan alasab 
harga yang bagus. "Cuma kadang kita malas karena cingkeru baru bisa dipanen 
setelah 8 bulan, kalau jagung 4 bulan sudah dapat uang. Encage mesera 
maspassa," katanya.
Oh, tanaman tradisional yang mulai terlupakan. Senasib dengan padi-padi lampau 
yang sudah jarang ditanam orang. Seorang adik di Yogya mengatakan, kalau trend 
petani di sana adalah kembali ke padi lampau. "Tak jaman lagi padi unggul," 
katanya. Memang belum ada penjelasan darinya, tapi dia janji akan mengirim 
tulisan tentang trend ini ke Sora Sirulo.
Melihat gonjang-ganjing ekonomi saat ini terutama ekonomi petani apakah tidak 
menjadi pilihan untuk menanam kembali tanaman baheula yang tidak memerlukan 
banyak biaya dan harganya juga lumayan? Kahoa (maksudnya kopi...biar kelihatan 
kuta-kutanya :) ) misalnya yang harganya cukup stabil jika dibanding dengan 
komoditas ekspor lainnya.
Oh ya, pindah lagi. Teringat aku dengan Benteng Putri Hijau. menurut penelitian 
para ahli antara Kerajaan Haru dan armada Portugis sudah terjadi hubungan 
dagang, terutama dalam soal supply bahan makanan. Dugaan mereka, makanan yang 
dibeli armada Portugis dari Haru adalah jaba. Kata mereka bahasa inggrisnya 
jaba adalah millet. Bahasa Indonesianya apa ya? 
Sekalian bayangkan perumpamaan Karo yang berbunyi : Bagi tjingkeru ni 
rambasken.........dan Petapis  urat nu jaba, pesanggeh ruhi nu page.
Ita Apulina
(Iseng di akhir pekan sambil nyari inspirasi nulis editorial Sora Sirulo.....)  
  

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke