Sumber:
http://inilah.com/berita/citizen-journalism/2008/12/11/68074/tokoh-karo-diabaikan/
Lokasi Bandara Kuala Namo yang terdapat di Kabupaten Deli
Serdang, Sumatera Utara (Sumut) merupakan areal pemukiman Masyarakat
Karo secara turun temurun dari dulu sampai saat ini.
Dari namanya saja yaitu ‘Kuala’ yang dalam bahasa Karo artinya
pertemuan antara dua buah sungai. Dan ‘Namo’ yang artinya adalah pulau
kecil di tengah-tengah sungai.
Maka sudahlah jelas nama daerah ini merupakan daerah asli orang Karo
(namun ironis akhir-akhir ini Kuala Namo sering ditulis di media massa
dengan nama ‘Kuala Namu’. Apakah ini sebuah cara untuk menghilangkan
jejak agar daerah ini tidak lagi dikenal sebagai daerah Karo oleh
masyarakat umum yang tidak begitu mengenal Kuala Namo?
Di situs Harian Waspada, salah satu koran nasional yang terbit di kota Medan,
yaitu www.waspada.co.id
terdapat beberapa polling, salah satu di antaranya adalah polling
tentang nama yang pantas untuk bandara Internasional Kuala Namo, yang
saat ini sedang dalam tahap pengerjaan dan beberapa tahun ke depan
mungkin sudah dapat digunakan.
Yang patut disesalkan dari polling yang dibuat oleh yang katanya
koran Nasional dan yang mengklaim dirinya sebagai media terbesar di
Sumut, adalah tidak ada satu tokoh Karo pun yang disertakan di dalam
polling tersebut untuk masuk dalam kandidat bakal nama Bandara yang
kelak mungkin akan digunakan, meskipun seperti yang saya sebutkan tadi
di atas bahwasannya daerah Kuala Namo sendiri adalah daerah orang Karo.
Dengan hal sepele semacam yang dibuat oleh waspada.co.id ini
bukan tidak mungkin kecemburuan sosial akan muncul di tengah-tengah
masyarakat Sumut, yang dikenal sebagai masyarakat pluralis dengan
berbagai ragam suku dan agamanya yang selama ini hidup rukun, aman ,dan
damai.
Bila kecemburuan sosial itu suatu saat kelak berada dalam posisi
puncak, maka bukan tidak mungkin pula kerukunan antar suku yang selama
ini terjalin dengan baik berubah menjadi hal terburuk dan tidak
diinginkan oleh semua lapisan masyarakat.
Oleh sebab itu maka selayaknyalah sebuah media seperti halnya waspada.co.id
agar lebih teliti dalam menerbitkan sebuah polling dan salah satunya
polling tentang bandara Kuala Namo ini, sebab media adalah sebuah alat
yang dapat diibaratkan sebagai pisau bermata dua, dimana di satu sisi
bisa menjadikan sebuah kebaikan, dan sebaliknya media juga malah bisa
membuat suatu keburukan yang tidak diinginkan.
Salam Mejuah Juah