Mumpung ada waktu luang ke warnet 
Terkait email saya sebelumnya tentang Adam Malik, ada teman yang bertanya. 
Katanya, “ Adam Malik itu komunis ya?”  
Saya tanya balik, “komunis yang dimaksud itu, komunis yang mana? Versi  siapa? 
Semasa di bangku kuliah, MANIFESTO KOMUNIS juga menjadi bahan resmi kuliah
Orientasi orang belajar itu (komunisme) ada beberapa hal, diantaranya : 1. 
Sekedar ingin tahu, 2. Menjadikannya sebatas pisau analisis, 3. Menjadikannya 
falsafah Hidup (sebagian ada yang menjadikannya alat mencari kekuasaan), 4. 
Main tiko  (main logika terbalik)
Mungkin kalau dia itu, masuk pada poin yang nomor dua. Kalau sampai pada poin 
yang ketiga, cuma dia yang tahu. Kalau sampai pada poin yang keempat, ya tanya 
sendiri kepada lawan-lawan politiknya, khususnya yang pewaris konflik elit masa 
lalu. 
Saya ingatkan dia tentang pertemuan kami dengan bung Humala Sitompul Ketua 
PAKORBA  (Paguyuban Korban Orde Baru) SUMUT beberapa waktu lalu. Bung Tompul 
yang telah berusia di wilayah kepala 8 ini, seorang aktivis PKI. *** yang masuk 
klan Haluan Lama. 
Katanya begini, “PKI itu dulu hancur, ya karena perbuatan MURBA.”  Namun ketika 
dikatakan, “berarti MURBA jauh lebih hebat dari PKI,” bung Tompul tidak berjiwa 
besar mengakuinya. Dirinya juga tidak mampu menguraikan secara lugas tentang 
pernyataannya tersebut. Kami yang hadir tersenyum kecil jadinya. Dia  cuma 
terseret nafsu politiknya saja. Pernyataan bung Tompul ini, adalah 
pernyataannya pribadi. Tidak ada mewakili 8 persenpun pemikiran dari 
orang-orang PKI lainnya yang masih hidup di Sumut ini, yang telah kembali dari 
buritan dengan Haluan Baru. 
Terlihat, kalau bung ini salah seorang pewaris konflik elit lama. Sekedar 
catatan : Adam Malik adalah salah satu dari sekian dedengkot-dedengkot pendiri 
MURBA. 
ADAM MALIK SEORANG NASIONALIS 
Dalam menangani kebijakan-kebijakan politik Indonesia, terlihat kalau Adam 
Malik sosok seorang nasionalis sejati. Tegas-tegas dirinya menolak 
INTERNASIONALE. Baik itu yang berporos ke Uni Sovyet atau Cina, pun Amerika. 
(Mungkin lain cerita, kalau yang menjadi poros utama itu adalah Indonesia 
ya…ha..ha..ha.. – namun kelak bisa saja hal ini terjadi)
Berikut kata Adam Malik dalam sebuah kisah di Indonesia tentang Amerika, 
“Di Sumatera, Amerika mendrop senjata-senjata dari udara. Seorang penerbang 
Amerika, Alan Pope, membomi dan menembaki daerah pasar di Ambon. Sehingga 
puluhan rakyat yang tak bersalah menjadi korban…”
Pihak asing sudah terlalu biasa mempunyai analisa dan kesimpulan, bahwa tiap 
konflik politik, pasti dilandasi pertentangan Blok Barat dan Blok Timur… 
Biasanya tidak mereka analisa mencari akar perkara menurut proporsi yang 
sebenarnya… Tanpa hendak melihat dimana kepentingan Indonesia sendiri. Titik 
tolak pemikiran dari para pemimpin politik Amerika yang selalu pincang inilah 
yang sering mengakibatkan ketegangan politik antara Amerika dan Indonesia yang 
sebenarnya tidak perlu terjadi bilamana melihat masalah dari perspektif yang 
wajar,” kata Adam 
Andai mantan Menteri Luar Negeri Amerika John Foster Dulles dan mantan Presiden 
Korea Selatan Syman Rhee masih hidup, tentu mereka akan menjadi saksi hidup 
sejarah kepiawaian si kancil.. 
 
