Mejuah-juah permilis kerina
Jumpa aku kalimat MJS jenda, salah sada gambaran konkrit perdalanan pengetahuan 
dialektika bas milista: pendalaman pemahaman masalah dari benturan-benturan 
kajian.
 
"i jenda mbue ilmu. Baik yang bersifat informasi/benturan informasi, atau 
gagasan yang muncul melalui benturan-benturan kajian." (MJS).
 
Payo 'ilmu' enda rehna bas proses 'benturan' nari. 'ula sipanjang punjuten' 
kapken rehna perbahan sipanjang punjuten la terelakken. Jadi si terjadi rusur 
janah la terelakken emkapken sipanjang punjuten. Maka ula sipanjang punjuten 
ninta. Mungkin kin sikataken ula sipanjang punjuten adi la lit terjadi 
sipanjang punjuten ilebe-lebenta? 
Bagepe 'sepengodak sepengole kita' ja nari kin rehna? Perbahan kita kateppen la 
sepengodak sepengole. Sepengodak sepengole entisik ngenca, bagi serdadu sangana 
erbaris saja ngenca, encage ngadi erbaris mis kang lain pengodak ras pengolena. 
Perbahan erbaris nge ndai maka sepengodak sepengole, labo perbahan sepengodak 
sepengole maka erbaris. Tuhu-tuhu briliant Karo sinoria, mbages janah meganjang 
dialektikana. Sai mara kurumah tendi; seh sura-sura tangkel sinanggel rsd. Je 
lit rusur kontradiksi, pertentangan ras kesatuan segi-segi sibertentangan. Seh 
cocokna contoh bahan Medi. 
 
Sosiolog Jerman Jurgen Habermas mirip teorina ras ide sepihak ula sipanjang 
punjuten, ide konsensusna ibas demokrasi deliberatif. Maka teorina la mungkin 
bas praktek sebab sepihak ia ngenehen persoalen, la dialektis. Ndarami 
konsensus, tapi uga kin ndatken konsensus adi la kita pang ngenehen 
kontradiksina? Enda la sesuai ras proses perkembangan milista, lewat perjuangan 
segi-segi bertentangan, atau benturan-benturan kajian (MJS). Je nari nge turah 
ilmu atau yang baru. Demokrasi labo konsensus, labo sada pendapat tapi adanya 
persetujuan bahwa kita tidak sependapat, dan inilah yang akan melahirkan yang 
baru, langsung atau kemudian. 
 
Jurgen Habermas (aktif denga) banci ikataken ngenehen secara sepihak 
perumpamaan dialektis Karo 'sepengodak sepengole ula sipanjang punjuten' 
(konsensus). Ertina ia meninjau persoalen bas sada segina nari ngenca, 
konsensusna. Kai pe iarihken ula sipanjang punjuten gelah sepngodak sepengole 
kerina. Uga kin enda, mungkin kin siakap? Ngayak gundari lahang, tapi mungkin 
500 tahun nari, atau enca tercapai kontradiksi pokok dunia sideban, enggo ndauh 
bas bayangen kontradiksi pokok sigundari (perjuangan untuk keadilan). 
Kontradiksi pokok siuga kin enda pagi simungkin 500-1000 tahun nari, lenga 
terbayangken. Kubayangken uga dunia enda terutama saling hubungan antar-manusia 
adi kontradiksi pokokna konsensus kemanusiaan. Ih . . la terbayangken. Atau 
ndarami kontradiksi dalam konsensus, atau kontradiksi dalam tidak-kontradiksi, 
muat rumitna . . . 
 
