Tan Malaka Bapak Republik Indonesia
Medan, (Analisa)
Sosok Tan Malaka mestinya direhabilitasi dan diajarkan di buku-buku sejarah
sekolah dan perguruan tinggi. Sebab dengan cara itulah, ketokohan Tan Malaka
dapat ditempatkan pada porsinya, yaitu sebagai Bapak Republik Indonesia.
Demikian disampaikan Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (PUSSIS) Unimed,
Dr Phil Icwan Azhari MS didampingi Errond L Damanik MSi usai Bedah Buku ‘Tan
Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia’ karya Direktur KITLV-Leiden, Dr
Harry A Poeze di VIP Room Serbaguna Universitas Negeri Medan, Senin (17/11).
Dijelaskan, sangat banyak bukti-bukti yang diselewengkan tentang Tan Malaka.
Karena itujustru yang diingat masyarakat terhadapTan Malaka yang ber gelar
Datuk Ibrahim sebagai bentukan dari rezim penguasa adalah Komunis, tetapi tidak
melihat keprakarsaan sosok Tan Malaka.
Padahal Tan Malaka yang dilahirkan di Suliki Sumatra Barat tahun 1897 dan
meninggal dengan ditembak pada tahun 1949 di Jawa Timur ini, diangkat menjadi
Pahlawan Nasional pada tahun 1963 berdasarkan Keputusan Presiden Sukarno
Bedah buku dengan narasumber Dr. Harry A. Poeze (Penulis buku), Dr. phil.
Ichwan Azhari, MS (Kepala Pussis-Unimed) dan Drs. Ridwan Rangkuti, MA (Fisipol
USU Medan).
Sebagai tamu khusus Dr. Roger Tol (Kepala Perwakilan KITLV-Jakarta),Prof Dr
Usman Pelly, MA (Guru besar Unimed) dan Prof Subandinyo Hadiluwih (Rektor Tri
Karya Medan).
Pembelokan Fakta
Menurutnya selama ini justru terjadi adalah pembelokan fakta dan data.
Persoalan tersebut ditambah kengganan kalangan sejarawan meneliti karena
ketakutan atau justru menngangapnya tidak penting.
Senada dengan itu, peneliti senior Harry A Poeze mengungkapkan, dalam diri Tan
Malaka telah terbentuk keprihatinan bangsa dan masyarakat yang terjajah
sehingga harrus segera melepaskan diri bangsanya dari penjajah. “Cara yang
efektif itu adalah menuliskan gagasan dalam buku, melakukan aksi dan
propaganda, serta terlibat langsung dalam gerakan”, terang Poeze.
Namun, karena anti kolonialnya yang sangat gigih dan berani, maka dirinya
justru dianggap sebagai ‘dalang’ dari berbagai kerusuhan dan pemberontakan di
tanah air.
“Oleh karena itu, tidak jarang dirinya ditangkap, dipenjara tanpa diadili dan
melarikan diri ke berbagai negara dan daerah di Indonesia”, papar Poeze.
Bukti terbaru yang berhasil ditunjukkan Poeze adalah bahwa Tan Malaka orang
yang taat beribat. Ia adalah seorang islam yang saleh meskipun memilih komunis
sebagai alat perjuangannya. (rmd)
__________________________________________________________
Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkoppling.
Sök och jämför priser hos Kelkoo.
http://www.kelkoo.se/c-100015813-bredband.html?partnerId=96914325