ADAM MALIK SANG NEGARAWAN- PAKTA DAMAI DENGAN SEJARAH
Di puncak karir politiknya, Adam Malik menunjukkan sifat-sifat 
kenegarawanannya. Seperti;
 1. sikapnya terhadap Hatta. Berikut kata Adam tentang Hatta, “ soal-soal yang 
masih terkatung-terkatung dari zaman silam, khususnya di bidang mental yang 
masih digarap, sudah saya rampungkan di dalam hati. Dengan begitu, saya tidak 
akan mengomprengkan namanya (Bung Hatta) untuk tujuan pribadi. Usia beliau 
sudah amat lanjut. Dudukkan dan junjunglah beliau…”.
(sekedar catatan: konflik Adam Malik CS dengan Hatta CS, mulai lebih panas, 
terutama semenjak kematian Bapak Republik Indonesia Tan Malaka. Namun, bilamana 
kelak ada pengakuan dari anak/keluarga inti Hatta, bahwa mereka pernah dizolimi 
Adam dengan menyalahgunakan kekuasaan politiknya, maka gelar NEGARAWAN tersebut 
perlu dicabut.
2. Otokritiknya Tentang Dampak Tragedi 65. Katanya, “dampak darinya,  terdapat 
praktek-praktek balas dendam, yang kebanyakan tidak ada kaitan secara langsung 
dengan gerakan 30 September... Gontok-gontokan! banyak yang tidak bersalah 
menjadi korban!...” (renungan pribadi: andai faksi Adam Malik tampil sebagai 
pihak yang kalah dalam tragedy 65, mungkinkah  dirinya, csnya, bakalan 
dipancung juga? Dihukum dengan tidak melalui proses pengadilan? yakin?
3. Tentang Epos 6 Jam di Jogja. Meskipun  saat itu Soeharto berada di puncak 
kekuasaan, namun terlihat, mungkin Adam satu-satunya orang yang berani 
terang-terangan membantah Epos 6 Jam di Jogja sebagaimana versi Soeharto yang 
disajikan dalam bentuk cergam, seperti yang pernah  dipelajari semasa SD. Kalau 
menurut versi Adam, peran Soeharto hampir nihil.
 
Pada kesempatan lain, bila ada waktu dan pikiran yang cukup luang lagi, akan 
dipaparkan di milis ini. Diantaranya ;
1.      PKI Tidak Pernah Bubar, Cuma Dibubarkan Paksa 
2.      Memilah “Kader Cengeng” atau “Kader Berjiwa Besar” di tubuh PKI – 
Evaluasi Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) – Yang Mana Kembang Yang Mana 
Loyang, Kecuali Kembang Loyang
3.      PKI Haluan Lama dan PKI Haluan Baru
4.      Bila Menang, PKI Sedikit, atau Lebih Kejam atau Lebih Tidak Kejam 
Dibanding Soeharto? Yakin?
5.      Romantika Z. Afif – Aziar – Sobron Adidit
Ini cumalah bagian dari intrik/konflik elit politik masa lampu, yang mungkin 
tidak perlu diwarisi  bulat-bulat. 
Bila seorang supir Serasi Borneo dari arah Berastagi ke Medan lebih sering 
menoleh ke belakang saat mengendarai, apa yang akan terjadi?  
Di buritan tidak mesti ditinggalkan, di haluan tidak mesti selamanya menjadi 
panutan. Tindakan adalah perwujudan dari pemikiran. Sementara niatan adalah 
pemicunya. 
 
Sekedar asah asuh sejarah
salam
 
MJS
 


      

Kirim email ke