Dunia memang makin tua, rasionalitas sudah hilang. Anak SD mengobati pake
comberan, eleh-eleh jamane wes edan.
Martin L Peranginangin
www.ruangsuara.blogspot.com
Fenomena dukun cilik Ponari yang dipercaya banyak
orang bisa menyembuhkan berbagai penyakit melalui batu ajaibnya
dinilai Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai bentuk protes
masyarakat sekaligus bukti bahwa negara masih gagal soal pelayanan
kesehatan umum.
"Kami sejak awal telah mengingatkan orang tua, jangan ada eksploitasi
anak. Ponari tidak ada waktu lagi untuk dirinya sebagai anak normal.
Ini berbahaya. Masyarakat juga sudah sangat tidak rasional, air
comberan yang najis dari hukum agama dianggap obat. Inilah protes
masyarakat bahwa pelayanan kesehatan ini buruk," kata Sekretaris
Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist M Sirait, di
Denpasar, Selasa.
Sirait menyatakan, kepentingan komisi nasional itu sebetulnya karena
sudah terjadi perampasan hak hidup anak. "Namun tidak bisa dipisahkan
begitu saja dengan berbagai fenomena lain yang terjadi selain fenomena
perampasan hak hidup anak itu," katanya.
Pelayanan kesehatan masyarakat oleh negara, katanya, telah menyebabkan
banyak anggota masyarakat yang merasa frustrasi karena sulit diakses
dan dianggap mahal di tengah kesulitan ekonomi masa kini.
"Akibatnya mudah saja, begitu ada yang menawarkan penyembuhan dari
cara alternatif, sejak itulah minat pelayanan kesehatan masyarakat
membludak. Ini bisa juga dilihat dari sisi religi. Jombang itu basis
satu agama besar di dunia, tetapi kenapa masyarakatnya bisa begitu?
Ini pasti ada yang salah dalam kehidupan kita," katanya.
Kenyataan Ponari itu, katanya, harus didekati dari berbagai sisi
pendekatan yang saling terkait.
Komisi Nasional Perlindungan Anak tetap akan berjuang agar Ponari yang
masih usia SD itu bisa menjalankan hidupnya sebagai anak secara normal
dan sepatutnya. (kompas)