Kai kin ilmu atau pengetahuan enda? Engkai maka banci si dat ilmu atau 
pengetahuan bas milista nari? Enggo kin tertulis je tading ngogesa naring? 
Lahang. Bas benturan-benturan adah ndai nge lahir ilmu, benturan informasi 
bagepe benturan ide/gagasan. Gia informasi labo kerina ka jadi pemetteh. 
Informasi banci ioge, encage lewat saja, pagi enggo ka kita lupa atau lanai 
perlu i inget. Tapi ilmu atau pengetahuan enda lebih mbages nge kuakap. Janah 
ndatkensa terpaksa nge lewat proses, proses ndatken saling hubungen tiap 
persoalan keluar bagepe kedalam (integrasi ras perorangan) ertina ije lit 
kreasinta bagepe kemauan keras, simenungkinken ka kari kita banci memperdalam, 
memperluas ras menguji ibas praktek. Adi bage labo mungkin dat ilmu bas ide 
Habermas nari, tapi pasti bas benturan-benturan kajian nari.
Enda ka sitik komentarku
Sukses man caleg Heri Surbakti
Bujur ras mejuah-juah kita kerina
MUG
 
 
--- In [email protected], medi sembiring <medy_sembir...@...> wrote:
Heri Lesmana Surbakti, Uga Pe Anak Ndai E…? 
 
 
 
 
Hang Jebat Hang Kesturi
 
Kesatria Nusantara Ini
 
Jika Hendak Membangun Negeri
 
Mari Restui Heri Surbakti
 
Ehhmm, Ehmmmm, idealnya, kalimat tersebut dipaparkan di Binjai-Langkat, selaku 
basis pemilihandu Ri. Walau demikian, hitung-hitung skedar mengingat saudara  
kita dari Melayu.
Kalaulah dulu  pernah saya paparkan di milis ini, bahwa partai sering sekali 
menjadi bulung yang namburi galiman cantik, maka salah satu dasar ungkapan itu, 
adalah ketika melihat situasi yang mengitari Heri Lesmana Surbakti. 
Kenapa saya katakan begitu…? 
Dari sekitar 9 orang Caleg PDI Perjuangan yang bertarung ke DPRD Sumut Dapil XI 
(Binjai – Langkat), setau saya, hanya dua diantaranya yang asli putra 
Langkat. Salah satunya  Heri Lesmana Surbakti dengan nomor urut 7.  Belakangan, 
berkembang peraturan yang mengatur suara terbanyak. Sehingga peluang no urut 1 
dan 9, sama saja.
Dari segi kwalitas dan komitmen, bagi saya bung Heri Surbakti ini sudah teruji. 
Kami sama-sama alumni Unika St. Thomas Medan. Meski dia berada di F. Ekonomi 
dan saya di Sastra, tetapi perihal percaturan mahasiswa Karo di kampus, kami 
sering berada di dapur yang sama. Seusai bangku kuliah juga, dalam hal-hal 
tertentu, kami masih sering bekerja sama. 
Semasa bergaung kembali aspirasi pembentukan Sumatera Timur di awal tahun 
2001-2002 lalu, Heri adalah salah seorang pegiatnya yang aktif di tatataran 
lapangan dan konsepsional.
Setamat bangku kuliah, kami pernah ngobrol-ngobrol, bahwa untuk menjadi Pegawai 
Negeri Sipil (PNS), lebih mendahulukan saudara-saudara yang lain. Bukan karena 
menganggap PNS tidak bermutu. Sebab, kalau tidak ada PNS, siapa yang akan 
menjalankan roda birokrasi di negeri ini  Dalam artian, PNS juga merupakan 
bagian dari system penyelenggaraan negara. 
Nah, hingga kini, meski telah tamat kuliah sejak 8-9 tahun lampau, namun Heri 
belum pernah sekalipun mengikuti tes calon PNS. Walau beberapa kali iklim 
politik di Sumut ini mendukung masuk PNS gratis. Terlebih-lebih iklim masa 
kini. 
Dengan berani menjadi Caleg, Heri Surbakti telah selangkah lebih maju dibanding 
saya. Kenapa…? Meski dulu banyak tawaran untuk menjadi Caleg dari berbagai 
partai, namun ntah kenapa, saya masih belum percaya diri menerima. 
Tengok-tengoklah nanti pada masa-masa mendatang. 
Oh ya, salah satu lagi kelebihan Heri, dirinya piawai dalam metoda komunikasi 
