Gerakan-gerakan tersebut mungkin mengejar kuota pemekaran dimana nantinya 
setelah jumlah kab/kota diseluruh indonesia 520 maka tidak akan ada lagi 
pemekaran daerah. Pada saat itu pemilu sistem distrik akan diberlakukan dan 
setiap kab/kota akan mempunyai wakil 1 orang di dpr pusat. 

 
________________________________
robertrobertrobertrobertrobertr

________________________________





________________________________
From: MU Ginting <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Sent: Monday, February 2, 2009 11:53:45 PM
Subject: [tanahkaro] Re: Massa Tuntut Pembentukan Sumatra Tenggara


  
Mejuah-juah permilis sirulo 
 
 Pemekaran berkembangEnggo ka ndekah sitik kita la ngeranaken pemekaran. Tapi 
bage gia labo berarti pemekaran enda ndai enggo ngadi. Erdalan nge rusur. Si 
menarik kuakap termasuk bas perukurenta pe berkembanga kang, atau berubah kang. 
Muat 'jinakna' kita ngadapisa atau ? Muat lalana teridah syarat, kemungkinan 
bagepe ketidakmungkinan. Penilaian pe meluas ras semakin mendalam, pembodohan 
semakin tak berguna, dari pihak daerah maupun dari pusat, taktik pun 
dipertinggi. Bagi Pusat bagaimana supaya semakin pandai menghalangi pemekaran, 
dan dari daerah bagaimana supaya bisa jalan dengan alasan yang semakin 
'ilmiah'. Pembodohan seperti model 'aceh-gayo', atau 'batak-gayo' yang diangkat 
dari kebodohan/penipuan kolonial, sudah tak mempan, terutama usaha menutupi 
internal-colonialis m dengan cara demikian. 
I Sumut, mulana sibergerak (sejak th 50-60 an) ras sejak permulaan reformasi, 
kalak Sumtim, Karo, Simalungun, Melayu, Pujakesuma bikin demo tuntut Sumtim. 
Sudah itu giliran kalak Batak tuntut Protap. Gundari giliren kalak Mandailing 
tuntut Sumteng. Kalak enda enggo muat pandena, niruken Sumbar la pakai kata 
etnis, tapi pakai nama nasional. Ras kalak Protap Batak, enggo me sejak semula 
kalak enda la nggit. Kulturna la seri nina. Kalak enda mulai turah ukurna 
erbahan propinsi sendiri sebab lanai mungkin menerusken singgasana empuk Sumut, 
lang kalak Mandailing nge kap jadi raja turun temurun i Sumut sejak merdeka. 
Encage gundari pemrakarsa Protap enggo mulai mesui beltekna, perbahan 
siniarapken ndai ikut mulai ka berontak erbahan propinsi sendiri (Tapanuli 
Barat), ije termasuk Sibolga, Tapteng, Pakpak Bharat, Nias Selatan, Nias. Enda 
me 'suratna' ku Pusat jadi modalna. Beragam etnis nina, sambil ngejek Protap 
cuma satu etnis. Kalak enda enggo ngafalken kebodohan pusat soal daerah 
(etnis). Tapi entah nggit atau lahang daerah-daerah enda ikut la lit jaminen. 
Sebab mbarenda ku Protap pe imasukken kang kerina daerah-daerah enda ibas 
'surat wasiat'na ku pusat. Pusat tau apa, pengetahuan- daerahnya sangat rendah, 
tingkat SD, maka dibohongi saja. Pas kang bagi kalak Aceh ibas 'surat wasiat'na 
ku Pusat, adi i NAD kerina kalak Aceh nina, kalak Gayo pe Aceh nina, Aceh Gayo. 
Sidebanna pe Aceh Alas, Aceh Tamiang, Aceh Singkil. Encage reh ka antropolog 
Batak Amir Nadapdap, ih . . . Gayo ras Alas kalak Batak nge nina, maka Batak 
Gayo dan Batak Alas nge kalak enda nina ka.
 Antropolog Batak enda ngapalken pelajaren kolonial, Batak kerina atau Aceh 
kerina, atau paling gampang kalak pribumi kerina hehehe . . . Piah teringet ka 
aku kalak Barat i Rwanda, 'saya heran mereka ini tidak ada bedanya, Tutsi dan 
Hutu, koq bisa berperang' nina. Jelas tidak ada bedanya, karena mereka semua 
orang 'pribumi' hahaha . . . 
Tidak mudah untuk melihat perbedaan dari luar. Perbedaan itu di Rwanda sudah 
500 tahun lebih, sejak abad ke 14-15 kedatangan Tutsi pertama ke daerah itu. 
Orang Hutu tidak pernah lupa dan belum pernah lupa tanggal kedatangan mereka 
ini, karena perbedaan itu tidak pernah hilang, dan tidak akan hilang untuk 
selama-lamanya. Hanya satu cara mendekati penghilangan perbedaan, yaitu dengan 
PENGAKUAN. Pengakuan atas perbedaan. Inilah yang sampai sekarang ditentang 
mati-matian oleh Pusat Jakarta. Ini jugalah yang memperbodoh mereka soal daerah 
atau etnis daerah. Karena itu mereka takut dengan nama propinsi pakai istilah 
etnis. Protap sudah macat total. Mungkin harus ubah nama hahaha . . seperti 
Sumbar, Sumteng. 
"Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Eddy 
Syofian mengungkapkan, Provinsi Sumut memang terdiri dari berbagai kabupaten 
yang sangat menonjol identitas kesukubangsaannya. Di Sumut, beberapa kabupaten 
malah dinamai dengan nama etnis atau sub etnis seperti Karo, Simalungun, 
Mandailing Natal, hingga Nias.
Selama ini semua wilayah administrasi kabupaten-kabupaten tersebut terintegrasi 
dengan Provinsi Sumatera Utara. Pemekaran provinsi yang diusulkan beberapa 
daerah sangat rentan, mengingat pemekaran-pemakaran ini mengedepankan sentiment 
