Apa yang disampaikan oleh wartawan New York Times, Tim Weiner tersebut, menurut 
saya cumalah Isu/Intrik Borjuasi Global. Pertanyaannya, semisalnya, saat Adam 
Malik ditugaskan Soekarno sebagai Dubes RI Untuk Sovyet. Kemudian, dia berhasil 
melobi Sovyet untuk mendapatkan bantuan berupa senjata genggam dan tenteng plus 
amunisi sebanyak 15 ribu pucuk sebagaimana perintah Soekarno, apakah ini 
indicator Adam Malik sebagai agen KGB...?
 
Tetapi, bila Tim Weiner mengemukakan, ada kalanya CIA dan Faksi Adam Malik 
memiliki kepentingan yang sama perihal situasi dalam negeri Indonesia, rasanya 
dapat diterima. Apalagi, adanya elite PKI saat itu, seperti si Kamaruzaman, 
yang selalui `nggempangi` si Kancil. Jadi, bisa juga dikatakan, Adam Malik 
adalah seorang yang mampu memanfaatkan jaringan CIA, guna kebutuhan dalam 
negeri Indonesia. Khususnya untuk faksinya.
 
Kalau tafsir saya, Adam Malik tidak alergi terhadap ideologi komunis. Sebab, 
acap kali  dia menggunakan ini sebagai pisau analisis. Dapat diperhatikan 
pandangan-pandangan ekonominya, khususnya saat dia menjabat Menteri Kordinator 
Ekonomi masa Soekarno. Meskipun demikian, dirinya banyak tidak sepakat 
terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi-politik PKI.  
 
Sekedar asah asuh sejarah...
 
MJS
 

I
--- On Mon, 11/24/08, MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [tanahkaro] Adam Malik disebut agen CIA
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Monday, November 24, 2008, 10:11 AM











Wartawan AS Sebut Adam Malik Agen CIA 
Senin, 24 November 2008 | 08:04 WIB, Kompas.com
 
JAKARTA,SENIN-Adam Malik, wakil presiden kedua RI disebut-sebut sebagai agen 
CIA (Central Intelligence Agency/dinas rahasia AS). Pahlawan nasional ini 
bahkan disebut sebagai pejabat tertinggi yang pernah direkrut CIA di Indonesia.
Adam Malik yang dijuluki Si Kancil ini mendampingi Presiden Soeharto pada 
periode 1978-1983. Salah satu pendiri LKBN Antara ini pernah menjadi diplomat 
kunci dalam kebijakan luar negeri RI awal Orde Baru dan dubes untuk Uni Soviet. 
Ia meninggal pada September 1984 atau setahun setelah tidak menjabat wakil 
presiden.
Keterlibatan Adam Malik sebagai agen CIA itu disebutkan wartawan New York 
Times, Tim Weiner, dalam bukunya Legacy of Ashes, History of the CIA 
(diterjemahkan menjadi Membongkar Kegagalan CIA).
Dalam buku itu, Weiner mengutip pernyataan pejabat tinggi CIA Clyde McAvoy 
dalam wawancara pada 2005 yang menjadi bahan buku itu. Disebutkan, McAvoy 
bertemu Adam Malik pada 1964, atau setahun sebelum prahara politik September 
1965. "Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik," kata McAvoy dalam wawancara 
waktu itu.
McAvoy mengatakan, setelah berhasil merekrut Adam Malik, ia mendapat 
persetujuan untuk meningkatkan program rahasia buat mendorong persetujuan 
operasi rahasia di Indonesia, terutam terkait dengan persaingan di spektrum 
politik kanan dan kiri.
Weiner, menyebut setelah Adam Malik direkrut Clyde McAvoy menjadi agen CIA, ia 
berperan menggulingkan Soekarno, dan menumpas PKI. CIA pun membentuk trio yang 
kelak berkuasa pascatumbangnya Soekarno, yakni Adam Malik, Sultan 
Hamenglubuwono IX, dan Soeharto.
"Sang Duta Besar mengatakan dia bertemu dengan Adam Malik "di sebuah lokasi 
rahasia" dan mendapatkan "gambaran sangat jelas tentang apa yang dipikirkan 
Soeharto dan Adam Malik, serta apa yang mereka usulkan untuk dilakukan" buat 
membebaskan Indonesia dari komunisme melalui gerakan politik baru yang mereka 
pimpin, yang disebut Kap_gestapu, " tulis Tim Weiner (halaman 331).
Pada pertengahan Oktober 1965, Adam Malik mengirimkan seorang pembantunya ke 
kediaman perwira politik senior Kedubes AS, Bob Martens, yang pernah bertugas 
di Moskow, kota tempat Adam Malik pernah bertugas sebagai duta besar.
Martens menyerahkan kepada utusan Adam Malik itu sebuah daftar yang tidak 
bersifat rahasia, yang berisi nama 67 pemimpin PKI, sebuah daftar yang telah 
dia rangkum dari kliping-kliping surat kabar. "Dokumen itu sama sekali bukanlah 
daftar orang yang akan dibunuh," ujar Martens.
Klaim bahwa Adam Malik merupakan agen CIA sangat diragukan sejarawan Asvi 
Marwan Adam. Asvi beranggapan, selain bahwa klaim itu tidak didukung dokumen 
yang kuat dan saksi, Adam Malik juga telah meninggal. "Jadi ini hanya 
pernyataan sepihak pada seseorang yang sudah tidak mungkin memberikan 
konfirmasi atau jawaban," ujar Asvi, Minggu (23/11).
 
. . . (lengkapnya di Kompas 24 nov))






Ta semester! - sök efter resor hos Kelkoo. 
Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum: http://www.kelkoo. se/c-169901- 
resor-biljetter. html
 














      

Kirim email ke