lisan. Emaka, ula kari atenta mamang, adi lenga gia kuga kal ertorosenna siakap 
kune adi arih-arih via tulisen. 
Kai nari ndia deba kuban belas-belasku ya….? Oh ya, tambah tolena ka, 
momentum-momentum politik biasana, mbue beredar “Angin Surga”. Sewaktu aku 
berhubungan dengan kawan-kawan yang mendampingi Heri di Langkat, kutanya pada 
mereka. Kataku, “halo, gimana kabar di situ?. ‘Angin Surga’ apa yang 
dimainkan di lapangan?”.  
Jawab mereka, kali ini ‘Angin Bumi’ yang kita gerakkan. Misalkan nanti Heri 
menang, maka dia hanya akan mengantongi gaji bulanannya sebagai anggota DPRD 
Sumut, cuma 40 persen lagi..Yang 60 persen, akan didistribusikan kepada rakyat.
Rakyat yang dimaksud, adalah tentu kelompok masyarakat yang jelas pendukungnya, 
ma bage ndia…? Kira-kira begini, misalkanlah hitungan sementara. Guna 
operasional partai sebesar 25 persen. Untuk operasional kelompok pendukung 
organisasi plural, sebesar 15 persen.  Total sementara ini,  sebesar 40 persen. 
Andai ada kelompok pendukung dari elemen Karo, ugape menahang nge ukurna 
mengalokasikan si 20 persen tiap bulan.
Jadi, bias kin nge ndia si 40 persen nari sebagai biaya operasionalna sebagai 
‘Si Mehamat’ i Sumut enda denggo….? Bila mengingat pola hidupnya yang 
sederhana dan bersahaja, maka dia pasti siap. Rambutnya bergelombang tapi 
pikirannya lurus, kulit tubuhnya gelap tapi hatinya putih. 
Ihhh, enggo mbue kal aku nuri-nuri kerna kam e nak (Heri). Ei gelah tehndu, ku 
Medan kam denggo, embahndu lah si mulih perakan. Dua bungkus baba isapku ya 
coooo?  Uga kapndu Ucok Hiu…? Ja kam ndai…? Cocok kam rasa…?
Amin bage gia, kune uga pe kari hasilna April tahun enda nak, ulih-ulihindulah 
rusur nungkir-nungkir milis enda. Ntah ndedah-ndedah lah gia. Kata seorang 
sahabat kita yang ulasan politiknya selalu cerdas,  butuh waktu persiapan 
setidaknya satu tahun untuk membangun pencitraan public, adi gegehta terbatas. 
Artinya, menggeser pencitraan sektoral kearah pencitraan public yang mengandung 
daya magnet. 
Tambah tolena kerna milis enda, i jenda mbue ilmu. Baik yang bersifat 
informasi/benturan informasi, atau gagasan yang muncul melalui 
benturan-benturan kajian.  Ini semua merupakan kekayaan yang hampir tidak 
ditemukan di bangku pendidikan formal. Emaka man kam turang/senina, 
senioren-senioren kami, bicara bagi si nelpekki gia megati kesanna ngaloi 
gugus-gagasndu, semoga enjoy saja lah kita.
 
Salam hangat man banta,
 
MJS 
 
 
--- On Tue, 2/17/09, heri soerbakti <heri_1...@yahoo. com> wrote:
 
From: heri soerbakti <heri_1...@yahoo. com>
Subject: [tanahkaro] Mohon Doa, dukungan, Kritikan dan Saran
To: tanahk...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, February 17, 2009, 12:07 PM
 
 
Mejuah-juah! !
Saya Heri Lesmana Surbakti, mohon doa,dukungan, kritikan dan saran dari Seluruh 
warga komunitas Karo pada pemilihan Legislatif  9 April 2009 untuk mewakili 
daerah kelahiran saya, Kabupaten Langkat dan Kota Binjai dari PDI Perjuangan 
untuk DPRD I Sumatera utara ( SumUt XI).Kritikan dan Saran dapat dikirim ke 
email saya di heri_1...@yahoo. com. Bujur ras mejuah-juah Kita kerina
Tertanda,
Heri lesmana Surbakti
 
--
 


      ___________________________________________________
Sök efter kärleken!
Hitta din tvillingsjäl på Yahoo! Dejting: 
http://ad.doubleclick.net/clk;185753627;24584539;x?http://se.meetic.yahoo.net/index.php?mtcmk=148783

Kirim email ke