Mejuah-juah permilis sirulo
BAWASLU (Badan Pengawas Pemilu) sesuai dengan namanya ya jadi pengawas 
pemilihan, apa saja yang berhubungan dengan pemilihan. Mengawasi dari sudut 
keadilan, dpl menjaga supaya pemilihan bisa berjalan seadil mungkin. Dari mana 
ketidakadilan? Filosofis, hanya bisa dilihat dari semua pertentangan alias 
kontradiksi. Pemerintah disatu pihak + semua aparatnya dengan pihak lain yang 
tidak punya aparat atau kekuasaan selain suaranya. Tifatul atau Rizal bisa 
ditangkap polisi atau disuruh tangkap sama polisi. Tetapi Tifatul atau Rizal 
tidak bisa menangkap SBY atau JK atau memerintahkan polisi menangkap mereka. Ke 
4 orang ini adalah lawan-lawan politik yang menurut JK tidak jegal-jegalan 
(omongan politik kecintaan JK). 
Kalau dilihat dari sini tentu BAWASLU tidak akan begitu gegabah menyuruh polisi 
menangkap seseorang sebelum jelas persoalannya atas penyelidikan mereka 
sendiri. Apa kerjaan mereka sebagai pengawas? Apakah begitu gampang tinggal 
suruh polisi menangkap? Siapakah dibelakang polisi? Pemerintah juga punya 
partai dan punya capres/cawapres tidak bedanya dengan partai-partai lain. 
Bedanya mereka ini tak punya aparat seperti partai pemerintah, itu saja. 
Mengawasi keadilan dalam pemilihan harus dilihat dari segi ini sebagai segi 
terpenting dan dominasi bagi tiap negara yang bakal bikin pemilihan. Banyak 
sekali terjadi perang setelah pemilihan karena soal ini, Kenya, Zimbabwe, 
Indonesia masa Orba dll. 

"Ini ada agenda tertentu. Ada kesinambungan dengan masalah Rizal Ramli, 
keluarnya Sri Sultan dari forum raja, pemerintahan SBY-JK sudah seperti mendaur 
ulang produk Orde Baru yang main tangkap," kata Direktur Lembaga Pemilih 
Indonesia (LPI) Boni Hargens, pasti benarnya. 
BAWASLU terdiri dari 5 orang, 3 wanita dan 2 pria. Kelemahan badan ini saya 
kira bukanlah karena lemah lunglainya wanita hehehe . . . 
Tapi persis seperti Boni menilai, sikap Bawaslu mencerminkan agenda politik 
pihak-pihak tertentu yang mengarah kepada pembunuhan karakter dan black 
campaign.

 
Salam black campaign
MUG
 
 
--- In [email protected], Alexander Firdaust <daustco...@...> wrote:




Keputusan Mabes Polri menetapkan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Tifatul 
Sembiring sebagai tersangka dalam aksi solidaritas Palestina dinilai keliru, 
karena yang melakukan pelanggaran adalah PKS.

Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) yang juga pengamat politik Universitas 
Indonesia Boni Hargens menyayangkan keputusan Badan Pengawas Pemilu yang sudah 
menyalahkan Tifatul.

"Saya setuju dengan aksi tersebut. Ini memang murni gerakan kemanusiaan, kita 
harus hargai. Namun yang jadi masalah saat Tifatul membacakan janji politik 
internasional, seharusnya yang dihukum partainya, bukan orangnya," kata Boni 
kepada wartawan, Jumat (16/1/2009).

Boni menilai, sikap Bawaslu mencerminkan agenda politik pihak-pihak tertentu 
yang mengarah kepada pembunuhan karakter dan black campaign.

"Ini ada agenda tertentu. Ada kesinambungan dengan masalah Rizal Ramli, 
keluarnya Sri Sultan dari forum raja, pemerintahan SBY-JK sudah seperti mendaur 
ulang produk Orde Baru yang main tangkap," terkanya.

Menurut dia, seharusnya Bawaslu memberi sanksi kepada PKS berupa sanksi tegas. 
"Coret PKS misalnya, itu sanksi terberat, hukum partainya, bukan Tifatul 
dipidanakan," tuturnya.

Padahal, lanjut Boni, banyak hal yang seharusnya menjadi tugas Bawaslu. Boni 
juga menyayangkan iklan-iklan kampanye di media massa yang diduga menggunakan 
dana dari sumber yang tidak jelas.

"Harusnya Bawaslu juga mengurusi hal tersebut, karena sumber dana belum diaudit 
tapi sudah banyak iklan di media massa, dana siluman, Bawaslu di sini gagal," 
tegasnya.

Sumber: 
http://pemilu.okezone.com/read/2009/01/16/267/183494/pengamat-yang-melanggar-bukan-tifatul-tapi-pks

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community

 


      __________________________________________________________
Ta semester! - sök efter resor hos Kelkoo.
Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum här:
http://www.kelkoo.se/c-169901-resor-biljetter.html?partnerId=96914052

Kirim email ke