Senin, 08/12/2008 14:27 WIB
Terjebak oleh Ritual Idul Qurban
M Aji Surya - suaraPembaca

. . . . 
Demikian juga nasib ajaran Idul Qorban atau Idul Adha. Pemahaman yang tercipta 
dan selalu diulang-ulang dalam khotbah adalah perintah untuk berkorban berupa 
domba, lembu, unta, dan lainnya. Agama mengajarkan hal tersebut agar manusia 
tidak lupa untuk berkorban. Setelah itu, sang ustadz dengan gayanya yang elegan 
menuntun sapi bersama sang penyumbang ke tempat penyembelihan. 

Sebelumnya, klik klik klik, acara foto bersama kambing, lembu dan onta yang 
akan dikorbankan. Lebih norak lagi, sehari sebelum hari H, para kambing dan 
lembu tersebut ditulisi dengan spidol besar nama orang yang berkorban. Jadilah 
ada lembu Muhamad, kambing Achmad, onta Fulan, atau domba Abdullah.

Kebanggaan akan muncul manakala banyak mata memandang siapa mengorbankan apa. 
Makin besar nilai korbannya, makin mantap jiwa keimanannya. Bahkan, biar 
kelihatan terpandang, maka ada yang melakukan korban keroyokan, satu sapi 
dibagi enam atau delapan. Dan, sang penyembelih harus menyebut berbagai nama 
dimaksud sebelum meletakkan pisaunya di leher sang sapi.

Anggota panitia korban adalah orang yang berhak mendapatkan dagingnya, sehingga 
pada tataran ini, mereka mengambil untuk pertama kali. Tentu bukan di bagian 
ujung kaki, melainkan di bagian-bagian yang paling berisi. Sang empunya hewan 
korban juga sudah menunggu di sampingnya. Biasanya mereka membawa bagian paha 
atas korban dimaksud.

Akhirnya, fakir miskin, muallaf, dan para musafir yang menurut agama dinilai 
pihak yang paling berhak hanya kebagian daging plus lemak plus tulang belulang.

Setelah acara ritual korban terjadilah pesta pora: mereka yang menerima daging 
korban, panitia pelaksana, ataupun pihak yang berkorban. Ada sate, gule, 
tongseng, dan lainnya. 

Bahkan, kadang ada juga yang sambil makan sate meminum minuman keras, katanya 
biar pas, seperti orang barat (makan daging sambil minum red wine). Dapat 
dipastikan, pada dua hari mulai hari H, tukang sate dan lainnya terpaksa cuti 
menjual dagangannya.

Dengan pemahaman yang sangat cetek seperti itu sangat bisa dipastikan bahwa 
nilai-nilai pengorbanan yang menjadi ajaran setiap agama tidak atau jauh 
menyentuh dalam kehidupan keseharian. Semua berhenti pada tingkatan ritual, 
kenyataan dan syariat. 

Tidak heran, bila seminggu setelah Idul Adha, ketika tetangga kesakitan dan 
perlu biaya, mereka pura-pura tidak tahu. Ketika saudaranya mendapat musibah 
rasa iba pun tidak muncul. Dan manakala ada musibah bencana alam, alih-alih 
menyumbang, biasanya hanya pandai mengkritik mestinya begini dan begitu.

Orang menjadi lupa bahwa pengorbanan adalah suatu ajaran untuk memberikan yang 
tebaik yang dimilikinya. Karenanya Tuhan mencontohkan Ibrahim menyembelih 
Ismail, anaknya yang paling disayanginya. Bukan hanya berkorban dengan pakaian 
bekas layak pakai, menyumbang dengan uang receh, dan memberi buku bekas kepada 
anak yatim.

Orang pun menjadi tidak mengerti lagi bahwa yang penting dalam korban bukanlah 
iklan di tv dan media cetak. Melainkan sebuah upaya syukur atas nikmat Tuhan 
agar dirinya terus menerus mendekat kepada sang pemilik kehidupan. 

Bahwa yang dilihat Tuhan bukan kambingnya tetapi imannya. Bahwa yang penting 
penyertaan iman dalam pengorbanan, bukan besar kecilnya korban. Bahwa jiwa 
multiplayer effects pengorbanan harus berkobar dari waktu ke waktu tanpa henti, 
berkesinambungan, sustainable, dan semakin besar.

Manakala kita semua terjebak dalam ritualisme syariat ajaran korban maka 
manfaat korban hanya sampai pada perut yang membuncit dan akan lenyap dalam 
hitungan jam dan hari. Setelah itu, semua back to basic dan tidak banyak 
manfaat yang bisa dipetik. Naudubillahi min dzalik.

M Aji Surya
Katelniceskaya Neberisnaya 82 Moskow
[EMAIL PROTECTED]
+79250718648

Penulis adalah diplomat Indonesia di KBRI Moskow, alumnus UII, UGM, UI, dan 
Pondok Modern Gontor. 

(tulisan ini disingkat, lengkapnya lihat detik.com-MUG)


      ___________________________________________________
Sök efter kärleken!
Hitta din tvillingsjäl på Yahoo! Dejting: 
http://ad.doubleclick.net/clk;185753627;24584539;x?http://se.meetic.yahoo.net/index.php?mtcmk=148783

Kirim email ke