Mengambil Pelajaran dari Pemilihan Presiden AS SEKITAR 65 persen dari 135 juta orang yang terdaftar sebagai pemilih pada Pemilihan Presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) yang berlangsung 4 November 2008 baru lalu menggunakan hak pilihnya. Jumlah sebesar ini merupakan rekor dalam pilpres AS 100 tahun terakhir. Selama ini warga AS yang menggunakan hak pilihnya tidak lebih dari 50 persen. Rendahnya warga yang menggunakan hak pilihnya dalam pilpres maupun pemilihan anggota legislatif selama ini, tidak hanya terjadi di AS saja namun juga di negara-negara maju lainnya di Eropa. Selama ini warga--termasuk Indonesia saat ini--sudah apatis terhadap hal-hal seperti itu. Jadi tingginya tingkat partisipasi warga AS untuk menggunakan hak pilihnya dalam pilpres kali ini merupakan sebuah fenomena yang menarik untuk dicermati. Kenapa rakyat AS begitu “bersemangat” untuk menggunakan hak pilihnya dan kemudian mayoritas memilih Barack Hussein Obama Junior sebagai presidennya yang ke-44? Rakyat AS ingin perubahan! Itulah jawabannya. Tapi yang jelas, banyak pelajaran yang bisa kita petik dari pilpres AS kali ini, khususnya karena kita juga akan melaksanakan ajang yang sama tahun depan. Dari sisi administrasi pelaksanaan pilpres, kita jelas kalah “pengalaman”. Meski merdeka sejak tahun 1945 namun kita baru sekali memilih presiden secara langsung, sementara AS sudah lebih dari 40 kali. Maka jangan berharap kalau hasil pilpres sudah bisa diketahui kurang dari 24 jam setelah pencoblosan, karena untuk data pemilih saja kita masih rancu. Meski sudah berpengalaman menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (pilkada) lebih dari satu kali namun Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilihan masih saja belum bisa menuntaskan permasalahan ini dengan berbagai dalih dan alasan. Namun dari semua itu, hal yang paling penting yang harus kita jadikan pelajaran dari pilpres AS adalah tujuan utama memilih seorang pemimpin. Warga AS benar-benar memilih seorang pemimpin yang dianggap mampu memimpin (kapabel) tanpa memerhatikan latar belakang asal usul keluarga, warna kulit, usia dan agama. Bagi warga AS, presiden adalah seseorang yang dianggap punya kemampuan untuk memimpin masyarakat yang sangat pluralitas ini. Dan pilihan itu jatuh pada Barack Obama seorang kulit hitam yang berusia masih 47 tahun. Jika rakyat AS masih mendasarkan pilihannya pada asas primordial, maka sebagai keturunan kulit hitam, sudah pasti Obama akan kalah dengan si “putih” John McCain. Tapi fakta sudah berbicara, rakyat AS lebih memilih kualitas terutama untuk membawa perubahan dan segera mengatasi masalah keuangan global yang bermula dari negara adidaya tersebut. Seharusnya kita juga belajar dari pilpres AS ini. Untuk memilih seorang pemimpin masa depan sebaiknya jangan hanya dilihat dari suku atau ras serta umur atau kharisma seseorang saja. Namun pilihlah seseorang itu berdasarkan kemampuan yang dimilikinya. Jika seseorang kita anggap memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin sebaiknya orang inilah yang kita pilih tanpa melihat apa sukunya atau darimana dia berasal. Selama ini kita masih berkutat pada dikotomi Jawa dan luar Jawa, sipil dan militer serta tua dan muda. Dengan adanya dikotomi itu maka persyaratan untuk menjadi presiden yang demikian ketat sesuai dengan UU Pilpres akan menjadi semakin ketat dengan adanya aturan yang tidak tertulis ini. Hal ini diperparah dengan kondisi para calon yang takut kalah sebelum bertanding. Mereka ini biasanya memakai isu-isu primordial dalam berkampanye. Kejadian seperti ini banyak kita temukan dalam pilkada. Isu “putra daerah” selalu dimunculkan calon setempat untuk menghempang calon tertentu. Padahal defenisi “putra daerah” inipun tidak jelas. Apakah karena nenek moyangnya berasal dari daerah tertentu meski ia sudah lahir, besar dan tinggal di daerah lain masih tetap dianggap “putra daerah”. Malah sebaliknya seseorang yang lahir, besar dan tinggal di daerah tersebut tetap dianggap orang luar hanya karena bukan asli suku setempat. Keadaan seperti ini harus kita hapuskan kalau kita ingin kota/kabupaten kita maju, provinsi kita maju dan negara kita maju. Kita memang harus berubah kalau ingin maju. Kita harus belajar dari pilpres AS termasuk belajar bagaimana mengakui kekalahan dengan jiwa besar dan tidak sombong meski menang dengan tetap mengajak kerjasama pihak yang kalah untuk bersama-sama membangun bangsa ini. ****
