Kamis, 19/02/2009 13:50 WIB 

Dari Mana Duit untuk Iklan Politik? 
Andrian Sulistyono – detikPemilu
 
Jakarta - Pada Pemilu 2004 total biaya iklan politik mencapai Rp 400 miliar.. 
Nielsen Media Indonesia mencatat biaya iklan pemerintahan dan politik tahun 
2008 telah mencapai Rp 2,208 triliun, atau naik 66 persen dibandingkan dengan 
tahun 2007 yang hanya Rp 1,327 triliun. 
Rizal Subiakto, CEO Hotline Advertising mengakui bahwa ketika menangani 
kampanye SBY-JK pada pemilu 2004, dia menghabiskan dana sekitar Rp 30 miliar. 
Sementara kampanye pasangan cagub DKI Fauzi Bowo menghabiskan dana sekitar Rp 
20 miliar. 
Majalah Fortune memperkirakan total dana kampanye untuk pemilu di Amerika 
mencapai USD 3 miliar. Oleh karenanya agak tepat apa yang dikatakan seorang 
konsultan politik Indonesia, Rizal Malarangeng di Jawa Pos, "Demokrasi memang 
mahal, bung!". 
Pengamat politik asal Universitas Gadjah Mada, Purwo Santoso, mengatakan, 
"Secara struktural iklan merupakan konsekuensi atau kebutuhan dari parpol, 
tetapi biayanya tidak harus dalam bentuk gelontoran uang miliaran rupiah. Tapi 
cukup dengan kerja-kerja konkret membantu masyarakat sebagai calon konstituen 
mereka." Dia menambahkan, jika memang parpol telah maksimal melaksanakan 
kerja-kerja sosial itu, seharusnya mereka tidak perlu khawatir kehilangan 
simpati masyarakat, dan tidak lagi membuat iklan yang banyak menelan biaya. 
Untuk biaya iklan di televisi, seorang Sutrisno Bachir menurut kabar 
menghabiskan sekitar Rp 15 milyar setiap bulannya. Untuk daerah Jakarta, satu 
spot di televisi berdurasi 30 detik, paling murah Rp 20 juta. Untuk talk show 
selama satu jam seorang politisi minimal harus mengeluarkan Rp 1,5 miliar. 
Menurut Associate Media Director Hotline Advertising Zainul Muhtadin bahwa pada 
pemilu 2004 biaya iklan kampanye Rp 60-100 miliar per calon, tetapi saat ini 
minimal setiap calon harus menyiapkan Rp 100 miliar.Televisi masih akan menjadi 
pilihan utama penempatan iklan kampanye, sekitar 90 persen target audiens bisa 
di-cover oleh televisi.
Biaya ratusan milyar rupiah habis dalam beberapa bulan saja. Jadi bayangkan 
dalam 1 tahun berapa baiaya yang dikeluarkan oleh seorang calon pemimpin di 
negeri ini, dan berapa biaya yang dikeluarkan oleh beberapa orang calon, 
misalnya 5 orang calon. Lebih dari Rp 1 trilyun!
Iklan juga disinyalir banyak yang dibiayai oleh uang panas, seperti dari hasil 
pencucian uang atau sumbangan pengusaha hitam. Sebab, keadaan ini akan membuat 
kandidat yang mengiklankan diri itu, jika terpilih, akan lebih mengabdi kepada 
kepentingan pengusaha hitam yang menyumbangnya dibandingkan dengan rakyat. 
Ironisnya, data minimal tentang sumber dana untuk iklan dan berapa besarnya ini 
masih termasuk data yang sulit dicari. Pengamat politik Indria Samego juga 
mempertanyakan transparansi dana dari parpol yang beriklan, yang menurutnya, 
sangat rentan dengan praktik penyelewengan. Penyelewengan ini juga akan sangat 
rentan sekali ketika pemilik televisi atau media massa menjadi partisan atau 
pengurus sebuah parpol.

*) Andrian Sulistyono, Jakarta Selatan, [email protected]
( asy / asy ) 

(dipendekkan), lengkapnya di: 
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/02/19/135036/1087398/704/dari-mana-duit-untuk-iklan-politik


      __________________________________________________________
Låna pengar utan säkerhet. Jämför vilkor online hos Kelkoo.
http://www.kelkoo.se/c-100390123-lan-utan-sakerhet.html?partnerId=96915014

Kirim email ke