Jembatan Tigapancur Berusia 120 Tahun di Karo Dikhawatirkan Ambruk
Maret 5th, 2009
Tanah Karo (SIB)
Jembatan Tigapancur yang berada di jalan kabupaten menghubungkan empat
kecamatan yaitu, Kecamatan Simpang Empat, Payung, Tiganderket dan Kecamatan
Kutabuluh, dikhawatirkan ambruk.
Jembatan yang dibangun kolonial Belanda sekitar 1889 itu juga merupakan sarana
vital dan alternatif ke Kecamatan Tigabinanga, Juhar, Laubaleng dan Mardinding
(Singalor Lau) saat jembatan Kandibata yang di bawahnya mengalir sungai Lau
Biang Kecamatan Kabanjahe pernah dirusak oleh Belanda ketika tentara Jepang
datang menyerang Belanda ke Tanah Karo tahun 1942.
Bere S Pandia (72) salah seorang tokoh masyarakat kelahiran Desa Payung
Kecamatan Payung, yang juga mantan guru sejarah kepada wartawan di Kabanjahe,
Selasa (3/3) menjelaskan jembatan Tigapancur itulah satu-satunya jembatan
menuju Singalor Lau baik dari Kabanjahe maupun dari Berastagi melalui Jembatan
Kite Buah (antara Desa Batukarang Kecamatan Payung dengan Desa Singgamanik
Kecamatan Munthe).
Jembatan yang sudah berusia 120 tahun dengan lebar 4 meter dan panjang 10 meter
itu sepertinya belum pernah mendapat perbaikan yang memadai. Badan jembatan
maupun dindingnya sudah tidak layak lagi. Diujung kedua jembatan tersebut besi
bulat sebagai dinding jembatan sudah hilang dicopot oleh orang yang tidak
bertanggungjawab, sehingga jembatan itu sangat rawan bagi pengendara apalagi
bagi yang melintas di malam hari.
Ditambahkan Pandia, ditinjau dari sejarah perjuangan pada agresi Militer
Belanda II, jembatan Tigapancur itu sulit ditembus oleh Belanda menuju Karo
Utara (Kecamatan Simpang Empat, Payung, Tiganderket dan Kutabuluh) karena
benteng ke tiga ke satuan (Barisan Harimau Liar pimpinan Mayor Payung Bangun
dari Desa Batukarang, Mayor Selamat Ginting pimpinan Napindo Halilintar
kelahiran Desa Kuta Bangun dan Mayor Djamin Ginting kelahiran Desa Suka
pimpinan Tentara Keamanan Rakyat).
Laskar pimpinan ketiga tokoh pejuang itu bahu-membahu dengan masyarakat Karo
Utara yang sekaligus meruntuhkan Jembatan Kite Kambing (antara Desa
Payung-Perbaji) mengakibatkan akomodasi tentara Belanda yang ada di Kutabuluh
harus didrop melalui pesawat Capung dari Kabanjahe, terang mantan guru itu,
sembari terharu melihat kondisi Jembatan Tigapancur yang mempunyai sejarah
tersendiri namun sepertinya terabaikan oleh Pemkab Karo.
K.Bangun (72) yang dikenal dengan sebutan Pa Kacamata di Desa Batukarang yang
juga desa kelahiran Pahlawan Nasional Kiras Bangun, merasa yakin setiap APBD
Karo disahkan oleh DPRD ada dana perawatan jalan dan jembatan. "Namun melihat
kondisi jembatan tersebut yang terancam ambruk itu dikemanakan anggaran yang
rutin setiap tahun itu," ujar Bangun bertanya.
Secara terpisah Sudarto Sitepu anggota DPRD Karo mengatakan, Pemkab Karo
hendaknya memperhatikan skala prioritas sektor pembangunan yang mana yang
diutamakan. Sebab selama ini, Bupati Karo lebih mengutamakan pembangunan di
Kota Kabanjahe dan Berastagi saja termasuk pembangunan kantor Bupati Karo yang
megah itu, konon ditambah lagi pembangunan Landscape Rp.1,5 Miliar ke DPRD Karo
dalam R-APBD Karo tahun anggaran 2009.(M-30/g)
___________________________________________________
Sök efter kärleken!
Hitta din tvillingsjäl på Yahoo! Dejting:
http://ad.doubleclick.net/clk;185753627;24584539;x?http://se.meetic.yahoo.net/index.php?mtcmk=148783