Soal Orang Pendatang dan Orang Tempatan di Daerah Calon Pemko Berastagi
Bila Pemko Berastagi jadi, ada keraguan kalau saudara-saudara kita yang 
pendatang (non Karo) akan merajai kancah politik dan ekonomi di Kota Berastagi. 
Setelah saya coba bandingkan dengan beberapa daerah lain di tanah air, 
kemungkinan tersebut bisa saja terjadi. 
Kalaulah memang ini yang menjadi kendala utama, dan ini yang menjadi factor 
penghambat, maka bila diseriusi mengantisipasinya, tidak tertutup  kemungkinan 
melakukan antisipasi-antisipasi secara legal sejak dini. Peluang itu ada 
terlihat. Salah satu contohnya pembuatan/penegakan Perda.
Tetapi, kalau kekhawatiran tersebut memang sudah mendalam,  dan ini  merupakan 
factor utama tersendatnya Pembentukan Pemko tersebut dari pimpinan induk 
setempat,  bagaimana kalau yang dibentuk  itu adalah Kabupaten Singalor Lau 
saja, nina ka ukurku. 
Atau, kalau pemekaran itu memang terbukti merugikan rakyat banyak, kenapa tidak 
langsung saja menuntut “ Cabut/Batalkan Segala Undang Undang Yang Mengijinkan 
Pemekaran Daerah”
 
Soal  Pegiat-Pegiat Pemko Berastagi
Ada kalanya seseorang di dalam situasi yang tepat, tapi berada pada posisi yang 
kurang menguntungkan(nya). Hal ini juga berlangsung di kitaran mereka-mereka 
yang pro pembentukan Pemko Berastagi. 
Tidak kurang dari 3 Karo pemuka setempat yang saya ketahui gigih pro pemekaran. 
Namun, sarana sosialisasi yang ditempuh, cenderung memilih kede kopi, pulung 
jabu-jabu, acara adat dan sebagainya. Sepemantauan saya, tidak pernah namanya 
terekspos media massa yang besar. Mereka ini juga sering sekali lalai 
memanfaatkan media massa sebagai sarana kampanye pemikiran-pemikirannya. 
Akhirnya timbul opini; 
“ Ikut Nge Min Ibas Kepiten, Tapi Lupa Mbeligaisa.” 
Belakangan, saya rasa perlu mengungkapkan ini guna mengantisipasi satu hal dan 
lain sebagainya di masa mendatang. Yakni,  andai, misalkan diizinkan 
berandai-andai Pemko Berastagi jadi. Yang muncul sebagai pemenang melalui 
Pilkada, adalah Walikota dan Wakil Walikota yang tidak dilibatkan dalam panitia 
inti. Mungkin salah satu dari pemuka yang saya maksud di atas. Kemungkinan ini 
saya lihat bisa saja terjadi. 
Dengan masuk koran namanya, bukanlah tolak ukur utama ikut berjuang atau tidak. 
Bila tercantum nama di susunan kepanitiaan pemekaran, bukanlah tolak ukur utama 
yang mengatakan yang paling berjasa. Kembali seperti di atas, ini merupakan 
masalah situasi/posisi. 
Oh ya, tolak ukur pemuka saya maksud di atas, misalkan seperti ini. 
“Serbuuuuuuuuuuu….t,” katanya.  Akhirnya, sekitar seratus orang akan melakukan 
penyerbuan. Padahal yang dikatakan  adalah serbut, bukan serbu. Sentabi, enda 
guyon saja nge. 
 
Enda ka lebe,
MJS 
 


      

Kirim email ke