primordial, etnis, dan agama", dari milis infokaro dan Kompas, ,[infokaro] 
Pemekaran Provinsi Ancam Integrasi Sumut Alexander Firdaust, måndag 12 januari 
2009 11..56. 
Selanjutnya disitu juga tertulis:
"Pengamat politik dari Universitas Sumatera Utara Ridwan Rangkuti 
mempertanyakan motivasi daerah-daerah membentuk provinsi baru. Menurut dia, 
daerah-daerah pengusul menggunakan sentiment politik primordial seperti 
kesukuan dan agama untuk tujuan meraih kekuasaan.
"Padahal usulan-usulan tersebut tidak memberi penting bagi penguatan demokrasi 
lokal dan pelayanan publik. Usulan ini juga tidak memberi dampak penting bagi 
perubahan dana alokasi umum," kata Ridwan.
Jika diteruskan menurut Ridwan, usulan pembentukan provinsi ini malah 
menimbulkan masalah baru bagi pemerintah pusat. Dia menyarankan, sebaiknya 
seluruh daerah di Sumut ini bersatu untuk meminta pemerintah pusat memberikan 
otonomi khusus ke pada Provinsi Sumut seperti yang diberikan kepada Aceh, 
Papua, DKI Jakarta, dan Yogyakarta."Kedua orang ini Eddy Syofian dan Ridwan 
Rangkuti mempunya dasar pikiran sama yaitu KETAKUTANNYA AKAN PENGAKUAN diatas. 
Pengakuan atas perbedaan primordial. Bagi dua orang ini 'primordial' sangat 
mengerikan, dan memang juga mengerikan koq karena bisa motong leher seperti di 
Kalbar/Kalteng, Maluku, Poso, dan Rwanda. Dua orang ini pasti belum lupa, 
tetapi masih belum mau mengakui. Ridwan mau bikin propinsi otonomi khusus pula, 
seperti NAD, Papua dll, dan ALA dan ABAS tentu dia lupa, karena termasuk 
PENGAKUAN tadi. Eddy Syofian juga fobi sama nama daerah 'primordial' seperti 
Karo, Simalungun, Mandailing Natal dll. Eddy ini bapaknya
 orang Simalungun dan ibunya orang Mandailing. Baginya untung sekali tidak ada 
daerah bernama kabupaten SIMAN (Simalungun- Mandailing, bisa nggak bisa tidur 
dia. Ridwan Rangkuti orang Tapsel/Mandailing, dan masih ada peninggalan 
'keindahan lama' kekuasaan turun-temurun Mandailing di Sumut. Harapan masih 
ada, apalagi kalau jadi propinsi khusus, wah wah . . . Betapa indahnya! Hahaha. 
Asalkan jangan semua propinsi lain nanti ikut pula minta dikhususkan, berabe . 
. .atau? 
Enda me gambaren perkembangenta i Sumut. 
Si 'sedihna' kalak Pakpak, lenga ikut kujapape, tapi sisada la mungkin.. Pernah 
kang kalak enda mau ikut Sumtim, asalkan jangan ikut Protap. La lit etnis 
sideban si nggit ras kalak Batak, kenyataan kang bas pemekaran enda ndai. Tentu 
lit ka nge sebabna, sebab primordial adah ndai kang pasti. Lang kuja ka idarami 
sebab sideban. Tapi adi tetap la iakui, ja nari kin pemettehta? 
Beda sitik ras kalak minoritas Pakpak atau Simalungun, kalak Karo banci janah 
mungkin sisada erbahan propinsi, sebab daerahna luas lenga keri iasak kalak, 
cuma 'la siakap mungkin'. Kita nge pertama singalangi kita, labo kalak sideban. 
La kita nggit ngerana, maka kalak sideban si ngeranaken kita.. Bagepe adi la 
kita nggit mekar, maka kalak sideban kang mekarken kita. Bagi lagu kalak 
pendatang Tambunan, imekarkenna daerah Karo Bangun Purba, sebab kalak Karo 
sendiri 'la akapna mungkin mekar'. Bagenda denga nge tingkat perkembanganta. La 
kita nggit ngerana, lit mintes singeranakensa. La kita nggit mekar, lit mis 
simekarkensa. Kita nonton taren nimai 'kemungkinan' ndai, sebab 'lenga siakap 
mungkin'. 
'Ngerana kita atau erperang kita'. Seterusna mekar kita atau imekarken kalak 
kita. Nimai ndai lit nge rusur waktunta, sope lenga terlambat bagi kalak 
Simalungun atau Pakpak. Dua etnis enda enggo me dung . . . lanai lit si man 
timan. Kita lenga dung . . . maka lit denga waktu nimai. Tapi taren-taren lenga 
dung ulin kuakap mekar asangken nimai idungi kalak. Berastagi, Singalorlau, 
Tanehpinem/Tigaling ga, Langkathulu atau seluruh Langkat, kab Karo, Delihulu 
(Deli), Serdanghulu. Enda kerina daerah si mungkin. Gia kari bergabung i 
Sumtim, tapi kita enggo lit modal political bargaining ibas 6-7 kabupaten. 
Bagian kalak Melayu pe bage sekitar 6-7 kabupaten, Simalungun banci 2 kabupaten 
+ 1 kota. Pujakesuma mayoritas i Sumtim, bagepe melala etnis pendatang sideban 
si enggo ndekkah i Sumtim. Enda muat riahna nge kari, muat ganjangna 
kedynamisan propinsi enda. Tapi dasar kuat bargainingta ndai, ula kita lupa 
ndungisa lebe, lang masap nge kerina, sebab kwantitas
 talu kita lalap. Pabrik manusia etnis sideban lebih lancar. Tapi 6-7 basis 
otonom cukup kuat. Masalah pengakuan ndai man banta: masalah SURVIVAL. 
Enda ka lebe yah, iseng-iseng pertengahan minggu
Mejuah-juah kita kerina
MUG
--
--- In tanahk...@yahoogrou ps.com, Alexander Firdaust <daustco...@. ...> wrote:
Sumber: http://www.liputan6 .com/actual/ ?id=20327

Ribuan warga Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, berunjuk rasa ke Gedung DPRD dan 
Kantor Gubernur Sumut, Senin (2/2). Mereka mendesak DPRD Sumut segera 
merekomendasikan pembentuan provinsi Sumatera Tenggara berpisah dari provinsi 
Sumut.

Pengunjuk rasa menilai, pembentukan provinsi Sumatera Tenggara sudah mendesak 
dan harus segera diwujudkan. Usulan pemekaran daerah sudah tidak dapat ditawar 
lagi mengingat potensi luas wilayah, kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk 
dan perputaran ekonomi yang cukup memenuhi persyaratan.

Saat ini daerah yang mendukung pembentukan provinsi Sumatera Tenggara meliputi 
Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Padang Lawas Utara, Kota Padang Sidempuan 
dan Padang Lawas. Pembentukan Sumatera Tenggara juga telah mendapat persetujuan 
masyarakat dan usulan bupati kepada pemerintah pusat. 

Mereka beralasan selama ini warga telah banyak tertinggal. Ini karena jarak 
transportasi yang jauh dengan ibu kota provinsi Sumut. Ketua DPRD Sumut Abdul 
Aziz Angkat mengatakan, pihaknya akan membahas aspirais ini melalui panitia 
musyawarah untuk selanjutnya dibawa ke rapat paripurna.(UPI/ Chaerul Dharma dan 
Cuk Arbianto)

Komentar: Dulu Sebagian dari orang-orang ini sangat tidak mendukung pembentukan 
propinsi tapanuli (protap), tapi nyatanya sekarang mau buat propinsi sendiri 
pula rupanya mereka (he...he..he)

Salam Mejuah Juah

Karo Cyber Community

-- 

________________________________
 Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkopplin g.
Sök och jämför priser hos Kelkoo.    


      

Kirim email ke